Maraknya coffee shop membuat tidak sedikit GenZ menjadi penikmat kopi. Namun, ada dampak pada kesehatan yang mungkin bisa terjadi dan bisa memperparah kecemasan usai mengonsumsi kafein.
Dekan Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Dr Diah Sofiah SPsi MSi Psikolog menyoroti tren ngopi pada GenZ, terutama mahasiswa. Ia menilai kebiasaan ini sebagai mekanisme koping yang kurang tepat.
Ia melihat banyak mahasiswa datang ke kafe tidak hanya mencari kopi, tetapi juga perubahan suasana dan distraksi dari kecemasan. Kafe dipersepsikan sebagai third place, ruang netral setelah rumah dan kampus yang bisa memberikan ilusi kontrol dan rasa aman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun, pola ini sering menjadi bentuk penghindaran terhadap tugas akademik, sehingga justru memperburuk kecemasan," kata Diah, Selasa (27/1/2026).
Diah menjelaskan, di dalam perspektif psikologi klinis terdapat Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) mencatat kondisi caffeine intoxication dan caffeine withdrawal sebagai gangguan yang perlu diwaspadai.
Meski kafein tidak tergolong zat adiktif berat, bila mengonsumsi berlebihan tetap berpotensi memengaruhi kesehatan mental dan kualitas tidur.
"Saya berharap mahasiswa mampu memahami kecemasan secara ilmiah, mengenali pola perilaku yang tidak adaptif, serta mengembangkan strategi koping yang lebih sehat dan efektif dalam menghadapi tuntutan akademik maupun kehidupan sehari-hari," jelasnya.
Perasaan cemas berkaitan erat dengan rasa takut. Namun terdapat perbedaan antara kedua perasaan tersebut.
Rasa takut memiliki objek yang jelas, sedangkan kecemasan muncul terhadap sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak pasti. Ketidakjelasan inilah yang membuat kecemasan terasa lebih mengganggu secara psikologis.
"Kecemasan sebenarnya bentuk rasa takut, tetapi objeknya tidak spesifik. Justru karena tidak jelas, respons emosional menjadi lebih berat," ujarnya.
Berdasakan kajian psikologi, kecemasan terbagi menjadi dua jenis, yaitu state anxiety dan trait anxiety. State anxiety merupakan kecemasan situasional yang bersifat sementara, seperti menjelang presentasi atau pertemuan penting.
Sedangkan trait anxiety berkaitan dengan karakter kepribadian, ketika seseorang cenderung memandang lingkungan sebagai ancaman sehingga lebih sering mengalami kecemasan dalam berbagai kondisi.
"Kecemasan melibatkan tiga komponen utama, yakni kognitif, fisiologis, dan perilaku. Pada aspek kognitif, kecemasan ditandai oleh kekhawatiran berlebihan, pikiran obsesif, serta distorsi kognitif seperti catastrophizing, yaitu kecenderungan membayangkan skenario terburuk. Dari sisi fisiologis, tubuh merespons melalui jantung berdebar, keringat dingin, hingga ketegangan otot. Sementara pada aspek perilaku, individu cenderung melakukan penghindaran terhadap situasi yang dianggap memicu kecemasan," urainya.
Meski sering dipersepsikan negatif, kecemasan sebenarnya memiliki fungsi adaptif. Berdasarkan hukum Yerkes-Dodson, tingkat kecemasan moderat justru dapat meningkatkan fokus dan kewaspadaan. Sebaliknya, kecemasan yang terlalu rendah menurunkan motivasi, sedangkan kecemasan yang berlebihan berpotensi melumpuhkan performa.
"Konsep anxiety cycle atau siklus kecemasan ini diawali oleh pemicu, kemudian muncul respons cemas dan ketidaknyamanan fisik, yang berujung pada perilaku penghindaran. Penghindaran memang memberi kelegaan sesaat, tetapi dalam jangka panjang justru memperkuat kecemasan karena individu tidak memperoleh pengalaman bahwa situasi tersebut sebenarnya dapat dihadapi," pungkasnya.
(ihc/dpe)