Video yang kembali viral tentang struktur batu, arca, hingga makara berukuran raksasa di Situs Adan-Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri memicu ruang diskusi mengenai kemegahan candi di situs yang sedang diekskavasi yang diduga melebihi bangunan candi lain, termasuk Borobudur.
Meski video yang beredar adalah dokumentasi lama, data arkeologis di lapangan memang menunjukkan bukti-bukti fisik yang luar biasa. Juru Pelihara Situs Adan-Adan, Ikhwan mengonfirmasi bahwa visual video itu diambil saat proses ekskavasi sedang berlangsung.
"Itu foto-foto lama waktu ekskavasi tahun 2022," ujar Ikhwan saat ditemui di lokasi, Jumat (8/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fokus utama yang melandasi dugaan kemegahan Situs Adan-Adan adalah temuan ornamen Makara di lokasi. Ornamen berbentuk makhluk mitologi, Makara itu biasa ditemukan sebagai ornamen lidah tangga candi.
Ikhwan menyebutkan, secara arkeologis, dimensi Makara seringkali menjadi indikator utama skala keseluruhan bangunan candi yang menyangga. Di situs Adan-adan, Ikhwan menyebutkan bahwa Makara yang ditemukan berukuran sangat fantastis.
Makara di Situs Adan-Adan dia sebut melampaui ukuran Makara yang ada di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Hal inilah yang memicu spekulasi bahwa bangunan utama candi di situs Adan-adan Kediri ini dulunya sangat masif.
"Biasanya ukuran makara itu menunjukkan besarnya bangunan candi. Makanya muncul anggapan kalau candinya bisa jadi sangat besar. Bahkan ada yang menyebut makara di sini termasuk yang terbesar di Asia Tenggara," jelas Ikhwan.
Situs yang diperkirakan dibangun antara abad ke-9 hingga ke-11 Masehi ini merupakan kompleks candi Buddha. Hal ini diperkuat dengan temuan kepala arca Buddha dan fragmen stupa dalam penggalian tahun 2020.
Dari total 48 titik ekskavasi, terungkap bahwa situs ini memiliki pola mandala yang rumit. Terdapat bangunan inti di bagian tengah yang diperkirakan berukuran 21 meter, dikelilingi oleh teras-teras luar dengan total kawasan mencapai sekitar 800 meter persegi.
Namun, kemegahan candi ini menyisakan misteri. Tim arkeolog menemukan bagian puncak stupa yang terkubur jauh di bawah tanah mengindikasikan bangunan itu pernah roboh akibat bencana besar. Kerusakan masif ini diduga dipicu aktivitas vulkanik Gunung Kelud atau bencana alam lain di masa lampau.
Selain itu, ditemukan sejumlah arca dalam kondisi belum selesai dikerjakan. Hal ini mengisyaratkan bahwa pembangunan kompleks megah ini terhenti sebelum rampung total.
"Saat ini, Situs Adan-Adan masih dalam pengawasan juru pelihara dan pihak terkait guna menjaga keamanan aset sejarah tersebut dari penjarahan maupun kerusakan lebih lanjut," pungkas Ikhwan.
Sebagian artefak penting, seperti sepasang arca penjaga atau Dwarapala, kini terpisah; satu masih berada di situs, sementara pasangannya telah tersimpan di Museum Airlangga, Kota Kediri, sejak zaman kolonial Belanda.
(auh/dpe)
