Ekonomi Indonesia saat ini turut terdampak gejolak global. Namun, ada satu komoditas ekspor di Jawa Timur yang tahan akan ketidakpastian ekonomi global. Komoditas tersebut adalah perhiasan.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Erivina Lucky Kristian mengatakan ekspor perhiasan tidak terlalu terpengaruh.
"Paling tahan itu, saya kok melihat perhiasan, ya. Karena terbukti sampai hari ini perhiasan itu menjadi produk yang diminati nomor satu dari Jatim. Komoditi nomor satu untuk ekspornya," kata Lucky saat ditemui detikJatim di ruang kerjanya, Senin (29/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 10 komoditas ekspor non-migas terbesar di Jatim selama Januari-Maret 2026, nomor 1 adalah perhiasan dengan nilai USD 675,43 juta. Disusul lemak dan minyak hewan/nabati senilai USD 620,13 juta, tembaga senilai USD 592,93 juta, serta kayu dan barang dari kayu senilai USD 370,70 juta. Lalu ikan, krustasea, dan moluska senilai USD 282,74 juta.
Selanjutnya, bahan kimia organik senilai USD 282,74 juta, berbagai produk kimia senilai USD 270,73 juta, tembakau dan rokok USD 265,41 juta, olahan ikan, krustasea, dan moluska senilai USD 206,16 juta, dan kertas/karton senilai USD 203,32 juta.
"Menariknya, perhiasan kita, orang bilang kita penghasil emas, tapi impor kita atas bahan logam mulia juga sangat tinggi," ujarnya.
Lucky mengatakan, untuk perhiasan, Jawa Timur paling banyak ekspor ke Uni Emirat Arab. Namun karena kondisi konflik Timur Tengah, jumlahnya menjadi berkurang.
Kemudian Switzerland (Swiss) menjadi peminat tertinggi. Perhiasan atau emas Jawa Timur banyak digunakan, baik untuk tali jam atau perhiasan yang lain.
"Dan kita banyak perusahaan emas di Jatim. Ada King Halim, ada UBS, ada G24. Banyak kita itu, banyaklah. Jadi, mereka memasok ke berbagai negara itu," pungkasnya.
(abq/dpe)