Harga Minyak Dunia Ngamuk Dampak Konflik Timur Tengah Makin Panas

Kabar Finance

Harga Minyak Dunia Ngamuk Dampak Konflik Timur Tengah Makin Panas

Retno Ayuningrum - detikJatim
Senin, 30 Mar 2026 10:15 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia dan nilai tukar Dolar Amerika Serikat melonjak
Ilustrasi harga minyak dunia dan nilai tukar Dolar Amerika Serikat melonjak/Foto: Edi Wahyono
Surabaya -

Lonjakan tajam harga minyak mentah dunia kembali terjadi di awal pekan. Gejolak geopolitik di Timur Tengah yang kian meluas menjadi pemicu utama, memicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global.

Situasi memanas tak hanya berdampak pada jalur distribusi minyak, tetapi juga memicu rekor kenaikan harga yang bahkan melampaui krisis energi pada masa lalu.

Melansir Reuters, harga minyak mentah jenis Brent melonjak US$ 3,09 atau 2,74% ke level US$ 115,66 per barel. Kenaikan ini melanjutkan tren penguatan pada Jumat pekan lalu yang ditutup melesat 4,2%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami kenaikan sebesar US$ 2,92 atau 2,93% ke posisi US$ 102,56 per barel.

ADVERTISEMENT

Sepanjang bulan ini, lonjakan harga minyak tercatat sangat signifikan. Harga minyak Brent telah naik hingga 59% hanya dalam satu bulan. Angka ini menjadi kenaikan bulanan tertajam sepanjang sejarah, bahkan melampaui gejolak saat Perang Teluk tahun 1990.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh meluasnya konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran hingga berdampak pada penutupan Selat Hormuz. Jalur strategis ini dikenal sebagai jalur distribusi bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Houthi dari Yaman melancarkan serangan perdana ke Israel pada akhir pekan lalu. Serangan tersebut menandai eskalasi baru dalam konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Dampak dari konflik ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di kawasan Semenanjung Arab dan Laut Merah, yang merupakan jalur vital perdagangan energi global.

"Konflik tidak lagi terkonsentrasi di Teluk Persia, tetapi sekarang meluas ke Laut Merah dan Bab el-Mandeb. Ini adalah titik jalur pelayaran paling krusial di dunia," tulis Analis JP Morgan, Natasha Kaneva.

Berdasarkan data firma analitik Kpler, Arab Saudi mulai mengalihkan ekspor minyak dari Selat Hormuz ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah dengan volume mencapai 4,6 juta barel per hari. Namun, jika jalur tersebut ikut terganggu akibat meningkatnya serangan, Arab Saudi diperkirakan harus mengalihkan distribusi melalui jalur pipa di Mesir menuju Laut Mediterania (SUMED).

Meski upaya gencatan senjata sempat diupayakan, intensitas serangan justru meningkat pada akhir pekan lalu. Bahkan, serangan dilaporkan telah merusak terminal Salalah di Oman.

Di sisi lain, Iran menyatakan kesiapan untuk melakukan balasan jika terjadi serangan darat dari Amerika Serikat. Iran juga menuduh AS tengah mempersiapkan serangan tersebut, meski pihak AS mengklaim masih mengedepankan jalur negosiasi.

Berita ini sudah tayang di detikFinance, baca berita selengkapnya di sini!




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads