Setiap hari jelang berbuka puasa selama Ramadan 1447 Hijriah, antrean pembeli selalu terlihat di sebuah sudut Jalan Cinde Wilis, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo. Sebuah warung sederhana ramai diserbu oleh pemburu takjil. Warung itu diberi nama Cucur Ceria.
Warung ini menjadi perbincangan warga. Bukan karena menu lamanya, melainkan inovasi baru yang hanya dimunculkan selama Ramadan. Kalau biasanya pembeli datang menikmati cucur, mereka justru berburu menu unik bernama cothot isi kurma.
Takjil berbahan dasar singkong ini hadir dengan tampilan sederhana tetapi menawarkan cita rasa berbeda dari olahan ketela pada umumnya. Menu unik itu merupakan kreasi tangan dingin Maya Nika Sari. Perempuan asal Ponorogo ini mencoba menghadirkan variasi takjil berbahan dasar singkong yang berbeda dari olahan pada umumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya saya ingin membuat menu takjil untuk Ramadan yang beda. Supaya tidak sekadar kolak atau yang itu-itu saja," ujar Maya saat ditemui, Selasa (24/2/2026).
Maya menjelaskan, bahan dasarnya sederhana. Singkong dikukus hingga empuk, lalu dihaluskan dan dicampur sedikit vanili. Setelah itu adonan dibentuk menyerupai pastel. Jika biasanya cothot hanya berisi gula pasir, khusus edisi Ramadan kali ini ia menggantinya dengan irisan kurma, ditambah sedikit gula agar rasa manisnya tetap seimbang.
Hasilnya adalah perpaduan gurih khas ketela dengan manis legit kurma. Pembeli juga bisa menambahkan topping keju sesuai selera.
"Edisi Ramadan ini saya isi kurma. Kurma kan banyak gizinya, jadi harapannya yang puasa tetap kuat dan sehat," jelas ibu dua anak tersebut.
Meski baru diluncurkan sepekan sebelum Ramadan, respons pasar di luar dugaan. Setiap hari, Maya mengaku mampu menjual sedikitnya 500 biji cothot isi kurma.
"Satu biji Rp 1.000. Minimal 500 biji per hari, kadang bisa lebih," katanya.
Salah satu pelanggan, Fitri, mengaku langsung jatuh hati sejak gigitan pertama. Menurutnya, rasa gurih singkong berpadu pas dengan manis kurma tanpa membuat enek.
"Rasanya lebih gurih, kurmanya terasa tapi nggak bikin enek. Kalau yang original lebih manis. Ini cocok buat takjil. Satu kurang, biasanya beli dua biar kenyang," ujar Fitri.
Ia mengaku sebelumnya sudah menjadi pelanggan cothot original di warung tersebut. Namun sejak hadir varian kurma, ia beralih dan menjadi langganan setia menu Ramadan itu.
"Biasanya beli yang ori karena di tempat lain nggak ada. Sekarang ada yang isi kurma, jadi singkong nggak cuma diolah jadi kolak," pungkasnya.
(irb/dpe)