Seni Teater Asli Jawa Timur, Warisan Budaya yang Tak Lekang Waktu

Seni Teater Asli Jawa Timur, Warisan Budaya yang Tak Lekang Waktu

Jihan Navira - detikJatim
Sabtu, 06 Jun 2026 23:00 WIB
ludruk jatim
Ludruk menjadi salah satu kesenian teater asli Jawa Timur (Foto: Praditya Fauzi Rahman/ detikjatim)
Surabaya -

Di tengah gempuran hiburan digital dan budaya modern, ternyata Jawa Timur masih punya banyak seni teater tradisional yang menyimpan cerita panjang tentang kehidupan masyarakatnya. Bukan sekadar tontonan, pertunjukan-pertunjukan ini dulunya menjadi media hiburan rakyat, sarana kritik sosial, hingga bagian penting dari ritual budaya masyarakat setempat.

Tak hanya Ludruk, Jawa Timur juga memiliki seni teater lain seperti Sandur Bojonegoro, Topeng Jati Duwur Jombang, hingga Topeng Malangan yang punya ciri khas berbeda. Masing-masing lahir dari latar sejarah, tradisi, dan cara masyarakat Jawa Timur menyampaikan pesan lewat seni pertunjukkan.

Jadi, mari mengenal teater-teater asli Jawa Timur dengan simak artikel ini sampai habis ya, detikers!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Saja Teater Asli Jawa Timur?

Seni teater tradisional di Jawa Timur berkembang dari kehidupan masyarakat desa yang dekat dengan budaya lisan. Bahkan, pertunjukan tersebut di masa lalu bukan hanya sebagai hiburan malam hari, tetapi juga media penyampaian pesan moral, kritik sosial, hingga sarana ritual adat.

Beberapa jenis teater bahkan berkembang berbeda di tiap daerah, menyesuaikan karakter budaya masyarakat setempat. Ciri khas teater tradisional Jawa Timur sendiri umumnya terletak pada penggunaan bahasa daerah, unsur musik tradisional, improvisasi pemain, hingga interaksi langsung dengan penonton.

ADVERTISEMENT

1. Sandur Bojonegoro

Menjadi salah satu seni pertunjukan tradisional yang punya nuansa berbeda dibanding Ludruk, Sandur Bojonegoro awalnya berkembang dari tradisi ritual masyarakat agraris di Bojonegoro.

Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur, Sandur Bojonegoro berkembang dari hiburan masyarakat agraris setelah bekerja di sawah, lalu menjadi seni pertunjukan yang mengandung drama, tari, karawitan, dan akrobatik.

Ilustrasi Pertunjukan kesenian SandurIlustrasi Pertunjukan kesenian Sandur (Foto: Website Cak Durasim)

Hingga kini belum ada catatan pasti mengenai kapan pertama kali kesenian Sandur muncul maupun siapa penciptanya. Peneliti seni pertunjukan Arif Hidajad menyebut Sandur sebagai kesenian yang usianya sangat tua. Dalam perkembangannya, pertunjukan ini dipercaya telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun di wilayah Jawa Timur bagian barat.

Asal-usul nama Sandur sendiri memiliki banyak versi. Mengutip Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, istilah Sandur disebut berasal dari kata "san" yang dimaknai sebagai panen atau isen, sedangkan "dhur" diartikan habis atau selesai. Filosofi tersebut lekat dengan kehidupan masyarakat agraris yang menjadikan pertunjukan Sandur sebagai bagian dari tradisi selepas panen.

Ada pula versi lain yang mengaitkan istilah Sandur dengan bahasa Belanda, yakni gabungan kata "zoon" yang berarti putra dan "door" yang berarti melalui. Sementara dalam tulisan J. Catur Wibono dan tim dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta melalui Jurnal Resital tahun 2009, Sandur disebut berasal dari istilah "ngedur" atau cerita yang terus berlanjut hingga semalam suntuk.

Versi lain menyebut Sandur berasal dari gabungan kata beksan dan mundur. Makna tersebut merujuk pada pola gerak maju-mundur yang menjadi bagian penting dalam pertunjukan.

Di luar berbagai penafsiran tersebut, sebagian pelaku seni justru menilai makna Sandur lebih dekat dengan filosofi kehidupan manusia. Salah satunya disampaikan Djagad Pramudjito dari kelompok Sandur Kembang Desa yang memaknai Sandur sebagai "sapane donya lan urip" atau kiasan tentang dunia dan kehidupan.

Kesenian ini dipentaskan pada saat-saat tertentu ketika masyarakat mempunyai. Biasanya, Sandur digelar setelah musim panen sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada alam maupun kehidupan. Karena berasal dari tradsi ritual, unsur sipirtual dan simbol budaya masih terasa kuat dalam pertunjukannya.

2. Ludruk

Ludruk merupakan seni teater tradisional khas Jawa Timur yang menampilkan perpaduan dialog, lawakan, musik gamelan, kidungan, dan cerita yang dibawakannya. Biasanya pertunjukan dibuka dengan Tari Remo dan kidungan. Setelah itu, cerita utama dimainkan dengan dialog spontan dengan ciri khas bahasa Jawa dialek Jawa Timuran yang ceplas-ceplos dan spontan.

Ludruk sejak awal dikenal sebagai kesenian rakyat yang ceritanya banyak mengangkat kehidupan wong cilik, mulai dari persoalan ekonomi, sosial, hingga kritik terhadap kondisi masyarakat.

Pada era 90-an seni pertunjukan ketoprak, ludruk hingga kentrung menjadi favorit masyarakat Tulungagung dan sekitarnya.  Untuk membangkitkan kembali seni teater tradisional, sebuah kelompok seniman menggelar sandiwara berbahasa jawa keliling desa.Ilustrasi Ludruk (Foto: Adhar Muttaqin/ detikjatim)

Namun, di balik lawakan dan dialog khasnya, Ludruk bukan sekadar hiburan panggung. Awal kemunculannya justru banyak dikaitkan dengan perkembangan kesenian rakyat di Jombang sebelum akhirnya populer di Surabaya dan menyebar ke berbagar daerah di Jawa Timur.

Dilansir dari jurnal berjudul Bentuk dan Makna Pada Tata Rias Busana Serta Aksesoris Tari Remo Jombangan oleh Ulfa Apriliani, akar perkembangan Ludruk banyak dikaitkan dengan Kabupaten Jombang yaitu berasal dari kesenian rakyat bernama Lerok yang digagas oleh seorang petani sekaligus pengamen jalanan bernama Pak Santik dari Desa Diwek, Jombang.

Kesenian Lerok kemudian berkembang menjadi Besutan atas inisiatif Pak Santik bersama dua rekannya, Pak Pono dan Pak Amir yang menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa penjajahan. Pertunjukan tersebut menjadi media rakyat untuk menyampaikan keresahan, semangat perjuangan, dan keinginan untuk bebas menyampaikan pendapat. Seiring waktu, Besutan berkembang menjadi kesenian Ludruk yang dikenal hingga sekarang.

Perkembangan Ludruk di Surabaya tidak lepas dari sosok Cak Durrasim. Ia merupakan seniman asal Jombang yang aktif menggelar pertunjukan Ludruk di Surabaya.

Kecintaannya terhadap kesenian rakyat membuat Cak Durrasim kemudian memprakarsai berdirinya perkumpulan Ludruk di Surabaya. Dari sinilah Ludruk berkembang semakin besar dan dikenal luas oleh masyarakat. Karena pengaruh perkembangan di Surabaya yang sangat kuat, banyak masyarakat akhirnya menganggap Ludruk berasal dari kota tersebut.

3. Topeng Jati Duwur Jombang

Menjadi salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018, Topeng Jati Duwur Jombang masuk dalam domain seni pertunjukan yang menegaskan pentingnya pelestarian tradisi lokal.

Melansir laman Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Topeng Jati Duwur melibatkan penari bertopeng yang dipimpin oleh dalang yang mengisahkan cerita-cerita klasik dari Sastra Panji, seperti kisah Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji.

Pertunjukan yang lahir dari Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Jombang ini memiliki asal-usul yang ditelusuri hingga akhir abad ke-19 dibawa oleh seorang tokoh sakti bernama Ki Purwo yang berasal dari Gresik. Ki Purwo diyakini sebagai pendiri tradisi wayang topeng di desa tersebut dan dihormati sebagai sesepuh desa.

Topeng Jati Duwur bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan juga memiliki fungsi ritual sebagai sarana pemenuhan nadzar bagi masyarakat. Setiap 1 Sura, topeng-topeng tersebut diruwat dan diupacarai sehingga memiliki nilai spiritual dan kesakralan yang melekat.

Di balik tampilannya yang artistik, terdapat filosofi mendalam tentang karakter manusia, kehidupan, dan hubungan manusia dengan leluhur.

4. Topeng Malangan

Menjadi salah satu pertunjukan ikonik dari Malang Raya, Topeng Malangan ini merupakan kesenian yang menggabungkan tari, teater, musik gamelan, dan penggunaan topeng berkarakter khas.

Pelajar membawakan tari topeng Bapang secara massal dalam kegiatan Gebyar Topeng Malangan di lapangan Pakisaji, Malang, Jawa Timur, Rabu (17/5/2023). Kegiatan kirab dan tari topeng Bapang massal tersebut diikuti 2.023 siswa SD, SMP serta sejumlah sanggar tari sebagai upaya regenerasi sekaligus menanamkan rasa cinta terhadap warisan budaya tari tradisional topeng Malangan.Ilustrasi Topeng Malangan (Foto: Ari Bowo Sucipto/Antara Foto)

Melansir jurnal berjudul Makna Tari Topeng Malangan sebagai Implementasi dari Karakter Luhur Guru oleh Avinda Azizatun Nisa, dkk., pertunjukkan khas Jawa Timur ini diwariskan secara turun-menurun oleh masyarakat dan menjadi bagian penting dari warisan budaya lokal yang syarat makna dan nilai kehidupan.

Umumnya, cerita yang dibawakan berasal dari kisah Panji, yaitu legenda klasik Jawa yang populer sejak masa kerajaan. Dalam pementasannya, para penari mengenakan topeng dengan beragam bentuk dan ekspresi yang mewakili karakter tertentu, sementara alur cerita dibawakan oleh seorang dalang dan diiringi musik gamelan.

Setiap warna dan bentuk topeng memiliki makna dan simbol tersendiri, seperti merepresentasikan keberanian, kesetiaan, kebijaksanaan, hingga keteguhan hati. Salah satu karakternya, Panji, kerap digambarkan sebagai sosok pemimpin dengan sifat luhur dan penuh tanggung jawab.

Hubungan Tari Topeng Malangan dengan masyarakat setempat pun sangat erat. Pertunjukan ini bukan hanya menjadi hiburan, melainkan juga sarana untuk mewariskan kearifan budaya dan pelajaran moral dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, Topeng Malangan tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan, melainkan juga menjadi media pembelajaran karakter.

Seni teater tradisional Jawa Timur bukan sekadar hiburan lawas yang tinggal cerita. Di balik setiap pertunjukannya, ada sejarah panjang, kritik sosial, nilai budaya, hingga identitas masyarakat yang diwariskan lintas generasi.

Karena itu, mengenal kembali Ludruk, Sandur Bojonegoro, Topeng Jati Duwur, hingga Topeng Malangan menjadi langkah kecil untuk ikut menjaga warisan budaya agar tak hilang ditelan zaman.




(ihc/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads