Usaha ternak ayam sengkuni yang dilakoni Suprapto sukses besar. Padahal, awalnya warga Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel itu hanya memanfaatkan peluang usaha berbasis pekarangan.
Dari keterbatasan lahan itu membuat Suprapto memutar otak, ia kemudian memilih beternak ayam sengkuni yang lebih bagus dagingnya dibandingkan dengan ayam petelur.
"Dibanding ayam yang lain, jenis ayam Sengkuni, dimanfaatkan dagingnya, lebih gemuk dan dagingnya tidak alot," kata pria 65 tahun itu kepada detikJatim, Senin (25/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suprapto menuturkan, modal awal saat beternak ayam sengkuni hanya 2 jantan dan 6 betina. Namun dalam enam bulan saja, jumlahnya sudah mencapai ribuan ekor.
Menurut Suprapto, pesatnya jumlah ayam sengkuni karena secara perawatan lebih mudah. Ia memanfaatkan lahan terbatas di area belakang rumah untuk membangun kandang sederhana dengan ukuran sekitar 2 meter.
"Kebetulan kita di wilayah Wisata Telaga Ngebel. Ternyata bagus sekali pertumbuhannya," ujar Suprapto.
Sedangkan untuk perawatan, ia menyebut setiap harinya pakan dua kali, pagi dan sore. Ia juga menambahkan bahan alami seperti daun sirih dan kunyit ke dalam campuran pakan maupun minuman ternak sebagai upaya menjaga kondisi tubuh ayam tetap sehat.
"Perawatannya cukup sederhana. Yang penting rutin diberi pakan dan dijaga kebersihannya supaya tetap sehat," terangnya.
Sedangkan dari sisi produksi, Suprapto menyebut, ayam hasil persilangan ini memiliki masa panen relatif singkat, yakni sekitar dua hingga dua setengah bulan sudah bisa dipasarkan dengan omzet mencapai Rp 20 hingga 30 juta.
Untuk pemasarannya, ia mengaku tak perlu bingung. Sebab ternyata pemintaan daging ayam sengkuni cukup tinggi. Dalam satu bulan, Suprapto dapat menjual hingga sekitar seribu ekor ke pasar lokal.
"Harganya berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu per ekor menyesuaikan ukuran dan bobot,"tandas Suprapto.
(auh/abq)