Tahu Campur dan Lontong Kikil Pak Sadak masih menjadi salah satu kuliner legendaris yang diburu warga Surabaya lintas generasi. Warung yang telah berdiri lebih dari 35 tahun itu dikenal karena cita rasanya yang disebut tetap konsisten hingga sekarang.
Warung tenda tersebut bahkan disebut mampu menghabiskan hingga 50 kilogram kikil setiap hari. Racikan kuah petis khas berpadu dengan kikil empuk, mie kuning, tauge, tahu, hingga lentho membuat pelanggan rela antre untuk menikmati seporsi tahu campur.
Bagi pelanggan lama seperti Susi (53), warung Pak Sadak sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Ia mengaku mulai menjadi pelanggan sejak masih muda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah dari zaman dulu, dari saya masih muda. Sampai lupa tahun berapanya," kenang Susi kepada detikJatim, Jumat (29/5/2026).
Menurut Susi, rasa tahu campur dan lontong kikil di warung tersebut tidak pernah berubah meski telah puluhan tahun berjualan.
"Kuahnya segar, kikilnya empuk. Dari dulu sampai sekarang rasanya otentik dan konsisten," lanjutnya.
Pelanggan lainnya, Ahian (35), juga mengaku sudah mengenal warung Pak Sadak sejak kecil. Ia bahkan masih mengingat lokasi lama warung yang dulu berada di belakang lokasi saat ini, tepat di samping Universitas 45.
Meski harga per porsi kini mencapai Rp 26 ribu, Ahian menilai rasa yang ditawarkan tetap sebanding dengan kualitas yang diberikan.
Tak hanya pelanggan lama, warung Pak Sadak juga mulai menarik perhatian generasi muda hingga wisatawan. Salah satunya Alya (23), yang sengaja datang usai membaca ulasan kuliner khas Surabaya.
"Dari segi porsi melimpah ya. Rasanya comforting, apalagi dinikmati setelah hujan. Uniknya lagi, tadi minta tambahan kerupuk malah dikasih sepiring penuh," cerita Alya.
Eksistensi Pak Sadak yang mampu bertahan lebih dari tiga dekade dinilai menjadi bukti kuliner legendaris Surabaya masih memiliki tempat di hati pelanggan, baik generasi lama maupun generasi muda.
(auh/hil)