Peternak ayam petelur di Kabupaten Probolinggo mengaku resah akibat anjloknya harga telur ayam selama 2 bulan terakhir. Merosotnya harga telur ini berimbas pada sejumlah pekerja di peternakan yang dirumahkan.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Shulton Famimudin (31), peternak ayam petelur asal Dusun Krajan, Desa Leces, Kabupaten Probolinggo. Dia menyebutkan, harga telur di tingkat peternak saat ini hanya berkisar Rp21.000 hingga Rp22.000 per kilogram, sementara harga pakan ternak terus naik.
Imbasnya, aktivitas di peternakannya tidak lagi sesibuk beberapa bulan sebelumnya. Di tengah kondisi ini Shulton terpaksa merumahkan 4 dari 9 pekerja yang selama ini telah membantu operasional peternakannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain harga jual telur yang rendah, biaya produksi juga semakin tinggi karena kenaikan harga pakan konsentrat yang sebagian bahan bakunya masih bergantung pada impor.
"Sekarang harga telur dari peternak sekitar Rp23.000 per kilogram, sementara harga pokok produksi kami cukup tinggi karena harga pakan terus naik. Ada beberapa bahan yang masih impor dan terdampak kurs dolar. Idealnya, dengan harga pakan seperti sekarang, harga telur berada di kisaran Rp26.500 hingga Rp27.000 per kilogram agar peternak bisa lebih nyaman," ujar Shulton, Selasa (9/6/2026).
Saat ini Shulton hanya memelihara sekitar 6.000 ekor ayam petelur. Jumlah itu jauh menurun dibandingkan sebelumnya yang mencapai 15.000 ekor. Ia pun memilih mengurangi populasi ayam karena tidak berani mengambil risiko membeli bibit baru di tengah mahalnya harga pakan dan rendahnya harga telur.
Dari 6.000 ekor ayam yang dimiliki, produksi telur rata-rata mencapai 3 kuintal per hari. Dengan harga jual sekitar Rp22.000 per kilogram, pendapatan kotor yang diperoleh hanya sekitar Rp6 juta sementara biaya produksi yang meliputi pakan, listrik, dan tenaga kerja mencapai sekitar Rp5 juta.
Kondisi keuangan peternak semakin tertekan karena masih harus menanggung kewajiban pembayaran pinjaman bank. Shulton mengaku sudah tiga bulan terakhir mengalami kesulitan memenuhi cicilan.
Menurutnya, anjloknya harga telur diduga dipicu oleh over populasi ayam petelur di berbagai daerah. Banyak perusahaan besar membangun kandang dengan kapasitas ratusan ribu ekor ayam sehingga pasokan telur melimpah di pasaran.
Meski demikian, Shulton mengapresiasi bantuan subsidi jagung dari pemerintah melalui Bulog yang sedikit membantu menekan biaya pakan. Jagung yang biasanya dibeli dengan harga sekitar Rp6.500 per kilogram kini bisa diperoleh dengan harga Rp5.450 per kilogram melalui program itu.
Para peternak berharap pemerintah bisa mengambil langkah untuk menstabilkan harga telur di tingkat peternak pada kisaran Rp26.000 hingga Rp27.000 per kilogram serta menekan harga pakan konsentrat agar usaha peternakan rakyat tetap bertahan.
(auh/dpe)