Madura United melalui jalan terjal sepanjang musim 2025/2026 hingga bisa lolos dari degradasi. Rakhmad Basuki, pelatih yang menyelamatkan Laskar Sapeh Kerrab dari ancaman tersebut, menceritakan dinamika di dalam tim yang penuh gejolak selama kompetisi.
Di akhir musim, Madura United finis di peringkat 14 dengan 35 angka. Sapeh Kerrab hanya berjarak sejengkal dari garis degradasi yang melumat 34 poin Persis Solo di posisi 16.
Selama kompetisi berlangsung, Madura United konsisten menghuni papan bawah. Rentetan hasil buruk pada awal hingga pertengahan musim membawa mereka terancam di zona rentan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 6 pertandingan pertama liga, tim yang saat itu dilatih Alfredo Vera hanya mampu menang sekali. Selain itu, Sapeh Kerrab juga sempat mengalami 10 laga tanpa kemenangan pada pertengahan musim ketika ditangani Carlos Parreira.
Hasil buruk tersebut berangsur reda usai Rakhmad Basuki yang berstatus asisten ditunjuk sebagai pelatih interim. Kehadirannya mampu mengangkat performa tim hingga akhir musim.
Meski mampu menjaga eksistensi Madura United di kasta tertinggi, Rakhmad mengakui bahwa perjalanan tim ini begitu berat dengan segala persoalan yang menggelayuti.
"Banyak dinamika yang terjadi di dalam tim. Mulai dari pergantian pelatih Alfredo Vera waktu itu sampai masuk Carlos Parreira. Sebetulnya bukan hanya tim kepelatihan yang bertanggung jawab terhadap performa tim yang kurang bagus musim ini. Jadi memang, perekrutan pemain itu juga menjadi salah satu penyebab performa kita kurang bagus musim ini," tutur Rakhmad Basuki kepada detikJatim.
Rakhmad memandang bahwa performa tim saat itu kurang berkembang sebab juru taktik tim belum sepenuhnya menggali potensi yang ada. Ia menilai pelatih sebelumnya kurang memahami potensi dan kapasitas dari komposisi pemain yang tersedia.
"Dari sisi kepelatihan, penggalian potensi tim ini yang saya kira pelatih sebelumnya sedikit terlambat. Saya merasa bahwa sebagai seorang pelatih, saya harus tahu apa yang menjadi potensi dan juga kelemahan dari tim ini," terangnya.
Menurut Rakhmad, Madura United sebetulnya sudah menemukan pakem permainan bersama Alfredo Vera. Namun, pergantian pelatih dengan ditunjuknya Carlos Parreira justru memperburuk situasi tim saat itu.
"Ketika perekrutan pemain, pelatih sebenarnya juga sudah tahu bahwa kita akan bermain dengan umpamanya, 4-3-3 dengan wing play. Tiba-tiba ada pelatih baru dengan ide baru. Itu yang terjadi ketika peralihan pelatih dari Alfredo Vera ke Carlos Parreira," jelasnya.
"Alfredo Vera yang mengusung formasi 4-3-3, itu sebenarnya sudah mulai pakem. Tetapi setelah itu diganti dengan Carlos yang membawa ide baru yang justru lebih senang bermain dengan tiga bek. Artinya peran winger-winger seperti Lulinha atau Sandro waktu itu sudah selesai. Itu yang membuat tim ini semakin terpuruk. Carlos Parreira itu mengusung ide yang sebetulnya tidak sesuai dengan potensi di tim," ujarnya menambahkan.
Pada momen tersebut, Madura United begitu tertatih. 10 laga tanpa kemenangan menguras kepercayaan diri para penggawa Sapeh Kerrab.
Bahkan, kondusivitas tim sempat terganggu akibat pertengkaran antar pemain. Rasa frustasi melingkupi seluruh skuad Sapeh Kerrab setelah rentetan hasil buruk yang mendera.
Kemudian, Rakhmad ditugaskan untuk memimpin tim. Langkah pertama yang ia ambil adalah mengangkat motivasi para pemain dan mengembalikan kekompakan.
"Saya coba berbicara terbuka kepada pemain bahwa kita tidak bisa membiarkan ini terjadi terus menerus karena yang bisa memperbaiki kondisi ini ya mereka sendiri. Hingga kemudian kondusivitas di dalam tim itu bisa kita jaga bersama meskipun banyak hal yang terjadi. Bahkan kadang di latihan ada pemain berantem," paparnya.
Saat krisis itu terjadi, Rakhmad menekankan kepada para pemain untuk mengutamakan introspeksi. Ia tidak ingin penggawa Madura United saling menyalahkan atas anjloknya performa tim.
"Ketika kita kalah, semua pemain saling menyalahkan. Itu yang saya ubah. Bahwa ketika kalah, coba untuk tidak menunjukkan jarimu itu ke depan, tetapi tunjukkan jarimu itu ke diri sendiri," tegasnya.
"Artinya, jangan merasa bahwa ketika kalah, itu semua pemain saling tunjuk saling menyalahkan. Coba sekali-sekali merasa diri sendiri yang salah sehingga masing-masing pemain itu bisa belajar dari kekalahan. Itu yang selalu saya ingatkan kepada pemain," sambungnya.
Pelatih asal Pamekasan itu menyebut bahwa keterpurukan saat itu menjadi periode tersulitnya selama berperan di tim senior Madura United. Ia memaparkan, rasa saling percaya bahkan sudah memudar di antara seluruh penggawa.
"Selama berada di tim Madura United senior, periode itu yang sangat buruk. Jadi, antar pemain sudah tidak saling percaya, pemain ke pelatih sudah tidak saling percaya," ungkapnya.
Musim depan Rakhmad berharap berharap agar Madura United tak perlu lagi bersaing untuk menghindari degradasi. Ia menuntut tim untuk mempersiapkan kompetisi mendatang dengan sebaik mungkin.
"Ini tidak boleh seperti ini lagi, dari awal kita harus benar-benar mempersiapkan diri dengan baik. Karena dua tahun sudah kami berjuang di zona degradasi dan itu sangat berat," pungkasnya.
(auh/abq)