Rengginang Moro Seneng di Mojokerto tergolong legendaris karena diproduksi sejak 48 tahun silam. Tidak hanya itu, camilan tradisional berbahan beras ketan ini menembus mancanegara.
Pemilik Rengginang Moro Seneng, Muhammad Bagus Dwi (32) menuturkan, asin udang satu-satunya varian yang sanggup menembus pasar luar negeri. Produknya diekspor ke Hong Kong sejak 5 tahun lalu.
Pesanan untuk ekspor ke Hong Kong rata-rata mencapai 1.500 bungkus kemasan 250 gram per bulan. Sejak bulan lalu, pesanan untuk ekspor juga datang dari Malaysia. Namun, jumlahnya baru 100 bungkus kemasan 200 gram. Total omzet ekspornya rata-rata Rp 5 juta/bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Produk ekspor itu biasa ia kerjakan bersama enam karyawannya hanya dalam 4 hari. Kebutuhan beras ketan 400 kilogram untuk Hong Kong dan 20 kilogram untuk Malaysia. Mutu produk rengginang asin udang untuk ekspor dibuat sama dengan pasar lokal.
"Menjelang Lebaran alhamdulillah meningkat. Ekspor ke Hong Kong kirim 2 kali selama Ramadan (Total 3.000 bungkus), Malaysia 1 kali," jelasnya kepada wartawan di tempat usahanya, Sawahan Gang 3, Kelurahan Sawahan, Mojosari, Mojokerto, Sabtu (7/3/2026).
Suami Rina ini menjadi generasi ketiga yang mengelola Rengginang Moro Seneng. Camilan tradisional ini tergolong legendaris karena diproduksi sejak 1978 silam. Kakek dan nenek Bagus, Makasau dan Kasiatun menjadi perintisnya.
Roda bisnis kemudian dijalankan orang tua Bagus, Nur Kholis dan Umi Mufidah. Mereka mampu menakhodai bisnis camilan jadul ini mengarungi badai krisis moneter 1998. Begitu pula dengan Bagus yang mampu membuat Rengginang Moro Seneng bertahan melewati Pandemi COVID 19.
"Awal produksi zaman kakek dan nenek saya, rengginang yang lebar, disusun 10, rasa bawang, terasi, masih original dari leluhur," terangnya.
Bapak anak satu ini mengelola Rengginang Moro Seneng sejak 2020. Varian baru pun diproduksi untuk menyesuaikan selera konsumen. Tidak hanya rengginang asin udang dan manis jahe, ia juga memproduksi pop rice berbahan beras ketan dengan 7 varian rasa.
Yaitu rasa original, balado, pedas manis, jagung bakar, keju, sapi panggang dan barbeku. Setiap harinya ia memasak 100 kilogram beras ketan menjadi 120 kilogram rengginang siap santap. Khusus varian asin udang dan manis jahe, Bagus menggunakan bahan segar dan aneka rempah. Sedangkan pop rice memakai perisai rasa atau flavouring.
Menjelang Hari Raya Idul Firtri, omzet penjualannya naik 70% dari rata-rata omzet bulan biasa Rp 15 juta, baik pasar lokal maupun ekspor. Harga rengginan Moro Seneng beragam tergantung kemasan. Rengginang kemasan 200 gram Rp 9.000, kemasan 1 Kg Rp 45.000, rengginang mentah kemasan 500 gram Rp 20.000, sedangkan pop rice Rp 10.000 isi 100 gram.
"Alhamdulillah penjualan ke kota-kota besar di Jatim, seperti Surabaya, Malang, Madiun, Magetan, Sidoarjo, Gresik dan Mojokerto juga," tandasnya.
(auh/hil)
