Kenaikan harga kedelai akibat konflik di Timur Tengah dirasakan produsen tahu di Nganjuk. Salah satunya dialami Sumiatun (70), pemilik pabrik tahu rumahan di Lingkungan Mantup, Kelurahan Kramat, Kecamatan/Kabupaten Nganjuk.
Perempuan yang telah menggeluti usaha tahu sejak 1988 itu mengaku harga kedelai kini melonjak signifikan. Dari sebelumnya di kisaran Rp 8.000 sampai Rp 9.0000 per kilogram, kini menembus Rp 11.000 per kilogram.
"Naiknya sudah sejak awal bulan puasa kemarin," ujar Sumiatun kepada detikJatim, Selasa (7/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini membuat Sumiatun dilema. Di satu sisi kenaikan bahan baku ini membuat biaya produksi membengkak. Sementara ia juga belum berani menaikkan harga jual, karena akan diprotes pedagang.
Sumiatun sebenarnya telah mempertimbangkan kenaikan harga produksi di pabriknya, dari saat ini Rp 260 ribu menjadi Rp 270 ribu per masakan.
Namun, rencana itu masih ditahan lantaran khawatir memicu penolakan dari para pedagang.
"Belum berani naik. Takut nanti geger sama bakul," imbuhnya.
Satu masakan membutuhkan sekitar 18 kilogram kedelai dan menghasilkan kurang lebih 700 potong tahu. Dalam sehari, ia mampu memproduksi hingga 30 masakan.
"Ini ada pesanan rutin juga dari dapur MBG, 4 sampai 6 masakan per hari," ujarnya.
Meski beban produksi meningkat, Sumiatun memilih tidak mengurangi ukuran tahu demi menjaga kualitas. Konsekuensinya, margin keuntungan pun semakin menipis.
"Keuntungannya sekarang mepet, ya gimana lagi," ucapnya.
Ia juga mengungkapkan, sejumlah perajin tahu di wilayah lain seperti Desa Sumengko Sukomoro, Nglaban Loceret, hingga Kapas Sukomoro juga masih kompak menahan kenaikan harga. Mereka bahkan menunggu langkah dari Sumiatun sebagai acuan.
"Yang lain juga belum ada yang naik. Katanya nunggu saya dulu," katanya.
Distribusi tahu produksinya masih terbatas di wilayah Nganjuk melalui sistem penjualan keliling oleh para pengepul.
Sumiatun kini mempekerjakan 11 orang di pabrik tahunya. Produksi tetap berjalan seperti biasa di tengah tekanan biaya, mulai dari upah tukang dan kuli, bahan bakar solar, hingga rokok dan makan.
"Kalau (harga kedelai) masih naik terus, mungkin saya akan menaikkan harga dalam waktu dekat ini. Tapi untuk saat ini belum," pungkasnya.
(auh/hil)