Mantan pengurus Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin) Surabaya berinisial JL dilaporkan ke polisi karena diduga melakukan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap atletnya. Keluarga korban membeberkan kasus pelecehan tersebut.
Paman korban berinisial E mengatakan korban dan pelaku diketahui pertama kali kenal pada akhir 2024 atau awal tahun 2025. Saat itu korban mulai latihan menembak dengan diantar orang tuanya.
Namun karena ada kendala, orang tua korban lantas menitipkan kepada pelaku selaku pelatih untuk mendampingi bahkan mengantar hingga pulang. Namun kepercayaan itu ternyata disalahgunakan oleh pelaku dengan melakukan pelecehan hingga 6 kali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini terjadi sampai enam kali. Yang pertama itu di lingkup lapangan Perbakin, lapangan tembak berupa hukuman, gelitik. Lambat laun hukuman gelitik itu jadi terbiasa dan meranah ke pegang-pegang," kata E, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, pelecehan pertama terjadi sebelum Ramadan 2026 di lingkungan lapangan tembak. Dugaan tindakan pelecehan pertama dilakukan di dalam ruangan di tempat latihan. Kemudian, korban melakukan kesalahan lagi karena mag dan mendapat hukuman lagi di mobil.
Hingga akhirnya yang terakhir dibawa ke hotel. Pelaku melakukan aksi bejatnya, namun korban mengaku tidak sampai disetubuhi oleh pelaku.
"Yang terakhir itu saya dengar dari anak korban, 'Ayo kita main ke room'. Dia enggak tahu room itu apa. Ternyata dia dibawa ke salah satu hotel sekitaran Wonokromo. Di situ dia check in," jelasnya.
Sementara itu, ayah korban menyebut anaknya sempat melakukan penolakan saat dilecehkan bahkan hendak disetubuhi. J menambahkan, pelecehan diduga dilakukan setiap pekan atau saat latihan menembak. Dalihnya, hukuman karena melakukan kesalahan saat latihan.
Korban akhirnya berani jujur ke keluarga setelah tiba-tiba meminta untuk keluar dari aktivitas menembak. Padahal saat itu sudah persiapan menuju pra PON dan Porprov 2027.
"Puncaknya hari Senin kemarin cerita ke mamanya, dan mamanya cerita kronologinya ke saya. Jam 10 malam saya telepon pak E sebagai saudara saya untuk mendampingi. Anak saya nggak mau cerita, hanya sedikit-sedikit dari istri saya," pungkasnya.
J menyebut kondisi anaknya kini lebih banyak diam. Tak hanya itu, korban juga sekarang enggan menembak. Apalagi hanya melihat peralatan menembaknya.
"Nggak (latihan lagi). Lihat lapangannya sudah trauma, apalagi di rumah buka unitnya, setiap hari ngelap, sekarang sudah nggak mau megang lagi. Karena di situ awal kehancuran anak saya. Trauma dengan olahraga menembak," kata J.
J mengaku kecewa saat tahu anaknya jadi korban pelecehan. Padahal anaknya telah tekun mendalami olahraga tembak dan telah dipersiapkan menjadi atlet menuju pra PON dan Porporv 2027 di Perbakin Surabaya.
"Kurang lebih dua tahun anak menembak di situ (Perbakin)," tandasnya.
Untuk itu, keluarga korban berharap pelaku bisa dihukum maksimal. Sebab korban akan menanggung beban yang dialami selama seumur hidup.
"Harapan saya untuk pelaku, semoga dihukum seberat-beratnya, kalau bisa seumur hidup atau hukuman mati," kata ayah korban, J kepada wartawan saat jumpa pers, Kamis (11/6/2026).
"Karena akan menimbulkan dampak negatif jangka panjang," tandasnya.
Sebelumnya, seorang pelatih sekaligus pengurus di Persatuan Menembak dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin) Surabaya diduga melakukan pelecehan dan kekerasan seksual. Korbannya yakni atlet yang masih di bawah umur.
Kabar ini mencuat setelah akun Instagram @viralforjusticecom mengunggah kronologi dugaan aksi bejat itu beserta bukti tulisan tangan yang diduga milik korban. Berdasarkan catatan harian korban, aksi pelecehan itu bermula dari modus hukuman fisik yang dialihkan menjadi tindakan fisik yang menjurus ke arah seksual.
(auh/abq)