Manajemen Persela Lamongan akhirnya angkat bicara terkait gelombang perpindahan pemain Laskar Joko Tingkir ke PSIS Semarang yang terjadi dalam waktu berdekatan dan memicu polemik di kalangan suporter.
Asisten Pelatih Persela Lamongan Ragil Sudirman menegaskan, proses perpindahan tersebut tidak berlangsung sebagaimana mekanisme transfer pemain pada umumnya.
"Tidak ada biaya transfer maupun kompensasi sama sekali. Padahal secara kontrak, seharusnya ada mekanisme penebusan sisa kontrak," kata Ragil Sudirman saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (9/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ragil, eksodus pemain itu terjadi di tengah masa transisi manajemen Persela. Kondisi tersebut diduga dimanfaatkan untuk memuluskan kepindahan sejumlah pemain ke PSIS. Ragil mengaku memahami betul situasi yang terjadi karena pada periode tersebut dirinya menjabat sebagai pelatih karteker Persela Lamongan.
"Kalau melihat prosesnya, ini bukan transfer dalam arti normal. Saya menilai lebih mendekati pembajakan pemain," tegas pelatih asal Karanggeneng, Lamongan, itu.
Ragil yang kini juga menjadi manajer sementara Persela Lamongan menjelaskan, setelah Fariz mundur, akun LIAS Persela, sistem administrasi resmi liga untuk pengelolaan data klub dan pemain, belum sepenuhnya diserahkan kepada manajemen baru.
Celah tersebut, kata Ragil, dimanfaatkan untuk mengeluarkan beberapa pemain dari sistem Persela.
"Beberapa pemain dikeluarkan dari LIAS dan dibuatkan surat keluar saat masa peralihan manajemen," jelasnya.
Ragil menambahkan, sebagian pemain yang hengkang sejatinya masih sangat dibutuhkan Persela untuk menghadapi lanjutan kompetisi Championship.
"Contohnya Mario Londok. Performanya sedang bagus. Tidak masuk akal kalau pemain seperti itu dilepas begitu saja karena dianggap tidak dibutuhkan," ujar Ragil.
Pernyataan ini sekaligus membantah klaim yang menyebut kepindahan para pemain terjadi karena tidak masuk dalam rencana pelatih baru Persela.
Tercatat ada enam pemain Persela yang kini berseragam PSIS Semarang. Mereka adalah Wawan Febrianto, Ocvian Chanigio, Esteban Vizcarra, Otavio Dutra, Alberto Goncalves (Beto), serta Mario Londok.
Perpindahan massal tersebut terjadi tak lama setelah Fariz Julinar Maurisal mundur dari jabatan CEO Persela Lamongan. Mundurnya Fariz menyusul langkah istrinya yang mengakuisisi saham mayoritas PSIS Semarang.
Situasi ini pun memunculkan pertanyaan besar di kalangan publik sepakbola Lamongan. Pasalnya, para pemain tersebut hengkang di luar periode bursa transfer dan tanpa adanya kompensasi finansial, meski masih terikat kontrak dengan Persela.
(irb/hil)
