Kumpulan Puisi D Zawawi Imron Celurit Emas

Kumpulan Puisi D Zawawi Imron Celurit Emas

Irma Budiarti - detikJatim
Kamis, 25 Jun 2026 20:00 WIB
KH D Zawawi Imron membacakan puisi dalam perayaan 1 Abad NU. Berikut isi puisi tersebut.
KH D Zawawi Imron. Foto: Tangkapan Layar
Surabaya -

Nama D. Zawawi Imron tidak dapat dilepaskan dari khazanah sastra Indonesia, terutama melalui karya-karyanya yang kuat merepresentasikan budaya Madura dan nilai-nilai spiritual.

Salah satu antologi puisinya yang paling dikenal adalah Celurit Emas, sebuah kumpulan sajak yang memadukan simbol budaya, refleksi sosial, serta perenungan religius dalam bahasa puitis yang khas. Diterbitkan pada 1986, Celurit Emas memuat puluhan puisi yang lahir dari proses kreatif selama beberapa tahun.

Melalui karya ini, Zawawi Imron tidak hanya menghadirkan gambaran tentang identitas Madura, tetapi juga menawarkan makna yang lebih luas tentang kemanusiaan, perdamaian, dan pentingnya ilmu pengetahuan dalam menghadapi perubahan zaman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kumpulan Puisi Celurit Emas

Dirangkum dari Ensiklopedia Kemendikdasmen, buku Kumpulan Puisi Celurit Emas karya D Zawawi Imron diterbitkan oleh Bintang Surabaya pada tahun 1986. Proses penulisannya berlangsung sekitar empat tahun, yakni sejak 1980 hingga 1984.

ADVERTISEMENT

Buku ini memuat 30 sajak yang sebelumnya telah dibacakan langsung oleh Zawawi Imron dalam berbagai acara sastra, antara lain di Bentara Budaya Yogyakarta, Sasono Mulyo Solo, Teater Arena Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 22 November 1984, serta Universitas Hasanuddin pada 1986.

Sejumlah puisi yang termuat dalam antologi tersebut, antara lain Pantai, Di Ujung Duri, Laut Menganga, Sapiku, Sajak Burung Gagak, Darah, Hujan Terjunlah, Zikir, Sembahyang, Celurit Emas, hingga Meditasi Celurit.

Karya ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dengan judul Golden Sikkel dan diterbitkan oleh Uitgeverij Douane di Rotterdam. Namun, puisi berjudul Zikir tidak ikut diterjemahkan karena idiom dan ungkapan khas Zawawi Imron dinilai sulit dialihkan ke bahasa lain.

Judul Celurit Emas lahir dari refleksi penyair terhadap situasi sosial pada masa maraknya operasi penertiban senjata tajam di era pemerintahan Orde Baru.

Celurit yang selama ini lekat dengan identitas masyarakat Madura, dan kerap dikaitkan dengan kekerasan diangkat oleh Zawawi sebagai simbol budaya dan intelektualitas.

Melalui metafora tersebut, ia berharap masyarakat Madura mampu menghadapi perubahan zaman dengan mengedepankan perdamaian, pendidikan, dan pengetahuan.

Dalam kumpulan puisi ini, Zawawi banyak menggunakan simbol-simbol yang kuat, seperti darah dalam puisi Darah, Laut Menganga, Sajak Burung Gagak, dan Nyanyian Pemberang.

Selain itu, terdapat pula simbol-simbol yang mencerminkan identitas Madura, terutama sapi dan celurit, sebagaimana tampak dalam puisi Sapiku, Celurit Emas, dan Meditasi Celurit.

Karya ini sekaligus memperlihatkan karakter Zawawi Imron sebagai penyair yang dekat dengan alam dan sarat nuansa religius. Atas kontribusinya di dunia sastra, Zawawi Imron menerima penghargaan S.E.A. Write Award pada tahun 2012.

Puisi Celurit Emas

Roh-roh bunga yang layu sebelum semerbak itu

Mengadu ke hadapan celurit yang ditempa dari

Jiwa. Celurit itu hanya mampu berdiam,

Tapi ketika tercium bau tangan.

Yang

Pura-pura mati dalam terang

Dan

Bergila dalam gelap

Ia jadi mengerti: wangi yang menunggunya di seberang.

Meski ia menyesal namun gelombang masih

Ditolak singgah ke dalam dirinya.

Nisan-nisan tak bernama tersenyum

Karena celurit itu akan menjadi taring langit, dan matahari

Akan mengasahnya pada halaman-halaman

Kitab suci

Celurit itu punya siapa?

Amin!




(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads