Pawai budaya Boyong Hambangun Projo dan Sedekah Bumi Nganjuk, Sabtu (6/6/2026) digelar untuk memperingati perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk pada 6 Juni 1880. Selain menjadi agenda budaya, kirab ini mengandung pesan sejarah tentang lahirnya Kabupaten Nganjuk modern.
Sesaat sebelum memberangkatkan peserta kirab boyong, Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi mengatakan, bahwa wilayah Nganjuk saat ini lahir dari proses penyatuan 4 kadipaten yang dahulu pernah berdiri sendiri.
"Dulu sebelum tahun 1830 wilayah yang sekarang jadi Kabupaten Nganjuk ini, pernah terbagi menjadi empat kadipaten, yaitu Kadipaten Berbek, Pace, Nganjuk, dan Kertosono. Setelah itu keempatnya melebur menjadi satu menjadi Kabupaten Berbek," ujar Marhaen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Marhaen, perpindahan pusat pemerintahan pada tahun 1880 bukan sekadar pemindahan lokasi kantor pemerintahan. Keputusan tersebut menjadi langkah strategis untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dari empat wilayah yang telah bersatu.
"Pada masa Bupati KRT Sosrokusumo III, pusat pemerintahan dipindahkan dari Berbek ke Nganjuk karena letaknya lebih berada di tengah. Berbek dianggap terlalu jauh sehingga dipilih lokasi yang lebih mudah dijangkau masyarakat," jelas Marhaen.
Kirab budaya tersebut menampilkan berbagai kesenian tradisional, replika simbol pemerintahan tempo dulu, hingga beragam atraksi budaya dari sejumlah kecamatan. Sepanjang perjalanan, masyarakat tampak antusias menyaksikan rombongan peserta yang mengenakan busana adat dan kostum bernuansa sejarah.
Sementara Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nganjuk, Sukadi menjelaskan, tradisi boyong merujuk pada peristiwa bersejarah yang terjadi 146 tahun lalu, tepatnya pada 6 Juni 1880, saat pusat pemerintahan Kabupaten Berbek dipindahkan ke Nganjuk.
"Peristiwa itu tercatat dalam dokumen laporan Residen Kediri kepada Gubernur Jenderal tanggal 8 Juni 1880. Boyongan dilakukan sesuai adat Jawa demi keselamatan," terang Sukadi.
Ia menuturkan, perpindahan tersebut berlangsung pada masa kepemimpinan Bupati Sosrokusumo III yang memimpin Kabupaten Berbek pada periode 1878 hingga 1901. Tradisi boyong kemudian diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Nganjuk.
Sukadi menambahkan, bentuk prosesi Boyong Hambangun Projo yang digelar saat ini mengadopsi perayaan 50 tahun perpindahan ibu kota kabupaten pada 1930. Saat itu, masyarakat mengarak replika Pendopo Kabupaten Berbek, peralatan kantor pemerintahan, hingga bedug sebagai simbol perpindahan pusat pemerintahan.
"Perayaan dilakukan dengan jalan kaki, diikuti pejabat Kabupaten Berbek, orang Belanda, warga Tionghoa, dan warga pribumi. Juga dimeriahkan dengan berbagai perayaan seperti mobil hias, kontes ternak sapi, dan kesenian tradisional di sekitar Alun-Alun Nganjuk," ungkapnya.
Rangkaian kirab berakhir di Pendopo KRT Sosro Koesoemo. Di lokasi tersebut digelar prosesi adat dan penyatuan simbol-simbol budaya yang menggambarkan semangat persatuan empat kadipaten yang menjadi cikal bakal Kabupaten Nganjuk.
(abq/dpe)