Misteri Makam Mbah Deler dan Lapangan Golf Tertua di Surabaya

Misteri Makam Mbah Deler dan Lapangan Golf Tertua di Surabaya

Fadya Majida Az-Zahra - detikJatim
Selasa, 27 Jan 2026 01:00 WIB
lapangan golf surabaya
Lapangan Golf Gunungsari. Foto: Deny Prastyo Utomo
Surabaya -

Di kawasan Gunung Sari, Surabaya, berdiri salah satu lapangan golf tertua di era Hindia Belanda. Tak jauh dari lokasi tersebut, terdapat sebuah makam tua yang dikenal masyarakat dengan sebutan makam Mbah Deler.

Keberadaan makam ini kerap memunculkan cerita unik, salah satunya anggapan bahwa Mbah Deler merupakan seorang pegolf sejati, lantaran di makamnya terdapat ornamen menyerupai piala perunggu yang hingga kini masih bisa dijumpai. Lantas, siapa sebenarnya sosok Mbah Deler?

Golf dan Makam Tua di Hole 18 Gunung Sari

Merujuk buku Soerabaia Tempo Doeloe, olahraga golf sejatinya telah dikenal sejak abad ke-15 di Skotlandia. Golf diperkirakan masuk ke Hindia Belanda sekitar tahun 1872 melalui orang-orang Inggris.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun aturan resmi permainan golf pertama kali disusun Royal and Ancient Golf Club of St Andrews, Skotlandia, pada 1754. Di Surabaya tempo dulu, olahraga ini berkembang pesat seiring berdirinya Golf Club Surabaya.

Lapangan golf tersebut berlokasi di kawasan Goenoengsariweg, atau yang kini dikenal sebagai Jalan Ahmad Yani, dan mulai beroperasi pada 1898. Lapangan ini dikenal sebagai Padang Golf A Yani (PGAY), dan disebut sebagai lapangan golf tertua di Jawa Timur.

ADVERTISEMENT
lapangan golf surabayaMakam Mbah Deler di Lapangan Golf Surabaya Foto: Deny Prastyo Utomo

Di area hole 18 lapangan golf tersebut, terdapat sebuah makam tua milik warga Belanda. Berdasarkan cerita yang berkembang di kalangan pengurus PGAY, makam tersebut diyakini milik tokoh Belanda yang berjasa membuka lahan di kawasan tersebut.

Nama yang pertama kali muncul dalam desas-desus adalah Van Deuller. Namun, karena pelafalan nama asing yang sulit bagi lidah lokal, masyarakat kemudian menyebutnya dengan nama Mbah Deler.

Gosip Pegolf Sejati hingga Cerita Kualat

Seiring waktu, muncul berbagai cerita rakyat yang menyebut Mbah Deler sebagai juru kunci lapangan golf sekaligus pegolf andal. Cerita ini semakin berkembang karena adanya ornamen piala di makam tersebut. Bahkan, sempat beredar mitos orang yang tidak menghormati makam Mbah Deler akan terkena kualat atau karma.

lapangan golf surabayaLapangan golf surabaya Foto: Deny Prastyo Utomo

Namun, cerita-cerita tersebut dinilai tidak memiliki dasar sejarah yang kuat. Ornamen berbentuk piala sejatinya merupakan hiasan yang lazim dijumpai di rumah-rumah bangsawan Belanda pada masa kolonial, bukan bukti bahwa pemilik makam merupakan atlet golf.

Fakta Sejarah tentang Mbah Deler

Penulis buku Oud Soerabaia, Von Faber, menyebutkan bahwa makam di Padang Golf Goenoengsari merupakan makam seorang pejabat tinggi Belanda bernama Fredrik Jacob Rothenbuhler. Ia bukan seorang pegolf, melainkan tokoh penting pemerintahan kolonial.

Von Faber mencatat Rothenbuhler pernah menjabat sebagai Residen Pekalongan dan sempat tinggal di Grahadi, yang dahulu dikenal sebagai Tuinhuis. Ia juga tercatat sebagai penanggung jawab wilayah timur Hindia Belanda serta memiliki pabrik mesiu di bawah Firma Rothenbuhler & Coy.

Selain itu, Rothenbuhler dikenal sebagai pengusaha sukses yang memiliki usaha sarang burung walet di Gresik, serta bisnis mutiara di kawasan Madura. Kesibukannya di dunia usaha disebut membuatnya lalai menjalankan tugas administratif pemerintahan.

Pada masa itu, Hindia Belanda berada di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811), sebelum kemudian dikuasai Inggris di bawah Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816).

Kelalaian Rothenbuhler disebut turut berkontribusi pada keberhasilan pasukan Inggris menembus Gresik dan masuk ke Surabaya, yang berujung pada kemarahan Daendels.

Asal-usul Nama Mbah Deler

Secara historis, nama resmi tokoh yang dimakamkan di kawasan Gunung Sari adalah Fredrik Jacob Rothenbuhler. Namun, masyarakat Jawa Timur lebih mengenalnya sebagai Mbah Deler atau Van Deuller, akibat kesulitan melafalkan nama asing serta penyederhanaan dialek lokal.

Rothenbuhler wafat pada 21 April 1836. Sementara itu, Padang Golf Goenoengsari baru dibuka pada 1898. Fakta ini menegaskan Rothenbuhler tidak pernah mengenal olahraga golf semasa hidupnya, apalagi menjadi pegolf sejati seperti yang berkembang dalam cerita rakyat.

Dengan demikian, kisah Mbah Deler lebih tepat dipahami sebagai bagian dari dinamika sejarah dan folklor lokal Surabaya, yang bercampur antara fakta kolonial dan cerita tutur masyarakat.

Artikel ini ditulis oleh Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di BeritaKlik.




(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads