Tak hanya terkenal dengan pantai selatan dan wisata alamnya, Trenggalek, kabupaten yang berada di pesisir selatan Jawa Timur ini juga punya kekayaan budaya yang masih hidup hingga sekarang. Mulai dari ritual adat, festival rakyat sampai kesenian tradisional yang sarat unsur sipirtual dan gotong royong, budaya di Trenggalek berkembang dari perpaduan kehidupan pesisir, pertanian, dan ttradisi Jawa yang masih kental.
Menariknya, beberapa budaya di Trenggalek bukan sekdar hiburan tahunan. Terdapat tradisi yang dipercaya berkaitan dengan keselamatan desa, permohonan hujan, hingga bentuk rasa syukur masyarakat terhadap alam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Budaya di Trenggalek yang Masih Dilestarikan
Budaya di Trenggalek berkembang dari kehidupan masyarakat pesisir, pertanian, hingga tradisi Jawa yang masih kuat dipertahankan. Tak heran, banyak ritual dan kesenian daerah di Trenggalek yang tetap eksis hingga sekarang hingga beberapa di antaranya bahkan sudah menjadi ikon budaya daerah.
Tradisi Tiban, Ritual Meminta Hujan
Tradisi Tiban menjadi salah satu budaya khas di Trenggalek yang masih dilestarikan masyarakat, khususnya di Desa Kerjo, Kecamatan Karangan. Ritual ini biasanya digelar saat musim kemarau panjang sebagai bentuk permohonan agar hujan segera turun.
Kesenian tiban di Trenggalek (Foto: Adhar Muttaqin/ detikjatim) |
Melansir jurnal berjudul Musik Tiban Dalam Ritual Mendatangkan Hujan di Desa Kerjo Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek oleh Achmad Lutfi P, dalam prosesi Tiban, para peserta saling mencambuk menggunakan pecut dari sodo aren hingga menimbulkan luka dan mengeluarkan darah. Darah tersebut dipercaya sebagai simbol penebusan kesalahan manusia terhadap alam sekaligus bentuk doa kepada Sang Pencipta agar diturunkan hujan.
Meski mayoritas masyarakat setempat beragama Islam dan mengenal salat istiqa' sebagai doa meminta hujan, tradisi Tiban tetap dipertahankan sebagai warisan budaya leluhur. Ritual ini dilakukan secara sukarela dan biasanya digelar di lapangan atau area terbuka pada siang hari dengan iringan musik dan tarian tradisional.
Tradisi ini melibatkan sosok Dhanyang, sosok yang mengayomi desa berupa punden, makam, pohon, petilasan atau tempat yang disakralkan serta dijaga juru kunci.
Tradisi tersebut menunjukkan kuatnya hubungan budaya, kepercayaan lokal, dan kehidupan masyarakat agraris di Trenggalek.
Tari Gandhong
Selain ritual adat, Trenggalek juga memiliki kesenian khas bernama Tari Gandhong. Tarian ini berasal dari Desa Bangun, Kecamatan Munjungan dan sudah diwariskan turun-temurun hingga menjadi bagian penting budaya masyarakat agraris di wilayah selatan Trenggalek.
Tari Gandhong biasanya ditampilkan dalam acara adat, festival budaya, hingga perayaan desa. Gerakannya enerjik dengan iringan alat musik tradisional seperti kentongan, gong, dan angklung bambu yang memberi ciri khas tersendiri.
Melansir jurnal berjudul Bentuk dan Fungsi Gandhong Desa Bangun, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek oleh Putri Kusumawardani, berdasarkan cerita masyarakat setempat, Tari Gandhong berkaitan dengan legenda Panji Asmoro Bangun dan kehidupan masyarakat tani pada zaman mataram kuno abad ke-18. Karena itu, tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, dan identitas budaya lokal.
Uniknya, Tari Gandhong ini mengusung tema-tema kecil dengan adegan yang masing-masingnya saling berkaitan satu sama lain. Tema tersebut yaitu cerita asal usul Desa Bangun pada babak pertama, babak kedua dengan Tari Tani Makaryo yang menceritakan mayoritas warga yang bertani. Babak ketiga dengan sub tema Tari Celeng menceritakan hama-hama yang sering dialami petani, dan yang keempat dengan Tari Onggotruno menceritakan pengusiran hama.
Oleh karena itu tarian ini dinamai Tari Gandhong yang namanya diambil dari suara kentongan berbunyi "dhong" ketika dipukul. Begitu pula dengan kentongan Gandhong yang sering digunakan sebagai isyarat warga untuk dimulainya gotong royong atau membangun desa dan bercocok tanam.
Festival Jaranan Turonggo Yakso
Festival Jaranan Turonggo Yakso menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Trenggalek yang rutin digelar setiap bulan Agustus menjelang peringatan Hari Jadi Kabupaten Trenggalek. Festival ini selalu menarik perhatian masyarakat karena menghadirkan pertunjukan seni jaranan khas dengan suasana meriah dan penuh atraksi budaya.
Menariknya, festival ini tidak hanya diikuti kelompok seni lokal, tetapi juga peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Beragam jenis kesenian jaranan ditampilkan, mulai dari Sentherewe, Pegon, Brung, hingga Turonggo Yakso yang menjadi ikon kesenian khas Trenggalek.
Jaranan Turonggo Yakso asal Trenggalek. (Foto: Jadesta Kemenparekraf) |
Turonggo Yakso sendiri memiliki ciri khas pada bentuk kuda kepang yang menyerupai raksasa atau buto dengan rambut lebat tergerai, melambangkan kekuatan dan keberanian. Adapun tunggangan untuk penari Tunggoro Yakso yang dibuat dari kulit sapi atau kerbau yang dibentuk menyerupai wujud kuda berkepala sapi.
Tarian tersebut tak hanya dipertunjukkan untuk hiburan masyarakat dalam pagelaran festical, tetapi juga menjadi bagian dari ritual baritan. Perpaduan musik gamelan, tarian energik, serta nuansa magis membuat festival ini menjadi salah satu daya tarik budaya yang paling dinanti masyarakat setiap tahunnya.
Larung Sembonyo
Larung Sembonyo menjadi salah satu tradisi budaya paling terkenal di kawasan pesisir Trenggalek, khsusunya di Desa Tasikmadu dan Teluk Prigi. Melansir jurnal berjudul Peran Pemuda dalam Konservasi Berbasis Kearifan Lokal: Studi Kasus Upacara Larung Sembonyo di Trenggalek oleh Shalkha Hanifi, dkk., kata "Larung" dalam bahasa Jawa berarti menghanyutkan, yaitu prosesi melarung sesaji seperti tumpeng ke laut sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut yang mereka peroleh.
Sementara kata "Sembonyo" berasal dari simbol pengantin tiruan yang dibuat dari batang dan daun pisang, lalu dihias dengan pakaian serta bunga layaknya mempelai sungguhan. Tradisi ini berkaitan dengan cerita rakyat tentang Tumenggung Yudha Negara dari Kerajaan Mataran yang menikah dengan Putri Gambar Inten pada hari Senin pasaran Kliwon bulan Selo dalam penanggalan Jawa. Setelah pernikahan tersebut, keduanya dipercaya membuka kawasan Teluk Prigi hingga berkembang menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir.
Masyarakat pesisir Karanggongso Trenggalek gelar larung sembonyo (Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim) |
Karena itu, tradisi ini bukan sekadar festival tahunan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus ungkapan syukur atas rezeki laut yang diberikan. Tradisi ini juga diiringi kirab budaya, pertunjukan seni, dan doa bersama untuk memohon keselamaatan para nelayan saat melaut di tahun mendatang.
Kupatan Durenan
Tradisi Kupatan Durenan identik dengan perayaan Lebaran Ketupat yang dilakukan masyarakat kawasan Kecamatan Durenan setelah menyelesaikan puasa sunnah Syawal selama enam hari untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan.
Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan memiliki kaitan kuat dengan budaya pesantren di wilayah tersebut. Bahkan menurut laman Disbudpar Jatim, tradisi ini telah berjalan sejak tahun 1800-an atau 2 abad lebih.
Perayaan Lebaran Ketupat atau kupatan di Trenggalek berlangsung meriah. Ribuan warga berbondong-bondong ke Kecamatan Durenan untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara dan tokoh agama. (Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim) |
Melansir detikJatim, Pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum Durenan, Kiai Fatah Muin, tradisi kupatan bermula sejak masa kepemimpinan Kiai Abdul Masyir atau Mbah Mesir, kemudian diteruskan generasi berikutnya. Dalam tradisi pesantren, keluarga kiai biasanya tidak menerima tamu Lebaran hingga selesai menjalankan puasa Syawal. Karena itu, masyarakat kemudian terbiasa datang bersilaturahmi saat kupatan berlangsung.
Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi budaya masyarakat luas di Durenan. Warga yang datang tidak hanya disuguhi ketupat dan hidangan khas, tetapi juga suasana kebersamaan yang kental. Menariknya, tradisi Kupatan Durenan tetap ramai meski tanpa hiburan besar. Banyak masyarakat datang murni untuk sowan dan menjaga silaturahmi.
Kupatan Durenan juga identik dengan kirab budaya seperti arak-arakan tumpeng ketupat yang diarak keliling desa sebelum diperebutkan masyarakat. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, dan kuatnya hubungan sosial masyarakat Trenggalek.
Nyadran Dam Bagong
Tradisi Nyadran Dam Bagong yang juga dikenal sebagai Bersih Dam Bagong ini identik dengan ritual larung kepala kerbau sebagai simbol rasa syukur sekaligus doa keselamatan bagi masyarakat.
Melansir jurnal berjudul Tradisi Nyadran Larungan Kepala Kerbau Dam Bagong Desa Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek (Kajian Folklor) oleh Angella Mustika Putri dan Yohan Susilo. Nyadran biasanya digelar oleh masyarakat Trenggalek khususnya sekitar Desa Ngantru setiap bulan Sela dalam penanggalan Jawa, tepatnya di kawasan Dam Bagong, Desa Ngantru, Kecamatan Trenggalek.
Tradisi Nyadran Trenggalek (Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim) |
Dam Bagong sendiri merupakan bendungan bersejarah peninggalan Adipati Menak Sopal yang menjadi sumber irigasi penting bagi lahan pertanian masyarakat Trenggalek. Sedangkan Adipati Menak Sopal sendiri adalah seorang ulama penyebar Agama Islam di Kabupaten Trenggalek hingga kemudian menjadi pemimpin Trenggalek yang ingin mewujudkan keingan para petani supaya berhasil panen.
Prosesi Nyadran diawali dengan doa bersama di makam Adipati Menak Sopal, kemudian dilanjutkan dengan tabur bunga, larung kepala kerbau, hingga pertunjukan seni tradisional seperti Turonggo Yakso dan wayang kulit.
Dalam prosesi larungan, masyarakat biasanya berebut bagian kepala atau tulang kerbau yang telah dilarung karena dipercaya membawa keberkahan dan rezeki. Kepercayaan tersebut sudah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat setempat.
Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Nyadran Dam Bagong juga menjadi simbol penghormatan terhadap jasa Adipati Menak Sopal yang dianggap berjasa bagi kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan irigasi Dam Bagong.
Meski dikenal sebagai kabupaten kecil di pesisir selatan Jawa Timur, Trenggalek ternyata memiliki kekayaan budaya yang masih terjaga hingga sekarang. Mulai dari Tiban, Tari Gandhong, Larung Sembonyo, Kupatan Durenan, hingga Nyadran Dam Bagong, setiap tradisi punya cerita, filosofi, dan nilai kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat.
Di tengah modernisasi yang terus berkembang, budaya-budaya tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Trenggalek masih menjaga warisan leluhur sebagai bagian penting identitas daerah. Karena itu, mengenal budaya Trenggalek bukan hanya tentang melihat tradisi unik, tetapi juga memahami sejarah dan kehidupan masyarakat yang membentuknya dari generasi ke generasi.
(ihc/abq)




