Jejak Sunan Ampel di Masjid Jami' Peneleh Surabaya

Jejak Sunan Ampel di Masjid Jami' Peneleh Surabaya

Muhammad Faishal Haq - detikJatim
Kamis, 15 Jan 2026 11:18 WIB
Menengok Aktivitas Masjid Jami Peneleh Saat Ramdan
Masjid Jami' Peneleh (Foto: Rifki/detikJatim)
Surabaya -

Masjid Jami' Peneleh di Surabaya bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi bisu perjalanan panjang sejarah Islam dan perjuangan kemerdekaan di Kota Pahlawan. Terletak di tengah permukiman padat Peneleh, masjid ini menyimpan atmosfer lawas yang kental, menghubungkan dakwah Sunan Ampel dengan semangat juang arek-arek Suroboyo.

Keberadaannya yang strategis menjadikan masjid ini salah satu destinasi wisata religi dan sejarah yang penting. Tidak hanya menawarkan keindahan arsitektur kuno yang terjaga, Masjid Jami' Peneleh juga memegang teguh tradisi keilmuan yang substansial di tengah maraknya perayaan seremonial modern.

Berikut rangkaian fakta menarik seputar sejarah, keunikan, dan kegiatan di Masjid Jami' Peneleh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Masjid Jami' Peneleh

Berdasarkan papan informasi sejarah di lokasi, Masjid Jami' Peneleh tercatat dibangun oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel pada tahun 1421 Masehi. Namun, pengurus masjid saat diwawancarai detikJatim mengakui bahwa sejarah pendirian ini lebih banyak berdasarkan gethok tular (tutur lisan) para sesepuh karena minimnya prasasti tertulis yang ditemukan.

ADVERTISEMENT

"Jadi umpama ada prasasti yang jelas itu, tidak ada. Jadi dari mulut ke mulut orang-orang sesepuh dulu," kata salah satu pengurus masjid kepada detikJatim, Kamis (15/1/2026).

Menurut cerita tutur yang dijaga pengurus, kawasan ini dulunya adalah arena sabung ayam. Sunan Ampel berdakwah di sini sebelum mendirikan Masjid Ampel, menggunakan metode unik untuk mendekati warga.

"Raden Rahmat saat itu bawa ayam sendiri. Pokoknya ayamnya Raden Rahmat ini bisa mengalahkan semua jago-jago. Beliau sampai mengajak mereka-mereka itu tobat, berhenti untuk sabung ayam," jelasnya.

Selain sejarah dakwah, masjid ini juga menjadi markas perjuangan. Pada tahun 1945, masjid ini pernah ditembak meriam Belanda dari arah Jembatan Merah. Ajaibnya, kubah masjid tidak hancur dan hanya mengalami kerusakan di sisi timur.

Keunikan Arsitektur Masjid

Bangunan Masjid Jami' Peneleh sarat akan simbol filosofis. Langit-langit masjid dihiasi kaligrafi empat nama sahabat Nabi Muhammad, sementara dindingnya dikelilingi 25 ventilasi dan 5 daun jendela yang berhiaskan aksara Arab nama-nama 25 Nabi.

Pengurus masjid juga menunjukkan keaslian struktur bangunan yang masih dipertahankan sebagai Cagar Budaya, termasuk atap yang menyerupai "perahu terbalik" dan tiang penyangga utama dari kayu jati utuh setinggi 10 meter.

"Kayunya kayu jati besar. Sampai sekarang nggak ada yang kena rayap. (Dulu ngangkutnya) Nggak ada trailer. Ini mungkin lewat lalu lintas air sungai depan itu," terangnya.

Kegiatan Masjid Jami' Peneleh

Berbeda dengan banyak masjid yang menggelar perayaan besar-besaran saat hari besar Islam seperti Isra' Mi'raj, Masjid Peneleh memilih pendekatan yang lebih substantif.

Pengurus masjid menegaskan bahwa mereka sudah lama meniadakan format ceramah seremonial besar yang mendatangkan penceramah luar dengan biaya tinggi. Alasannya cukup simpel namun sarat makna, yaitu efektivitas penyampaian ilmu.

"Sudah lama nggak (mengadakan), masalahnya biayanya besar, hasilnya guyonan tok (saja). Jadi kiainya ini senengannya guyon tok, jadi nggak ada manfaatnya, nggak ada ilmu yang dibawa," ungkap pengurus masjid.

Bagi pengurus, pengajian rutin dengan kitab kuning justru lebih bernilai. Kegiatan rutin yang diunggulkan antara lain kajian tafsir dan kitab Ihya Ulumuddin setelah salat Subuh. Metode ini dinilai lebih efektif bagi masyarakat kota dibandingkan acara seremonial yang hanya ramai sesaat.

"Lebih baik nanti setelah Subuh itu ada ilmu yang dibawa. Orang bisa nyimak melihat buku, ada tafsir tanpa terjemahan. Seperti kalau hari Senin itu Ihya Ulumuddin," tambahnya.

"Kalau pengajian yang seru, ramai-ramai, biayanya jutaan, setelah jemaah pulang paling oleh-olehnya 'lucu ya kiai-ne', (tapi) bingung nggak ada ilmu yang didapat," pungkasnya.

Meski demikian, masjid ini tetap merawat tradisi komunal yang guyub, seperti tradisi "muludan" (Maulid Nabi) di mana warga membawa nasi kuning dan tumpeng untuk dimakan bersama ratusan jemaah.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Inovasi Kemasan! ALLPACK Surabaya 2026 Hadirkan Teknologi Industri Terkini"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads