Makam Choiriyah (47) di Jombang diekshumasi karena diduga dibunuh kakak kandungnya. Autopsi pun mengungkap penyebab tewasnya perempuan lajang yang merupakan tunagrahita tersebut.
Ekshumasi melibatkan Satreskrim Polres Jombang dan Polsek Peterongan. Makam Choiriyah di Makam Islam Dusun Pajaran, Desa/Kecamatan Peterongan dibongkar. Selanjutnya, jenazah korban diautopsi di lokasi oleh tim dokter forensik RS Bhayangkara Kediri.
Kasat Reskrim Polres Jombang AKP Dimas Robin Alexander menjelaskan, dari hasil autopsi, ditemukan banyak luka akibat benda tumpul pada tubuh Choiriyah. Yaitu luka memar pada 2 jari tangan kiri, memar pada dagu, bibir bawah, leher depan atas, dahi, lengan, dada, kepala dan pipi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian lecet bentuk garis di dagu, patah pada 2 jari tangan kiri, serta memar pada paha dan pinggang kanan. "Semua luka tersebut terjadi ketika korban masih hidup dan akibat kekerasan menggunakan benda tumpul," jelasnya kepada wartawan, Senin (15/6/2026).
Oleh sebab itu, lanjut Dimas, pihaknya menyimpulkan Choiriyah bukan tewas karena terjatuh di kamar mandi. Namun, menjadi korban penganiayaan. "Penyebab kematian korban yaitu resapan darah pada seluruh kulit kepala dan pembusukan organ dalam," ungkapnya.
Dimas membenarkan Choiriyah merupakan tunagrahita. Sehingga selalu dirawat oleh kakak kandungnya.
"Korban memang mengalami keterbelakangan mental sehingga harus dirawat kakak kandungnya," tandasnya.
Sebelumnya, makam Choiriyah di Makam Islam Pajaran diekshumasi pada Minggu (14/6) sekitar pukul 13.00 WIB. Pembongkaran makam dan autopsi melibatkan Satreskrim Polres Jombang, Polsek Peterongan, serta tim dokter forensik dari RS Bhayangkara Kediri.
Sebuah tenda tertutup disiapkan di dekat makam korban untuk autopsi. Ekshumasi digelar karena Choiriyah diduga tewas karena diduga dianiaya kakak kandungnya sendiri, Suparni (61).
Choiriyah hidup bersama Suparni di kos Dusun Jogoroto, Desa/Kecamatan Jogoroto, Jombang sekitar 2 minggu terakhir. Sehari-hari, Suparni bekerja menjadi buruh masak. Sedangkan Choiriyah tidak bekerja karena mengidap keterbelakangan mental.
Dugaan pembunuhan di kos ini terjadi pada Jumat (12/6) sekitar pukul 10.00 WIB. Suparni diduga memukuli adik kandungnya dengan tangan kosong, memakai tongkat sapu, ulekan, dibenturkan ke dinding, serta dicelupkan ke kamar mandi.
Ketika Choiriyah sudah tak bernyawa, Suparni meminta tolong tetangga kosnya. Ia berdalih kalau adiknya terjatuh di kamar mandi. Sore di hari yang sama, jenazah korban dibawa ke rumah duka, lalu dimakamkan di Makam Islam Dusun Pajaran.
(auh/hil)
