Suasana berbeda terasa di Desa Balun, Kecamatan Turi, Lamongan. Di salah satu sudut desa yang dikenal "Desa Pancasila", sejumlah pemuda terlihat sibuk merampungkan ogoh-ogoh raksasa yang akan diarak menyambut Hari Raya Nyepi.
Enam ogoh-ogoh berukuran besar itu hampir rampung dikerjakan. Patung-patung raksasa itu rencananya akan dibawa pawai keliling desa pada Rabu (18/3), dimulai sejak dari Alun-alun Desa. Yang luar biasa, waktu pengerjaan ogoh-ogoh itu relatif singkat.
Salah satu pembuat ogoh-ogoh, Wisnu Adi Pramono mengatakan proses pengerjaan ogoh-ogoh itu sudah mencapai sekitar 85%. Tahun ini, kata dia, persiapan dilakukan lebih cepat dari biasanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengerjaannya sangat ngebut karena baru diputuskan satu bulan lalu. Biasanya prosesnya bisa 3 sampai 4 bulan, tapi kami optimistis bisa selesai tepat waktu untuk pawai besok," kata Wisnu ditemui di lokasi pengerjaan, Senin (16/3/2026).
Menariknya, pembuatan ogoh-ogoh di Desa Balun tidak hanya melibatkan umat Hindu. Warga dari berbagai latar belakang agama ambil bagian dalam proses pengerjaan patung raksasa itu.
"Ada warga Islam dan Kristen yang ikut membantu, terutama di tahap awal yang membutuhkan banyak tenaga," ujarnya.
Warga Desa Balun yang akrab disebut Desa Pancasila sedang menuntaskan ogoh-ogoh yang akan dimanfaatkan untuk pawai budaya saat malam Takbiran. (Foto: Eko Sudjarwo/detikJatim) |
Kebersamaan itu sudah menjadi pemandangan biasa bagi masyarakat Balun. Desa ini memang dikenal sebagai simbol kerukunan antarumat beragama di Lamongan.
Secara teknis, ogoh-ogoh itu dibuat menggunakan kerangka bambu. Kerangka itu kemudian dilapisi kertas koran, kertas semen, hingga tisu sebelum akhirnya dicat sesuai karakter yang diinginkan.
Untuk satu ogoh-ogoh besar, biaya pembuatannya berkisar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. Selain enam patung utama, warga juga menyiapkan beberapa ogoh-ogoh berukuran kecil yang akan diarak oleh anak-anak sekolah dasar.
Perayaan Nyepi tahun ini diperkirakan bertepatan dengan malam takbiran umat Muslim menjelang Idulfitri pada 19 Maret. Namun bagi warga Balun, perbedaan waktu ibadah tersebut bukanlah persoalan. Koordinasi telah dilakukan antara pihak pura, takmir masjid, hingga tokoh agama lain agar seluruh rangkaian ibadah bisa berjalan nyaman.
"Di sini toleransi sudah seperti tradisi dari zaman leluhur. Kalau umat Muslim takbiran keliling silakan, kami yang menjalankan Nyepi juga tetap beribadah. Semuanya bisa berjalan berdampingan," jelas Wisnu.
Pawai ogoh-ogoh yang akan digelar di alun-alun desa pun dipastikan terbuka bagi masyarakat. Warga Lamongan dan sekitarnya diajak datang untuk menyaksikan perayaan yang tak sekadar budaya, tetapi juga menjadi simbol harmoni kehidupan antarumat beragama di Desa Balun.
(ihc/dpe)
