Perkumpulan Hwie Tiauw Ka (Hakka) Surabaya terus menjalankan misi mulia yang digagas sejak 1820. Yakni menjalin persaudaraan, membangun kerja sama, mendorong kesejahteraan sosial, hingga mengembangkan industri setempat. Salah satu tradisi yang menarik adalah makan gratis.
Komunitas yang menghimpun perantau dari Guangzhou dan Zhaoqing ini sekarang dikelola secara fokus oleh pengurus dan anggota asal provinsi Guangdong Timur, yakni Huizhou, Chaozhou, dan Jiayingzhou.
Di bawah koordinasi 30 pengurus aktif dan lebih dari 600-700 anggota perkumpulan ini menerapkan sistem subsidi silang yang unik. Anggota membayar iuran bulanan dari Rp 25.000, Rp 50.000, Rp 100.000, maupun Rp 250.000.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dana itu digunakan kembali untuk komunitas, termasuk penyediaan makan siang gratis setiap hari Rabu dan Sabtu yang didukung para donatur yang namanya terpampang jelas di dinding aula. Secara internal, Hwie Tiauw Ka sangat inklusif.
"Makan siang gratis itu setiap hari Rabu dan Sabtu. Dan di sini tidak ada pembahasan agama, politik, atau komersial. Kami tidak berdagang barang," kata Herman Purnomo, General Affair perkumpulan tersebut ketika ditemui detikJatim.
Meskipun terdapat ruang penghormatan leluhur dengan altar Guangdong Timur dan penanda dupa setiap tanggal 1 serta 15 penanggalan China, gedung ini bukanlah tempat ibadah. Anggotanya heterogen, bahkan warga Muslim pun terlibat aktif di dalamnya.
Perkumpulan Hwie Tiauw Ka yang merupakan perkumpulan tertua di Indonesia, bahkan bangunannya dipertahankan sejak 1820. (Foto: Raihan Mahendra/detikJatim) |
Eksistensi sosial mereka juga menjangkau publik melalui MOU dengan PMI Surabaya. Agenda terdekat adalah aksi donor darah pada 24 Januari 2026 di Pasar Atom Lantai 2 dengan kuota 100-120 orang.
Tradisi tahunan tetap dijaga, seperti sembahyang arwah pada April dan selamatan musim dingin pada Desember yang identik hidangan kambing campur arak kuning.
Menjelang Imlek pada 17 Februari mendatang, agenda akan difokuskan pada kumpul keluarga untuk menghormati leluhur tanpa persiapan khusus yang berlebihan.
Meski memiliki struktur yang kuat dengan tradisi kepemimpinan maksimal dua periode dengan per periodenya berlangsung selama 3 tahun, tantangan regenerasi membayangi.
Gap usia terasa karena divisi muda-mudi kurang tertarik bergabung lantaran kesibukan kerja atau menganggap tradisi ini kuno. Padahal, secara global, Suku Hakka memiliki jaringan luar biasa melalui World Conference setiap 2 tahun sekali di berbagai belahan dunia (di Thailand, Cina, Amerika, Kanada, hingga Indonesia) dan Rakernas Tahunan.
Hal ini sejalan dengan filosofi mereka yang sangat peduli pada pendidikan, sebagaimana pepatah mengatakan di mana ada kampus, di sana pasti ada dosen orang Hakka.
(auh/dpe)

