Candi Sumur Gantung Mojokerto, Legenda Cinta Pejabat Majapahit

Candi Sumur Gantung Mojokerto, Legenda Cinta Pejabat Majapahit

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Minggu, 15 Feb 2026 15:25 WIB
Arkeolog ekskavasi bagian Candi Brahu, candi tertua di Mojokerto.
Ilustrasi Candi di Mojokerto. (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Mojokerto -

Candi Sumur Gantung Mojokerto menyimpan kisah cinta legendaris antara seorang pejabat Kerajaan Majapahit dan Putri Kerajaan Bulu Ketigo. Situs ini tidak hanya menjadi simbol pengorbanan, tetapi juga saksi bisu romansa masa lalu yang hidup dalam ingatan masyarakat setempat.

Terletak di tengah permukiman warga, Candi Sumur Gantung kerap disebut sebagai penanda kisah kasih yang tak lekang oleh waktu. Legenda yang berkembang meyakini keberadaan sumur di tengah candi sebagai wujud cinta sang pejabat Majapahit kepada pujaan hatinya.

Legenda Candi Sumur Gantung Mojokerto

Berdirinya Candi Sumur Gantung tak lepas dari kisah cinta antara pejabat Majapahit dan putri Kerajaan Bulu Ketigo. Menurut cerita rakyat, candi ini dibangun sebagai syarat lamaran sang pejabat kepada sang putri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada masa itu, Desa Berat Wetan dikenal sebagai pintu gerbang Kerajaan Bulu Ketigo yang dipimpin Raja Bulu. Putri kerajaan tersebut disebut memiliki paras yang memikat hingga menarik perhatian pejabat Majapahit.

Sang putri mengajukan syarat unik, yakni dibangunnya sebuah candi dengan sumur di tengahnya, dengan permukaan air lebih tinggi dari permukaan sungai di sekitarnya. Permintaan itu disetujui, dan sang pejabat Majapahit memanfaatkan pohon besar di tepi sungai untuk menyerap air melalui akar, sehingga air dapat mengalir ke sumur di tengah candi.

ADVERTISEMENT

Namun, hasilnya tidak sesuai harapan sang putri karena permukaan air tidak lebih tinggi dari permukaan sungai. Meski demikian, candi dengan sumur tersebut tetap berdiri dan kemudian dikenal sebagai Candi Sumur Gantung.

Sayangnya, bangunan candi tidak bertahan lama. Letaknya yang berada dekat pohon besar membuat akar tumbuh ke sela-sela struktur bata, hingga menyebabkan bangunan runtuh dan rusak. Sumur di tengah candi pun tertimbun dan tidak lagi terlihat.

Hingga kini, proses pemugaran candi belum terealisasi, sehingga kondisinya semakin memprihatinkan. Meski demikian, situs ini tetap menjadi bukti kisah cinta pejabat Majapahit yang melegenda.

Di masa lalu, Candi Sumur Gantung juga menjadi lokasi ritual masyarakat. Pada era 1980-an, warga rutin menggelar selamatan atau hajatan dengan membawa tumpeng sebagai bentuk penghormatan. Tradisi tersebut kini mulai luntur, meski sebagian warga masih melaksanakan ritual secara terbatas.

Situs ini baru ditemukan pada 1989 oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dan diresmikan pada 1990. Candi Sumur Gantung memiliki luas sekitar 17 x 14 meter dengan ketinggian sekitar 3 meter dari permukaan tanah, dan tersusun dari struktur bata merah.

Lokasi dan Akses Candi Sumur Gantung Mojokerto

Candi Sumur Gantung terletak di Dusun/Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Situs ini berada di lingkungan permukiman warga dan mudah dikenali karena lokasinya berada di belakang masjid setempat.

Akses dari Surabaya

Wisatawan dari Surabaya dapat menuju Mojokerto melalui jalur utama atau Tol Surabaya-Mojokerto. Setelah memasuki wilayah Mojokerto, arahkan kendaraan ke Kecamatan Gedeg menuju Desa Berat Wetan. Setelah sampai desa, cari masjid besar setempat karena situs berada di belakang masjid.

Akses dari Kota Mojokerto

Dari pusat Kota Mojokerto, arahkan perjalanan ke barat daya menuju Kecamatan Gedeg, lalu ikuti petunjuk menuju Desa Berat Wetan. Lokasi candi berada di lingkungan permukiman dan dekat fasilitas umum seperti balai desa dan sekolah, sehingga mudah ditemukan.

Manfaat Mengunjungi Situs Candi Sumur Gantung

Mengunjungi Candi Sumur Gantung tidak hanya menawarkan wisata sejarah, tetapi juga membuka pemahaman tentang masa lalu Mojokerto sebagai wilayah penting peradaban Nusantara.

1. Media Edukasi Arkeologi dan Kebudayaan

Meski bangunannya telah runtuh, situs ini masih dapat menjadi sarana pembelajaran tentang arsitektur candi, struktur kuno, dan sejarah lokal bagi pelajar maupun mahasiswa.

2. Menumbuhkan Kesadaran Pelestarian Cagar Budaya

Kunjungan ke situs ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian warisan budaya agar tidak rusak atau hilang akibat kurangnya perhatian publik.

3. Memahami Kearifan Lokal Masyarakat

Keberadaan candi yang menyatu dengan permukiman warga menunjukkan hubungan harmonis antara masyarakat dan peninggalan sejarah.

4. Menambah Wawasan Sejarah Lokal

Situs ini membantu wisatawan memahami konteks sejarah Mojokerto sebagai pusat kejayaan Majapahit serta dinamika budaya masyarakat Jawa masa lalu.

Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di BeritaKlik.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads