Desa Songgon, Kecamatan Songgon, Banyuwangi menjadi salah satu sentra durian terbesar di Jawa Timur. Sepanjang tahun 2025, produksi durian di wilayah ini mencapai 3.716 ton dari lahan seluas 94,8 hektare.
Ribuan ton durian tersebut terdiri dari berbagai varietas unggulan lokal dengan cita rasa khas yang telah dikenal luas. Beberapa di antaranya seperti durian pelangi, durian merah, hingga durian kuning.
Capaian produksi tersebut terungkap dalam Festival Durian Songgon yang digelar selama dua hari, pada 4-5 Maret 2026. Festival tahunan ini menjadi ajang promosi potensi lokal sekaligus menarik minat wisatawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini patut kita apresiasi bagaimana desa berinisiasi mengangkat potensinya lewat cara kreatif seperti festival durian ini," kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Selasa (7/4/2026).
Festival tersebut terselenggara atas inisiasi pemerintah desa, BUMDes, serta pemuda karang taruna setempat. Beragam kegiatan digelar, mulai dari kontes durian, bazar, sarasehan pengembangan durian, hingga makan durian sepuasnya.
"Ini merupakan bentuk inovasi sekaligus kreatifitas yang membanggakan dan patut diteladani oleh desa-desa lainnya dalam upaya mempromosikan potensi lokal masing-masing," kata Ipuk.
Dalam kesempatan itu, Ipuk juga mencicipi langsung durian lokal Songgon yang memiliki warna merah dan oranye, hasil panen dari kebun warga setempat.
Sebelumnya, durian merah Banyuwangi telah resmi ditetapkan sebagai produk bersertifikat Indikasi Geografis (IG) oleh Kementerian Hukum melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Direktorat Merek dan Indikasi Geografis. Durian merah Banyuwangi menjadi durian merah pertama sekaligus satu-satunya di Indonesia yang mendapat perlindungan negara.
Kepala Desa Songgon M. Qodari mengatakan festival digelar bertepatan dengan masa panen raya durian.
"Saat ini kami sedang panen raya. Produksi panen pada tahun ini menurun sedikit, sekitar 70 persen dari tahun lalu karena faktor cuaca. Untuk durian asli Songgon masih bisa dijumpai sampai akhir April, setelahnya mungkin sudah banyak berkurang karena masa panennya akan habis," ujar M. Qodari.
Festival juga dimeriahkan dengan kontes durian yang diikuti 42 peserta dalam dua kategori, yakni durian lokal premium dan durian warna.
Salah satu pemenang kontes, Artoni, warga Desa Songgon, menamai duriannya "Srengege Wetan" karena warna dagingnya menyerupai matahari terbit. "Rasanya manis pulen sedikit ada gurih pahitnya. Untuk dagingnya lumayan tebal," kata Artoni.
Selain itu, kegiatan makan durian sepuasnya juga menjadi daya tarik tersendiri. Ratusan durian lokal disiapkan untuk peserta yang telah mendaftar.
Salah satunya Akbar, warga Banyuwangi yang sengaja datang untuk menikmati durian khas Songgon.
"Saya sengaja ke sini untuk ikut makan durian, cukup bayar Rp 100 ribu boleh makan sepuasnya berapapun," pungkasnya.
(auh/hil)