Menkop Ferry Dorong Koperasi Masuk Industri Gula-Bidik Swasembada

Menkop Ferry Dorong Koperasi Masuk Industri Gula-Bidik Swasembada

Andhika Dwi - detikJatim
Sabtu, 06 Jun 2026 21:20 WIB
Menkop Ferry saat berkunjung ke Kediri.
Menkop Ferry (menunjuk) saat berkunjung ke Kediri. (Foto: Andhika Dwi/detikJatim)
Kediri -

Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menegaskan koperasi harus naik kelas dan menjadi pelaku utama dalam rantai industri gula nasional. Dia berharap koperasi tidak lagi sekadar menghimpun hasil panen petani.

Hal itu disampaikan Ferry saat menyaksikan penguatan kemitraan antara Koperasi Konsumen KANA Lautan Berkat, Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya Kediri, koperasi petani tebu, dan PT Indogula Jayabaya di Kabupaten Kediri.

Menurut Ferry, kemitraan antara petani, koperasi, dan industri menjadi kunci mempercepat target swasembada gula konsumsi yang ditetapkan pemerintah pada 2028.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sektor gula adalah komoditas strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, penguatan kemitraan antara petani, koperasi, dan industri harus terus diperluas," kata Ferry kepada detikJatim, Sabtu (6/6/2026).

Ia mengungkapkan produksi gula nasional hingga 2025 baru mencapai sekitar 2,67 juta ton, sementara kebutuhan nasional mencapai sekitar 9,1 juta ton per tahun. Kesenjangan tersebut menunjukkan masih besarnya peluang peningkatan produksi tebu dan gula dalam negeri.

ADVERTISEMENT

"Pemerintah telah menargetkan swasembada gula konsumsi pada tahun 2028. Untuk mencapainya diperlukan penguatan sektor hulu hingga hilir yang terintegrasi," ujarnya.

Ferry meminta koperasi yang terlibat dalam industri gula memperluas partisipasi petani tebu dan memprioritaskan tenaga kerja lokal agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung masyarakat sekitar.

"Semakin banyak petani yang terlibat dan semakin banyak warga sekitar yang bekerja, maka manfaat ekonominya akan kembali ke daerah. Ini akan meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekonomi rakyat," tegasnya.

Menurut Ferry, persoalan utama petani tebu saat ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga kepastian pasar, kepastian penyerapan hasil panen, dan keberlanjutan usaha. Dalam kondisi tersebut, koperasi memiliki posisi strategis sebagai offtaker yang menjamin penyerapan hasil panen sekaligus memperkuat posisi tawar petani.

Ia menilai model kerja sama yang dibangun Koperasi KANA bersama koperasi petani dan PT Indogula Jayabaya dapat menjadi contoh pengembangan koperasi modern yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri nasional.

"Ke depan koperasi tidak boleh hanya menjadi pengumpul hasil panen. Koperasi harus menjadi pelaku usaha yang mampu menciptakan nilai tambah bagi anggotanya," katanya.

Ferry bahkan mendorong koperasi masuk lebih jauh ke sektor pengolahan. Menurutnya, apabila koperasi mampu memproduksi gula konsumsi maupun gula merah, produk tersebut dapat dipasarkan melalui jaringan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang tengah dikembangkan pemerintah.

Tak hanya itu, koperasi juga didorong mengembangkan industri turunan berbasis tebu, termasuk produk pangan seperti kecap.

"Kita ingin membangun ekosistem petani tebu yang kuat. Produk gula bisa dijual melalui Koperasi Desa Merah Putih, kemudian berkembang ke industri turunannya. Koperasi harus menjadi badan usaha yang mampu bersaing dengan perusahaan swasta maupun BUMN sebagaimana arahan Presiden," ujar Ferry.

Untuk mendukung pengembangan usaha tersebut, Kementerian Koperasi melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) juga akan membuka akses pembiayaan bagi pengembangan bisnis Koperasi KANA.

Sementara itu, Ketua Koperasi Konsumen KANA Lautan Berkat, Jonathan Danang Wardhana, menyebut kerja sama dengan Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya Kediri menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi koperasi di sektor produksi dan distribusi gula.

"Ini momentum penting untuk menyatukan kekuatan petani dan koperasi. Kami ingin menunjukkan bahwa koperasi dapat menjadi pelaku utama dalam produksi, pengolahan, hingga distribusi," kata Jonathan.

Ia mengungkapkan pengembangan bisnis koperasi tersebut juga mendapat dukungan mitra internasional dari Swiss yang melihat potensi besar koperasi sektor riil di Indonesia.

"Kami mendapatkan kepercayaan dari mitra internasional yang melihat potensi koperasi Indonesia. Dukungan ini menjadi tambahan semangat untuk memperluas kapasitas usaha, membuka lapangan kerja, dan menghadirkan model bisnis koperasi yang profesional serta berdaya saing," ujarnya.

Ketua Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya Kediri, Desi Permatasari, menambahkan kerja sama tersebut menjadi langkah konkret membangun sinergi antara petani dan pelaku ekonomi guna meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendukung pertumbuhan industri gula nasional.

"Kami berharap kolaborasi ini mampu memberikan manfaat langsung bagi petani dan memperkuat kontribusi koperasi terhadap peningkatan produksi gula nasional," kata Desi.




(abq/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads