Kenaikan BBM Nonsubsidi-Tiket Pesawat Picu Inflasi Jatim Juni 2026

Kenaikan BBM Nonsubsidi-Tiket Pesawat Picu Inflasi Jatim Juni 2026

Aprilia Devi - detikJatim
Rabu, 01 Jul 2026 16:15 WIB
Ilustrasi pengisian BBM nonsubsidi Pertamina
Ilustrasi pengisian BBM nonsubsidi Pertamina (Foto: Aprilia Devi/detikJatim)
Surabaya -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,30% secara bulanan (month-to-month) pada Juni 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi bulanan nasional yang sebesar 0,44%.

Plt Kepala BPS Provinsi Jawa Timur Ir. Herum Fajarwati menyebut, ada sejumlah faktor yang mendorong inflasi pada Juni, mulai dari penyesuaian harga energi, meningkatnya mobilitas masyarakat saat libur sekolah, hingga dinamika harga pangan.

"Pada bulan Juni 2026 Provinsi Jawa Timur tercatat mengalami inflasi bulanan secara month to month sebesar 0,30%. Lebih rendah dari inflasi nasional yang tercatat 0,44%," ujar Herum saat konferensi pers, Rabu (1/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Herum, salah satu penyebab inflasi adalah penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh PT Pertamina (Persero).

"PT Pertamina (Persero) kembali melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Nonsubsidi yang berlaku mulai tanggal 10 Juni 2026," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Selain itu, masa libur sekolah juga turut mendorong kenaikan harga pada kelompok transportasi, khususnya angkutan udara.

"Masa libur sekolah mendorong peningkatan mobilitas masyarakat untuk berlibur maupun mengunjungi keluarga. Peningkatan permintaan terhadap penerbangan domestik menyebabkan harga tiket pesawat cenderung mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya," paparnya.

Di sisi lain, perkembangan harga pangan menunjukkan tren yang beragam. Sejumlah komoditas hortikultura mengalami penurunan harga seiring meningkatnya pasokan saat musim panen. Harga daging ayam ras dan telur ayam ras juga turun karena stok yang melimpah di tengah permintaan yang cenderung menurun.

"Beberapa komoditas masih mengalami kenaikan harga, antara lain bawang merah, beras, bawang putih, dan daging sapi. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan di beberapa daerah, penyesuaian harga di tingkat produsen, serta meningkatnya biaya distribusi," ungkap Herum.

Herum menyebut, secara kumulatif, inflasi Jawa Timur pada Juni 2026 terhadap Desember 2025 (y-to-d) mencapai 1,74%. Sementara inflasi tahunan (y-on-y) tercatat sebesar 3,36%.

Dari seluruh kabupaten/kota amatan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Timur, semuanya mengalami inflasi pada Juni 2026.

"Inflasi tertinggi terjadi di Kota Surabaya sebesar 0,46%, sedangkan yang terendah di Kabupaten Sumenep sebesar 0,01%," beber Herum.

Apabila dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia, seluruh provinsi juga tercatat mengalami inflasi pada Juni 2026.

Adapun kelompok yang menjadi penyumbang utama inflasi Jawa Timur adalah transportasi. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 2,45% dengan andil 0,31%, terutama dipicu kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara akibat penyesuaian harga BBM serta meningkatnya permintaan selama masa libur sekolah.

Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penahan laju inflasi. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,35% dengan andil negatif 0,11% akibat turunnya harga sejumlah komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, sawi hijau, telur ayam ras, udang basah, cabai merah, dan bayam.

Meski demikian, beberapa komoditas pangan masih mencatat kenaikan harga.

"Komoditas yang mengalami kenaikan harga diantaranya bawang merah, bawang putih, beras, daging sapi, dan wortel," pungkas Herum.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads