Yulianto, seorang eks karyawan warga Desa Tulangan, Sidoarjo berhasil menyulap lahan kritis yang tidak produktif menjadi kebun kelengkeng. Upayanya ini ternyata menghasilkan omzet ratusan juta rupiah setiap kali panen.
Dia mengaku mulai menekuni budidaya kelengkeng sejak 2017 dengan cara belajar secara otodidak melalui media sosial. Termasuk mempelajari teknik dari petani di Thailand dan Vietnam.
"Awalnya saya coba-coba belajar sendiri dari internet dan lihat cara petani luar negeri. Dari situ saya yakin bisa mengembangkan di sini," ujar Yulianto saat ditemui detikJatim di kebunnya, Sabtu (4/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di lahan seluas sekitar 1,5 hektare, kini Yulianto menanam sekitar 300 pohon kelengkeng varietas unggulan New Kristal. Hasilnya pun tak main-main, setiap pohon mampu menghasilkan hingga ratusan kilogram buah dalam sekali panen.
"Kalau kondisi normal, satu pohon usia 7 tahun bisa sampai 200 kilogram. Setelah panen kita istirahatkan sekitar 3 bulan, lalu bisa dibuahkan lagi," jelasnya.
Menariknya, Yulianto menerapkan teknik khusus atau booster agar tanaman kelengkeng bisa berbuah sepanjang tahun. Dengan cara ini, produksi tidak lagi bergantung pada musim.
Harga jual kelengkeng di tingkat petani berkisar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Namun Yulianto memilih jalur berbeda dengan tidak menjual ke toko buah atau distributor besar.
"Saya sengaja tidak jual ke toko buah. Kalau omset puluhan juta bahkan bisa mencapai ratusan juta," imbuh Yulianto
"Misi saya lebih ke edukasi masyarakat, supaya tahu kalau kelengkeng itu banyak varietasnya dan tidak semua sama," katanya.
Selain menjual buah, Yulianto juga mengembangkan usaha pembibitan kelengkeng yang kini dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.
Tak hanya itu, kebunnya juga mulai dikembangkan menjadi destinasi agrowisata berbasis edukasi. Pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari anak TK hingga mahasiswa, datang untuk belajar sekaligus merasakan pengalaman memetik buah langsung dari pohon.
"Kita arahkan ke wisata edukasi. Banyak yang datang ke sini, bahkan pejabat daerah juga pernah berkunjung untuk belajar dan petik buah," ujarnya.
Untuk menjaga kualitas tanaman, pengunjung yang ingin memetik buah diwajibkan didampingi.
"Kalau petik sendiri banyak yang rusak, jadi harus didampingi," imbuhnya.
Ke depan, Yulianto berencana memperluas konsep agrowisata dengan menambah komoditas lain seperti melon dan kolam ikan.
Perjalanan Yulianto merintis kebun kelengkeng ini tidak selalu mulus. Ia sempat diremehkan warga sekitar karena menanam di lahan yang dianggap tidak subur.
"Dulu dibilang gila, karena ada yang tanam 25 tahun tidak berbuah. Tapi saya yakin dengan teknik yang benar," kenangnya.
Kini, kerja kerasnya membuahkan hasil. Kebun kelengkeng miliknya tak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran pertanian bagi masyarakat luas.
(irb/dpe)
