Menengok Hwie Tiauw Ka, Perkumpulan Tertua Berusia 206 Tahun di Indonesia

Kabar Komunitas

Menengok Hwie Tiauw Ka, Perkumpulan Tertua Berusia 206 Tahun di Indonesia

Chilyah Auliya - detikJatim
Rabu, 04 Feb 2026 17:45 WIB
Perkumpulan Hwie Tiauw Ka yang merupakan perkumpulan tertua di Indonesia, bahkan bangunannya dipertahankan sejak 1820.
Bangunan perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya, perkumpulan tertua di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1820. (Foto: Raihan Mahendra/detikJatim)
Surabaya -

Berdiri sejak 1820, Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya menegaskan posisinya sebagai organisasi etnis tertua di Indonesia. Mereka bahkan masih menempati bangunan asli yang juga berdiri di tahun yang sama. Sudah sejak 206 tahun silam.

Bangunan tempat berkumpulnya anggota Hwie Tiauw Ka ini berlokasi di Jalan Slompretan Nomor 58. Bangunan ini berdiri jauh sebelum kemerdekaan NKRI dan disahkan oleh pemerintah Belanda dengan nama awal VR. Kwie Tang Tjing Bing & Tiong Hie Tiong.

Kini, perkumpulan Hwie Tiauw Ka (Hakka) Surabaya secara resmi telah berusia 206 tahun. Pendirian perkumpulan ini terhitung sejak berdiri tahun ke-25 pemerintahan Jiaqing dinasti Qing, atau tahun Geng-Chen (Naga) 1820 Masehi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau di Indonesia, saya berani ngomong perkumpulan yang paling tua. Jadi artinya itu dari struktur bangunannya maupun dari lokasinya. Jadi kita enggak pernah pindah, enggak pernah ada perubahan," ujar General Affair Hwie Tiauw Ka, Herman Purnomo kepada detikJatim, Senin 19 Januari 2026.

Dia menegaskan keunikan fisik gedung yang bukan sekadar bangunan itu. Bangunan itu adalah saksi bisu tradisi yang menolak tunduk pada modernitas, hingga menjadi yang tertua dari segi struktur maupun lokasi.

ADVERTISEMENT

Keasliannya terjaga hingga ke detail terkecil. Salah satunya adalah pintu-pintu yang masih menggunakan mekanisme kayu tradisional tanpa engsel maupun grendel besi.

Perkumpulan Hwie Tiauw Ka yang merupakan perkumpulan tertua di Indonesia, bahkan bangunannya dipertahankan sejak 1820.Anggota perkumpulan Hwie Tiauw Ka sedang main catur gajah, catur asli dari China. (Foto: Raihan Mahendra/detikJatim)

"Bangunan ini tidak pernah berpindah jengkal sejak awal berdiri. Ini benar-benar genuine (asli), bahkan hingga ke detail terkecil serba kayu," kata Herman saat ditemui di kantornya.

Meski plakat Cagar Budaya telah tersemat, pihak pengurus masih melakukan pertimbangan mendalam terkait status formal itu demi menjaga fleksibilitas pengelolaan internal. Namun, keterbukaan tetap menjadi prioritas di mana masyarakat umum dipersilakan menyelami sejarah gedung hingga pukul 16.00 WIB.

Nilai sejarah gedung ini juga berakar pada area 'Pasar Bong'. Dahulu, kawasan yang kini menjadi pemukiman dan pertokoan itu adalah makam (Bong) yang tetap dirasakan hingga kini dalam bentuk misi sosial.

Gedung Hwie Tiauw Ka awalnya berfungsi sebagai tempat singgah jenazah dan penyedia peti mati bagi perantau asal Cina yang tidak mampu. Misalnya saat ada anggota yang wafat, pihak perkumpulan memberi dukungan penuh dan memastikan sehingga dapat penghormatan terakhir yang layak di ujung usia mereka.

Komunitas lain mengunjungi bangunan Hwie Tiauw Ka di Surabaya yang dipertahankan sejak tahun 1820.Komunitas lain mengunjungi bangunan Hwie Tiauw Ka di Surabaya yang dipertahankan sejak tahun 1820. (Foto: Chilyah Auliya/detikJatim)

Eksistensi Hwie Tiauw Ka tak bisa dilepaskan dari denyut nadi Sungai Kalimas dan kawasan Pecinan. Sebagai bagian dari suku Hakka yang dikenal tangguh dan piawai berdagang dan berlayar, komunitas ini telah mewarnai lanskap ekonomi di Kota Pahlawan.

Kiprah mereka terlihat dalam bentuk toko obat tradisional hingga khazanah kuliner legendaris seperti Bakwan Pabean yang ikonik, toko-toko kelontong yang di masanya serempak, hingga beragam industri yang bermacam rupa.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads