Bagaimana mungkin Madura United masih mengamanahkan kursi pelatih pada sosok yang hanya membawa 1 kemenangan dalam 14 laga? Di tangan Carlos Parreira, Laskar Sapeh Kerrab semakin terperosok ke papan bawah.
Madura United makin terjerembap di urutan 16 dengan 20 poin. Tujuh di antaranya disumbangkan Carlos Parreira selama 14 pertandingan. Artinya, catatan rata-rata poin Sapeh Kerrab di bawah komandonya cuma 0,5 di setiap laga.
Sebagai perbandingan, ketika diasuh Alfredo Vera musim ini, Madura mampu meraup 9 poin dari 9 laga. Torehan yang tak begitu cemerlang, tetapi masih lebih tinggi dibanding pelatih sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat dibesut Alfredo Vera, Madura mengemas 8 gol dan 10 kemasukan dari 9 pertandingan. Sementara selama 14 laga bersama Carlos Parreira, Sapeh Kerrab membukukan 14 gol dan 30 kali jebol. Angka bobol yang setara jumlah hari dalam satu bulan.
Selain itu, Madura United juga sempat nihil gol dalam 5 laga beruntun. Namun, persoalan itu sudah mulai teratasi karena sektor depan Sapeh Kerrab sudah mulai klinis dalam beberapa laga terakhir.
Meskipun perkara lini depan mulai menemukan titik terang, kemenangan belum mampu mereka rengkuh dalam 10 laga terakhir. Realita tersebut menampar Madura United. Mereka kini berada di zona degradasi.
Situasi ini semakin riskan sebab tim-tim papan bawah lain perlahan mengalami kebangkitan. Persijap Jepara dan Persis Solo misalnya, keduanya kini sedang dalam tren positif dan berhasil keluar dari zona degradasi.
Kondisi tertatih di papan bawah seperti ini bukan kali pertama dialami Madura United. Musim lalu, upaya Sapeh Kerrab selamat dari degradasi harus ditentukan hingga pekan terakhir Super League.
Perjuangan mati-matian Sapeh Kerrab lepas dari degradasi musim lalu kembali berulang pada musim ini. Jika tak segera menemukan solusi, situasi yang dihadapi Madura United bisa menjadi makin berat.
(auh/dpe)
