Sejarah Kenteng Ploso, Bom Belanda Pembuka Munas-Konbes NU 2026

Sejarah Kenteng Ploso, Bom Belanda Pembuka Munas-Konbes NU 2026

Andhika Dwi - detikJatim
Senin, 22 Jun 2026 05:00 WIB
Kenteng Ploso yang menjadi penanda pembukaan Munas-Konbes 2026 di Ponpes Al Falah Ploso, Kediri.
Kenteng Ploso yang menjadi penanda pembukaan Munas-Konbes 2026 di Ponpes Al Falah Ploso, Kediri. (Foto: Andhika Dwi/detikJatim)
Kediri -

Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 di Ponpes Al Falah Ploso, Kediri pada Sabtu (20/6) ditandai dengan sebuah momentum ikonik. Alih-alih menggunakan gong modern, forum tertinggi NU di bawah Muktamar ini resmi dibuka lewat dentuman kenteng.

Kenteng yang menjadi alat penanda waktu legendaris itu ternyata merupakan modifikasi dari bom aktif peninggalan militer Belanda. Tabung besi vertikal itu tampak seperti rongsokan besi tua. Tetapi bagi keluarga besar Ponpes Ploso, benda itu saksi bisu sejarah perjuangan kemerdekaan, pusaka spiritual, sekaligus identitas yang diwariskan lintas generasi.

Berawal dari Bom yang Gagal Meledak

Sejarah panjang kenteng ini diulas oleh Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), yang juga merupakan alumni Pondok Pesantren Al Falah Ploso.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah bermula pasca-kemerdekaan, ketika sebuah bom curah yang dijatuhkan pesawat Belanda di area belakang pesantren ditemukan oleh warga dalam kondisi utuh.

"Di Ploso itu ada namanya kenteng. Dulu ceritanya ada bom yang dikirim Belanda ke belakang pesantren. Alhamdulillah tidak meledak. Setelah masa perjuangan kemerdekaan, bom itu ditemukan lalu dimodifikasi menjadi kenteng yang digunakan untuk penanda shalat, mengaji, dan berbagai kegiatan pesantren," kata Gus Salam, Minggu (21/6/2026).

ADVERTISEMENT

Sejak medio akhir 1940-an hingga awal 1950-an, selongsong bom tiruan ini beralih fungsi total. Alih-alih mencabut nyawa, suara dentuman besinya yang nyaring justru menjadi instrumen suci untuk mengumpulkan para santri guna menunaikan salat berjamaah, memulai pengajian kitab kuning, hingga menandai aktivitas belajar mengajar.

Memukul kenteng bahkan menjadi sebuah kehormatan tersendiri di kalangan santri masa lalu.

"Dulu santri-santri sering berebut untuk memukul kenteng. Saya sendiri pernah menyimpan pemukulnya di kamar supaya tidak keduluan yang lain. Itu menjadi kenangan yang sangat melekat bagi alumni Ploso," kenang Gus Salam sembari tersenyum.

Filosofi 'Mengubah Mudarat Menjadi Manfaat'

Penggunaan eks-bom Belanda ini sebagai penanda dimulainya Munas-Konbes NU 2026 bukan sekadar pamer barang antik, melainkan membawa pesan filosofis yang mendalam bagi seluruh warga Nahdliyin.

Langkah para ulama terdahulu yang menjinakkan senjata pemusnah menjadi pengingat ibadah adalah bukti nyata bagaimana kreativitas Islam yang damai mampu mengubah mudarat menjadi maslahat.

"Segala sesuatu itu pada dasarnya netral. Tinggal bagaimana manusia memanfaatkannya. Kenteng ini berasal dari bom yang seharusnya berbahaya, tetapi kemudian diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk mengingatkan orang pada shalat dan pengajian. Semua hal memiliki potensi untuk menjadi kebaikan," jelasnya.

Nilai historis dan spiritualitas yang pekat inilah yang membuat gaung kenteng di panggung pembukaan munas kemarin terasa menggetarkan hati para kiai dan delegasi yang hadir.

"Bagi keluarga besar Ploso, kenteng sangat ikonik dan identik dengan pesantren ini. Mungkin satu-satunya pesantren di Indonesia yang penanda shalat dan ngajinya menggunakan kenteng. Karena itu ketika kenteng digunakan untuk membuka Munas-Konbes, ada nuansa spiritual dan historis yang sangat kuat bagi kami," pungkas Gus Salam.




(abq/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads