Menjelang perayaan tahun baru Imlek, bukan hanya jenis makanan tertentu yang memiliki pantangan. Dalam tradisi dan kepercayaan Feng Shui, warna pakaian yang dikenakan juga diyakini mempengaruhi aliran chi, keberuntungan, serta keseimbangan emosional sepanjang tahun.
Karena itu, masyarakat Tionghoa umumnya menghindari warna-warna tertentu saat Imlek sebagai upaya menjauhkan diri dari nasib sial dan energi negatif. Sebaliknya, ada warna yang dipercaya membawa keberuntungan dan kemakmuran. Berikut warna baju yang dianjurkan dan dihindari menurut Feng Shui.
Warna Baju yang Dianjurkan Saat Imlek
Memilih warna pakaian saat Imlek bukan sekadar urusan gaya, tetapi juga sarat makna simbolis yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam Feng Shui, beberapa warna dipercaya membawa energi positif dan keberuntungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Merah
Baju Cheongsam untuk Perayaan Imlek Foto: East Meets Dress/Unsplash |
Dalam pandangan Feng Shui, warna merah memiliki makna yang kuat dan positif. Warna ini dipercaya membawa keberuntungan, kebahagiaan, perlindungan, kehangatan, serta menarik energi baik. Tak heran, merah selalu mendominasi dekorasi dan busana perayaan Imlek.
2. Hijau
Baju Imlek 2022 Sebastian Gunawan Signature Foto: Dok. Sebastian Gunawan Signature |
Warna hijau diyakini mendatangkan harmoni, kesuburan, dan pertumbuhan. Dalam Feng Shui, hijau juga berkaitan dengan uang dan kekayaan. Mengenakan pakaian berwarna hijau dipercaya menarik energi kemakmuran dan pertumbuhan, baik secara pribadi maupun finansial.
3. Kuning
Warna kuning dianggap simbol kebijaksanaan, kebahagiaan, dan suasana hati yang cerah. Dalam budaya Tionghoa, kuning juga melambangkan kekayaan, kekuasaan, dan status tinggi, sehingga sering dipilih saat perayaan penting.
4. Merah Muda
Merah muda dikenal sebagai warna yang membawa aura positif dan melambangkan nasib baik serta sukacita. Warna ini sering dikaitkan dengan energi cinta, kebahagiaan, dan kehangatan emosional.
5. Emas
Dalam Feng Shui, warna emas melambangkan kekayaan dan kemakmuran. Memakai pakaian berwarna emas dipercaya memancarkan aura hangat, nyaman, dan penuh energi positif.
6. Biru
Warna biru memiliki kesan sejuk, menenangkan, dan damai. Dalam bahasa Mandarin, biru dikaitkan dengan ketenangan, penyembuhan, serta kepercayaan, sehingga sering direkomendasikan sebagai pilihan warna busana saat Imlek.
Warna Baju yang Sebaiknya Dihindari Saat Imlek
Dalam tradisi Tionghoa, terdapat sejumlah warna pakaian serta kondisi busana tertentu yang diyakini membawa makna kurang baik, sehingga sebaiknya dihindari saat Imlek-mulai dari simbol duka hingga pertanda nasib buruk, yang penting diketahui agar perayaan tetap berlangsung penuh harapan dan makna positif.
1. Putih
Warna putih umumnya dihindari karena dalam budaya Tionghoa melambangkan kematian dan suasana duka. Warna ini sering digunakan dalam upacara pemakaman dan dipercaya membawa energi kurang baik, sehingga berbanding terbalik dengan makna warna merah.
2. Hitam
Selain putih, warna hitam juga dianggap kurang membawa keberuntungan. Meskipun hitam sering dipandang sebagai warna elegan, Feng Shui tidak menganjurkan penggunaannya pada hari-hari baik seperti perayaan Imlek.
3. Pakaian Rusak atau Lusuh
Tak hanya warna, kondisi pakaian juga menjadi perhatian. Pakaian robek, pudar, atau tampak lusuh dianggap membawa energi negatif dan kurang pantas dikenakan saat perayaan Imlek. Masyarakat Tionghoa umumnya mengenakan pakaian baru sebagai simbol awal yang baik di tahun yang baru.
Warna Keberuntungan Berdasarkan Shio 2026
Tahun 2026 merupakan Tahun Shio Kuda. Dalam kepercayaan astrologi Tionghoa, terdapat warna keberuntungan yang diyakini dapat menarik energi positif bagi pemilik shio tersebut, yakni putih, kuning, dan biru.
Meski putih biasanya dihindari saat perayaan Imlek, warna ini tetap memiliki makna keberanian dan diyakini membawa solusi dari kesulitan.
Sementara itu, warna kuning dipercaya membawa energi baik dalam hubungan asmara, dan warna biru melambangkan kebijaksanaan serta profesionalisme, sehingga menciptakan keseimbangan antara ketenangan dan keteguhan.
Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di BeritaKlik.
(ihc/irb)


