Aroma daun pisang yang hangat langsung terasa saat menyantap nasi pecel tumpang di Jalan Imam Bonjol, Nganjuk. Di warung legendaris Mbah Yah, sajian sederhana ini justru jadi buruan warga hingga pemudik saat Lebaran.
Di Warung Nasi Pecel Tumpang Mbah Yah yang sudah berdiri sejak 27 tahun lalu ini, harga seporsinya hanya Rp 8 ribu. Itu sudah termasuk dua pilihan, yaitu tahu atau tempe.
Nasi pecel legendaris di Nganjuk Foto: Bakrie/detikJatim |
"Kalau tambah telor ceplok harganya Rp 12 ribu per porsi," ungkap Susi, pemilik warung ditemui detikJatim, Sabtu (4/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Susi merupakan generasi kedua setelah Mbah Yah. Katanya, Mbah Yah mendirikan warung pecel ini selama 20 tahun. Sedangkan dia sebagai menantu sudah 7 tahun mengelola.
"Jadi sudah 27 tahun," tambah perempuan 40 tahun tersebut.
Susi mengatakan, sejak buka 27 tahun lalu, warungnya selalu memakai daun pisang sebagai wadah nasi pecel. Karena itu sudah menjadi ciri khas tersendiri.
"Daun pisangnya seger. Jadi nasi pecelnya lebih sedap," tuturnya.
Nasi Pecel Tumpang Mbah Yah ternyata juga menjadi langganan warga asli Nganjuk yang mudik ke Bumi Anjuk Ladang ketika lebaran Idul Fitri tiba.
"Kemarin pas hari raya (Idul Fitri), kami buka dua hari. Pelanggan naik tiga kali lipat. Tahun-tahun sebelumnya juga begitu. Kalau hari-hari biasa, paling ramai hari Minggu atau tinggal merah," beber Susi.
Selain Nasi Pecel Tumpang Mbah Yah, di Jalan Imam Bonjol Nganjuk juga ada Nasi Pecel Tumpang Bu Tari. Lokasinya cukup berdekatan. Kedua warung itu sama-sama memakai wadah daun pisang.
(irb/hil)
