Pemprov Jatim melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menggelar Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata dalam rangka Pameran Kopi dan Ekonomi Kreatif. Kopi asal Jember menjadi salah satu primadona dalam acara ini.
"Ajang ini menjadi ruang pertemuan antara pelaku UMKM, pemerintah, serta masyarakat dalam memperkenalkan beragam produk unggulan berbasis ekonomi kreatif," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari di Surabaya, Rabu (1/7/2026).
Evy menyebut ada 20 tenant UMKM dari sejumlah wilayah di Jawa Timur yang menjual biji kopi termasuk berbagai olahan kopi. Berbagai produk lokal ditampilkan, mulai dari kopi khas Nusantara, cokelat, teh, makanan olahan, kebab, hingga aneka camilan yang menarik perhatian pengunjung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Evy mengatakan penyelenggaraan Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata merupakan salah satu bentuk komitmen Pemprov Jatim bersama DPRD dalam memperkuat sektor ekonomi kreatif.
Menurutnya, festival bukan sekadar menjadi ajang pameran, tetapi juga sarana membangun ekosistem yang mempertemukan pelaku usaha dengan pasar sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap potensi ekonomi kreatif yang dimiliki Jawa Timur.
"Festival ini diharapkan mampu meningkatkan interaksi antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, para pelaku industri kreatif memiliki kesempatan memperluas jejaring sekaligus memperkuat daya saing produk yang mereka hasilkan," ujarnya.
Ia menjelaskan, seluruh produk yang ditampilkan merupakan hasil inovasi pelaku usaha daerah yang memiliki potensi untuk berkembang lebih luas. Kehadiran festival diharapkan dapat memperkuat posisi produk lokal sebagai bagian penting dalam mendukung sektor pariwisata Jawa Timur.
Salah satu produk kopi yang laris dalam ajang ini ialah kopi khas Jember yakni robusta. Selain itu, kopi lokal unggulan Jember lainnya seperti kopi arabika hingga kopi madu gumitir cukup laris.
Evy mengakui terdapat tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha di antaranya adalah peningkatan kapasitas produksi, penguatan kualitas produk, hingga kemampuan bersaing di pasar nasional maupun internasional. Pengembangan sektor ekonomi kreatif harus dilakukan melalui kolaborasi berkelanjutan dengan pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media.
Menurutnya, sinergi tersebut menjadi kunci agar potensi besar yang dimiliki Jawa Timur mampu menciptakan lebih banyak peluang usaha sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru.
"Semoga kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga menjadi tonggak kemajuan industri kreatif di Jawa Timur," tuturnya.
Ia berharap Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata menjadi momentum untuk memperkuat semangat gotong royong seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekonomi kreatif yang semakin kompetitif.
"Dengan sinergi yang kuat, kita optimistis Jawa Timur mampu menjadi daerah yang maju, mandiri, berdaya saing global, sekaligus memperkokoh posisinya sebagai episentrum industri kreatif di Indonesia," pungkasnya.
Sementara itu, salah satu peserta festival, Bayu Prasetya, pemilik UMKM Kopi Desa dengan produk Nerscoff, memanfaatkan ajang tersebut untuk memperkenalkan kopi asli Indonesia kepada masyarakat.
Ia menjelaskan produknya berfokus pada penjualan biji kopi lokal dari berbagai daerah di Indonesia tanpa menggunakan bahan baku impor.
"Kami memperkenalkan produk biji kopi. Produk kami khusus biji kopi seluruh Indonesia. Tidak ada biji kopi dari luar negeri, semuanya lokal. Selain itu juga ada minuman kopi filter berbahan Arabika," ujarnya.
Bayu mengatakan hampir seluruh jenis kopi Nusantara tersedia di gerainya sehingga masyarakat memiliki banyak pilihan sesuai karakter rasa yang diinginkan.
(faa/abq)
