Perajin Tempe Sidoarjo Kebanjiran Order Jelang Lebaran Kupatan

Perajin Tempe Sidoarjo Kebanjiran Order Jelang Lebaran Kupatan

Suparno - detikJatim
Minggu, 29 Mar 2026 08:00 WIB
Perajin Tempe Kebanjiran Order Jelang Lebaran Kupatan
Perajin Tempe Kebanjiran Order Jelang Lebaran Kupatan (Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Permintaan tempe melonjak tajam menjelang Hari Raya Idul Fitri hingga perayaan Lebaran Ketupat atau kupatan yang digelar sepekan setelah Lebaran. Kondisi ini membuat para perajin tempe di yang berjualan di Pasar Tradisional di Sidoarjo kebanjiran pesanan dan meningkatkan kapasitas produksi mereka.

Salah satu perajin tempe, Luqman (52), mengaku lonjakan permintaan sudah terasa sejak empat hari sebelum Lebaran. Bahkan, saat momen kupatan, kebutuhan tempe meningkat drastis karena menjadi salah satu menu utama pendamping ketupat.

"Kalau hari biasa itu paling habis sekitar 60 sampai 80 kilogram kedelai per hari. Tapi kalau pas Lebaran sama kupatan bisa sampai 1,5 kuintal," kata Luqman saat ditemui detikJatim di pasar Porong, Minggu (29/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, tempe menjadi lauk favorit masyarakat selain opor ayam saat tradisi makan bersama keluarga. Hal ini membuat permintaan terus meningkat dan stok harus ditambah.

Tak hanya itu, waktu penjualan pun menjadi lebih singkat karena tingginya permintaan. Biasanya tempe yang dijual mulai pagi hari langsung ludes dalam hitungan jam.

ADVERTISEMENT

"Mulai jual jam 06.00, biasanya jam 08.00 itu sudah habis. Paling lama jam 09.00 sudah nggak ada," ujarnya.

Hal senada disampaikan perajin lainnya, Ibnu (38). Ia mengatakan untuk memenuhi kebutuhan pasar, produksi tempe basah bahkan ditingkatkan hingga dua kali lipat saat momen Lebaran Ketupat.

"Produksi kita naik dua kali lipat. Soalnya permintaan memang tinggi, apalagi banyak yang kumpul keluarga dan makan bareng," jelas Ibnu.

Namun di balik meningkatnya omzet, para perajin juga dihadapkan pada kenaikan harga bahan baku kedelai. Luqman menyebut harga kedelai mengalami kenaikan dari Rp 9.750 per kilogram sebelum Lebaran menjadi Rp 10.500 setelahnya.

Meski demikian, para perajin memilih tidak menaikkan harga tempe secara signifikan demi menjaga pelanggan tetap setia.

"Naik sedikit mungkin iya, tapi nggak bisa banyak. Kalau terlalu mahal nanti pelanggan lari. Yang penting sama-sama jalan, sama-sama untung," pungkasnya.

Dewi (32) salah satu pembeli tempe mengaku bahwa hari ini dirinya membeli tempe cukup banyak, rencana akan dijadikan lauk pendamping lontong dan kupat.

"Alhamdulillah hari ini kami akan merayakan lebaran kupatan bersama keluarga, makan bareng bersama keluarga dengan menu lontong dan kupat merupakan tradisi leluhur," kata Dewi.

Tradisi Lebaran Ketupat yang identik dengan sajian ketupat dan lauk pendamping seperti tempe menjadi berkah tersendiri bagi para perajin.

Lonjakan permintaan ini pun rutin terjadi setiap tahun dan menjadi momentum peningkatan pendapatan bagi pelaku usaha kecil.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads