Dari Sebuah Dusun, Wayang Timplong Menyebar ke Seluruh Penjuru Nganjuk

Dari Sebuah Dusun, Wayang Timplong Menyebar ke Seluruh Penjuru Nganjuk

Bakrie - detikJatim
Minggu, 17 Mei 2026 19:00 WIB
Perajin wayang timplong asal Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk, Sulianto (60), menunjukkan hasil karya wayang kayu buatannya yang telah ditekuni selama empat dekade.
Deretan wayang timplong setengah jadi dan yang telah rampung tersusun rapi di studio milik Sulianto (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Wayang timplong menjadi bagian dari jejak sejarah budaya lokal di Kabupaten Nganjuk. Keberadaannya diyakini bermula dari sebuah dusun kecil, lebih dari satu abad lalu.

Sulianto (60), perajin wayang timplong asal Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom menuturkan, asal mula wayang timplong dipercaya berasal dari Dusun Kedungbajul, Desa Jetis, Kecamatan Pace.

Tokoh pionirnya disebut-sebut bernama Mbah Bancol, yang mulai mengenalkan wayang timplong pada tahun 1910-an. Dari dusun inilah, kesenian tersebut kemudian menyebar ke berbagai desa dan kecamatan di Nganjuk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, sejarah juga mencatat keberadaan perajin legendaris dari Dusun Seloguno, Desa Perning, Kecamatan Jatikalen.

Sosoknya dikenal luas sebagai pengrajin wayang timplong yang karyanya menjadi rujukan pada masanya. Namun kini, jejak itu mulai memudar seiring wafatnya sang perajin tanpa penerus.

ADVERTISEMENT

"Dulu ada perajin terkenal di Seloguno. Tapi sekarang sudah tidak ada yang melanjutkan," ungkap Sulianto kepada detikJatim pada Selasa (5/5/2026).

Perajin wayang timplong asal Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk, Sulianto (60), menunjukkan hasil karya wayang kayu buatannya yang telah ditekuni selama empat dekade.Sulianto memperlihatkan karakter wayang timplong khas Nganjuk yang memiliki bentuk menyerupai wayang kulit (Foto: Bakrie/detikJatim)

Wayang timplong sendiri memiliki ciri khas yang membedakannya dari jenis wayang lain di Jawa. Berbahan kayu mentaos, bentuknya lebih tebal dan dimainkan dengan gaya tersendiri.

"Sebenarnya bisa juga pakai kayu pinus atau waru, tapi saya lebih memilih mentaos," ujar Sulianto.

Cerita yang dibawakan pun tetap mengacu pada kisah pewayangan klasik seperti Mahabharata dan Ramayana, namun dengan sentuhan lokal.

Sulianto yang telah menekuni kerajinan ini sejak 1986, menjadi salah satu dari sedikit perajin yang masih bertahan hingga kini. Ia merupakan generasi penerus dari ayahnya, Jamiran "Gopre", dalang sekaligus perajin wayang timplong ternama di masanya.

Kini, keberadaan wayang timplong menghadapi tantangan serius, terutama minimnya regenerasi.

"Saya berharap anak-anak muda mau meneruskan warisan budaya asli Nganjuk ini. Jangan sampai punah," pungkas Sulianto.




(ihc/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads