Manajemen Arema FC mengambil sikap tidak akan tinggal diam dalam mempertahankan salah satu identitas paling ikonik mereka, logo Singa Bertindik. Konflik perebutan hak kekayaan intelektual ini memasuki babak baru.
Manajemen Singo Edan secara resmi melayangkan keberatan hukum atas pendaftaran logo tersebut oleh pihak lain, sekaligus mengajukan permohonan resmi ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).
Polemik ini bukan sekadar urusan administrasi di atas kertas. Bagi Arema FC, logo Singa Bertindik membawa beban sejarah, emosi, dan kebanggaan kolektif yang mendalam bagi klub maupun Aremania.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesadaran inilah yang memicu manajemen bergerak cepat begitu mengendus adanya pihak luar yang mencoba mematenkan simbol legendaris tersebut.
General Manager Arema FC M Yusrinal Fitriandi mengungkapkan langkah hukum dan administratif ini diambil demi menjaga marwah klub. Pihaknya kini memilih untuk menghormati seluruh mekanisme birokrasi yang sedang berjalan di pemerintahan, sembari menunggu kepastian hukum yang mutlak.
"Kami sudah menyampaikan keberatan terhadap proses yang dilakukan pihak lain terkait pendaftaran logo tersebut. Bagi Arema FC, logo Singa Bertindik bukan sekadar simbol visual," ujar Yusrinal kepada wartawan, Kamis (11/6/2026).
"Tetapi bagian dari identitas klub yang memiliki sejarah panjang dan melekat dalam perjalanan Arema. Karena itu, kami mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi identitas tersebut sesuai ketentuan hukum yang berlaku," sambungnya.
Saat ini, manajemen memastikan proses pendaftaran tandingan yang mereka ajukan ke DJKI berjalan di jalur yang tepat.
Kendati demikian, Yusrinal mengingatkan publik dan pendukung setia Arema FC bahwa perjuangan ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Dokumen legalitas dari pemerintah menjadi fondasi krusial sebelum klub bisa menentukan langkah strategis berikutnya.
"Yang perlu dipahami publik adalah bahwa Arema FC sudah mendaftarkan logo Singa Bertindik melalui jalur resmi. Saat ini prosesnya masih berjalan dan berada pada jalur yang semestinya atau on track," katanya.
Namun, mendapatkan hak paten rupanya barulah babak pertama dari sebuah transformasi besar. Yusrinal meluruskan persepsi publik bahwa terbitnya legalitas dari pemerintah tidak akan serta-merta mengubah wajah Arema FC dalam semalam.
Sebagai sebuah korporasi sepak bola profesional, ada jaring bisnis yang sangat kompleks yang harus diurai secara hati-hati sebelum logo baru benar-benar diimplementasikan.
Perubahan identitas visual akan membawa efek domino yang masif. Manajemen harus menghitung dampak transisi ini pada kontrak sponsor yang sedang berjalan, aset digital, produksi merchandise, dokumen resmi perusahaan, hingga perlengkapan tanding tim yang melibatkan banyak vendor dan mitra komersial.
"Setelah legalitas kami terima, bukan berarti keesokan harinya logo bisa langsung digunakan secara menyeluruh. Arema FC adalah perusahaan yang memiliki banyak kerja sama strategis dengan sponsor, vendor, mitra produksi, partner komersial, hingga berbagai pihak lain yang terlibat dalam operasional klub," jelasnya.
Manajemen Arema FC berjanji akan mengawal transisi ini secara bertanggung jawab demi meminimalkan risiko bisnis tanpa mengorbankan nilai historis klub. Yusrinal mengajak seluruh Aremania tetap tenang, mempercayakan proses hukum kepada manajemen, dan terus memberikan dukungan positif demi masa depan Singo Edan.
"Kami memahami besarnya perhatian dan kecintaan Aremania terhadap identitas Arema. Oleh sebab itu, kami akan memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan, transparan, dan mengutamakan kepentingan terbaik bagi klub," pungkasnya.
(irb/dpe)