Soto Basket, Kuliner Ikonik di Kota Malang yang Bertahan Melintasi Zaman

Soto Basket, Kuliner Ikonik di Kota Malang yang Bertahan Melintasi Zaman

Muhammad Aminudin - detikJatim
Kamis, 14 Mei 2026 18:15 WIB
Waroeng Soto Basket di Malang yang masih eksis sejak 1951
Sajian warung soto basket di Malang (Foto: Muhammad Aminudin/ detikjatim)
Malang -

Di sudut Jalan Majapahit, Kota Malang, hiruk-pikuk kendaraan seolah teredam oleh aroma kaldu yang menenangkan. Dari warung Soto Basket, sebuah kuliner yang bukan sekadar tempat makan, melainkan penjaga memori warga Malang sejak tahun 1950.

Tungku kayu bakar masih setia menyala mengirimkan uap tipis dari panci besar yang telah menjadi saksi bisu perjalanan waktu selama lebih dari 7 dekade. Kesederhanaan adalah nyawa dari warung yang kini dikelola oleh Rahmad Ardiansyah tersebut.

Dinding kuning yang mulai memudar dan tatanan meja kursi yang ala kadarnya justru menjadi identitas Soto Basket di tengah gempuran kafe modern yang menjamur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sini, tradisi memasak yang diwariskan turun temurun dari kakek ke ayah hingga kini sampai di tangan generasi ketiga masih dipertahankan. Nama 'Basket' yang unik ternyata tidak lahir dari meja pemasaran, melainkan dari sebuah romantisme masa lalu.

Rahmad mengisahkan bahwa nama itu merupakan hadiah dari pelanggan setia di masa lampau ketika warung mereka masih berdekatan dengan sebuah lapangan basket. Nama itu terus dijaga sebagai komitmen terhadap sejarah, sebuah identitas yang membuat para penikmat setianya tak pernah kehilangan jejak meski zaman berganti.

ADVERTISEMENT
Waroeng Soto Basket di Malang yang masih eksis sejak 1951Lapak Waroeng Soto Basket di Malang yang masih eksis sejak 1951 Foto: Muhammad Aminudin/ detikjatim)

Berbeda dengan soto daging kebanyakan yang kerap tampil dengan kuah kental atau taburan koya yang melimpah, Soto Basket justru memikat lewat kejujuran rasa. Kuahnya bening, ringan, dan membawa kesegaran yang tulus dari kaldu tulang sapi asli.

Rahmad menegaskan bahwa rahasia kelezatannya terletak pada konsistensi bahan dan teknik pengolahan yang tidak pernah berubah sejak milenium baru menyapa.

"Soto kami tidak menggunakan tambahan koya. Rasa gurihnya berasal dari kaldu tulang sapi yang direbus langsung bersama kuah. Untuk taburan, hanya bawang putih dan bawang merah goreng," ungkap Rahmad kala ditemui di lapak usahanya, Rabu (13/5/2026).

Setiap porsi Soto Basket dibanderol seharga Rp15 ribu itu menyajikan komposisi yang pas untuk disantap. Yakni nasi putih, irisan daging sapi tipis yang empuk, toge segar, serta taburan daun bawang dan bawang goreng yang memberikan tekstur kontras.

Soto Basket mulai buka pukul 7 pagi dan tutup hingga kuah dalam panci besar habis terjual. Meski sederhana, daya pikatnya mampu menembus batas geografis. Tak jarang, pelancong dari mancanegara turut mengantre di antara warga lokal, hanya untuk merasakan sensasi kuliner yang sanggup bertahan lintas generasi ini.

Karena menikmati Soto Basket bukan hanya soal mengenyangkan perut, tapi juga tentang menghargai warisan kuliner yang dimasak dengan penuh rasa dan kayu bakar yang tak pernah padam.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads