Tradisi Ulur-ulur Tulungagung: Cara Warga 4 Desa Syukuri Berkah Air Telaga

Tradisi Ulur-ulur Tulungagung: Cara Warga 4 Desa Syukuri Berkah Air Telaga

Adhar Muttaqin - detikJatim
Sabtu, 25 Apr 2026 08:30 WIB
Masyarakat dari 4 desa menggelar tradisi Ulur ulur di Telaga Buret Tulungagung
Masyarakat dari 4 desa menggelar tradisi Ulur ulur di Telaga Buret Tulungagung. (Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim)
Tulungagung -

Masyarakat empat desa di Kecamatan Campurdarat, Tulungagung menggelar upacara adat Ulur-ulur di Telaga Buret. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas limpahan air telaga yang bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Upacara adat diawali dengan kirab budaya dan aneka sesaji dari pusat desa menuju ke kawasan Telaga Buret di Desa Sawo. Prosesi ini diikuti oleh perwakilan masyarakat Desa Sawo, Desa Gedangan, Desa Ngentrong, dan Desa Gamping yang ada di Kecamatan Campurdarat, serta Kasepuhan Tirta Mulya (KTM).

Memasuki kawasan telaga prosesi dilanjutkan dengan ziarah kubur serta siraman dua patung Joko Sedono dan Dewi Sri yang menjadi representasi Buga Wastra atau sandang pangan. Tak hanya disiram, patung itu juga dihias dan ditaburi minyak wangi serta disisir. Terakhir kedua patung dipasang mahkota dari janur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu tokoh masyarakat setempat, Pamuji, mengatakan tradisi Ulur-ulur telah ada sejak nenek moyang. Upacara adat ini menjadi salah satu bentuk ekspresi masyarakat dalam mengungkapkan rasa syukur atas limpahan air telaga.

"Tanda bersyukur, air yang keluar dari telaga ini meluber ke sawah. Akhirnya sawah yang bisa dialiri dengan air ini, bisa mengeluarkan tanaman pangan. Yang memanfaatkan air ini bukan petani saja, pengusaha pun ya menggunakan dari air telaga ini," kata Pamuji, Jumat (24/4/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya hinga kini kawasan Telaga Buret seluas 22,8 hektare inu masih cukup terjaga kelestariannya. Vegetasi dan aneka satwa menjadi nagian yang terpisahkan dari ekosistem alam telaga.

Masyarakat dari 4 desa menggelar tradisi Ulur ulur di Telaga Buret TulungagungMasyarakat dari 4 desa menggelar tradisi Ulur ulur di Telaga Buret Tulungagung (Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim)

Pamuji menjelaskan Ulur-ulur bermakna memberi, sehingga dalam upacara adat itu masyarakat membawa aneka makanan sebagai tanda bukti rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa orang memaknai Ulur-ulur adalah memperpanjang aliran air sehingga bermanfaat untuk masyarakat banyak.

Tradisi ini dari cerita turun-temurun dari para tokoh adat yang menyebut pada zaman dahulu hidup seorang pertapa dari Mataram di pinggir telaga.

Pertapa itu menyebut Dewi Sri dan Joko Sedono sebagai simbol padi sempat dari empat desa tersebut sehingga terjadilah paceklik atau gagal panen. Kemudian masyarakat sekitar menggelar tradisi Ulur-ulur.

"Setelah siraman atau jamasan, airnya ini meluber ke sawah, menjadi pulih kembali dan sawah menjadi subur makmur. Lantas masyarakat membawa semacam jajan dan makanan, ambeng dan sebagainya, dibawa ke sin, namanya Ulur-Ulur itu," jelasnya.

Pamuji berharap tradisi ini terus lestari dan mendorong masyarakat untuk ikut menjaga kawasan Telaga Buret menjadi pusat ekologi bagi lingkungan sekitar.

"Jangan sampai lingkungan telaga ini dipunahkan. Langkah keduanya harus direboisasi kembali yang lebih rindang, sumbernya lebih banyak," imbuhnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads