Inspiratif! Dosen Surabaya Ini Raih Rekor MURI Guru Besar Termuda

Inspiratif! Dosen Surabaya Ini Raih Rekor MURI Guru Besar Termuda

Esti Widiyana - detikJatim
Sabtu, 21 Mar 2026 07:30 WIB
Prof Dr Ir Esther Irawati Setiawan SKom MKom dan sertifikat penghargaan MURI
Prof Dr Ir Esther Irawati Setiawan SKom MKom dan sertifikat penghargaan MURI (Foto: Dok. Istimewa)
Surabaya -

Prof Dr Ir Esther Irawati Setiawan SKom MKom mencatatkan prestasi cemerlang di dunia pendidikan. Dosen Surabaya ini diganjar penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) karena mampu menjadi profesor hingga insinyur di usia 40 tahun.

Prof Esther meraih Rekor MURI pada 9 Maret 2026 sebagai Perempuan Profesor Termuda sebagai Guru Besar Bidang Kecerdasan Buatan (Artificial Intelliegence).

Perempuan kelahiran Malang itu merupakan dosen dari Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS). Berkuliah sejak 2006 saat usia 17 tahun, dia sudah ingin menjadi dosen dan senang belajar hingga di usia 40 tahun memegang gelar profesor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam perjalanan akademiknya, ia menempuh pendidikan S1 Teknik Informatika (2022-2006), S2 Teknologi Informasi (2008-2010) di Sekolah Tinggi Teknik Surabaya atau sekarang ISTTS. Kemudian lanjut studi S3 Teknik Elektro dari LPDP lokal di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada (2016-2020). Lalu melengkapi kepakaran teknik dan meraih gelar Insinyur Institut di ITS (2001-2022).

ADVERTISEMENT

Atas pencapaian yang telah diraih, Prof Esther mencatatkan sejarah sebagai perempuan termuda yang dikukuhkan menjadi Guru Besar bidang kecerdasan buatan AI. Sebagai pakar yang terus memperbarui kompetensinya, ia memegang berbagai sertifikasi mutakhir termasuk Generative AI Leader, Gemini Certified Faculty, hingga spesialisasi dalam Building RAG Agents with LLMs dari NVIDIA.

"Saya makin belajar teknologi, makin semangat mengerjakan aplikasi dan suasana akademiknya saling mendukung. Jadi, begitu lulus, pembimbing langsung mengingatkan siapa mau profesor. Di angkatan saya banyak wanita studi S3 dan beberapa profesi guru besar, akhirnya saling sharing. Karena saya ini di usia muda, jadi disarankan profesor, yang pertama harus membuat buku, menjadi pembicara, itu disupport Google Developer Expert," cerita Prof Esther kepada detikJatim di kampus ISTTS, Sabtu (21/3/2026).

Meski sudah memperoleh berbangai gelar pendidikan tertinggi, ibu dua anak ini masih ingin terus belajar. Gayung bersambut, keinginannya itu mendapat dukungan dari kampus mengajarnya.

"Jadi di dunia AI dan IT Jadi apalagi 2 tahun terakhir ini benar-benar berubah dan kita kalau mandek ya enggak bisa. Jadi kita bisa ketinggalan, kita enggak tahu AI itu bisa apa. Jadi saya harus terus fokus untuk semangat untuk belajar teknologi baru. Di kampus juga didukung menjadi salah satu kolaborator utama untuk Google Developer Group Surabaya," jelasnya.

"Setiap kali saya punya ide untuk pengembangan kurikulum baru itu pasti dengan cepat bisa diimplementasikan ke mata kuliah ya. Jadi belajarnya enggak pernah berakhir, malah sekarang ini tambah tiap hari ada AI baru. Jadi kita harus belajar terus kita harus tahu yang AI bisa apa dan AI belum bisa apa," tambahnya.

Target Prof Esther ke depan, ia ingin melawan fake news pada gambar dan video yang semakin berat, sekaligus ingin menciptakan solusi untuk masyarakat. Saat ini dia sedang fokus mengembangkan aplikasi handsign, di mana orang yang memakai handsign bisa langsung disuarakan.

"Jadi dia gerak terus suaranya keluar itu sedang research itu terus juga research Tool-tool untuk visual learning. Jadi orang-orang yang suka belajar dari visual itu dari narasi, anak-anak yang kesulitan untuk belajar tanpa gambar bisa langsung dapat tool-tool pendamping belajar," pungkasnya.




(irb/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads