Asem-asem Kambing Bu Djum Nganjuk, 44 Tahun Setia Menjaga Cita Rasa

Asem-asem Kambing Bu Djum Nganjuk, 44 Tahun Setia Menjaga Cita Rasa

Bakrie - detikJatim
Minggu, 19 Apr 2026 16:00 WIB
Menikmati Asem-asem Kambing Bu Djum Nganjuk
Asem-asem Kambing Bu Djum Nganjuk (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Aroma kuah segar daging kambing langsung menyergap hidung, begitu kaki melangkah masuk ke warung milik Djumirah (69), di Jalan Lurah Surodarmo, Kelurahan Cangkringan, Kecamatan Nganjuk.

Sesuai namanya, warung asem-asem kambing khas Nganjuk ini dilabeli Warung Bu Djum. Sejak pertama kali dirintis pada 1982, warung tak pernah sepi ditinggal pelanggan.

Djumirah mengatakan, usaha kuliner ini sejatinya merupakan warisan keluarga. Sang ibu lebih dulu berjualan pecel dan asem-asem di Pasar Wage Nganjuk. Dari situlah, resep khas ini terus dijaga hingga kini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dulu ikut ibu jualan, lalu saya lanjutkan sampai sekarang," ujar Bu Djum kepada detikJatim, Rabu (15/4/2026).

ADVERTISEMENT
Menikmati Asem-asem Kambing Bu Djum NganjukMenikmati Asem-asem Kambing Bu Djum Nganjuk Foto: Bakrie

Dalam keseharian, ia dibantu anaknya, Mahmud, (45), untuk melayani pelanggan yang datang silih berganti.

Setiap hari, dapur Bu Djum mengolah sekitar 5 kilogram daging kambing dan 20 kilogram balungan kambing, menjadi sajian khas yang menggoda. Sesekali kepala kambing juga disajikan. Menjadi favorit pelanggan tertentu yang mencari sensasi berbeda.

"Asem-asem kambing khas Nganjuk memang punya ciri khas. Beda dari gule. Ada rasa kuah asam segar yang berasal dari daun kedondong," ungkap Bu Djum.

Selain memberi rasa segar, daun kedondong juga berfungsi menghilangkan aroma prengus pada daging kambing.

Kuahnya berwarna kuning kecoklatan dengan tekstur sedikit kental. Rasa asam berpadu dengan gurih rempah seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, jahe, lengkuas, serai, daun jeruk, hingga daun salam. Sensasi pedas dari cabai merah membuat cita rasa semakin kaya.

Dalam satu porsi, potongan daging kambing dari bagian iga atau paha disajikan dalam mangkuk bersama kuah, krengsengan, dan kecap. Irisan tomat, tauge, serta seledri melengkapi tampilan sekaligus menambah kesegaran. Sajian ini paling nikmat disantap dengan nasi putih hangat.

Tak heran jika warung Bu Djum menjadi jujukan pecinta kuliner, bukan hanya dari Nganjuk, tetapi juga dari luar kota seperti Kediri, Malang, hingga Surabaya.

Dengan harga Rp 50 ribu per porsi lengkap dengan es jeruk, atau Rp 49 ribu dengan es teh, pelanggan sudah bisa menikmati seporsi kelezatan yang menggugah selera.

Bagi Djumirah, menjaga rasa adalah kunci utama bertahannya usaha ini selama lebih dari empat dekade. Perpaduan rasa asam, gurih, pedas, dan segar dalam asem-asem kambing adalah identitas kuliner yang harus terus dilestarikan.

Selain di warung Bu Djum, kuliner khas ini juga dapat ditemukan di beberapa wilayah lain di Nganjuk, seperti Desa Gampeng, Kecamatan Ngluyu, dan Desa Kuncir, Kecamatan Ngetos.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads