Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al-Maghribi, Wisata Religi Unik di Tuban

Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al-Maghribi, Wisata Religi Unik di Tuban

Muhammad Faishal Haq - detikJatim
Sabtu, 27 Des 2025 23:00 WIB
Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al Maghribi Tuban
Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al Maghribi Tuban Foto: Istimewa (dok.Instagram)
Tuban -

Jika umumnya kubah masjid dibangun menjulang tinggi seolah menggapai langit, pemandangan berbeda justru dapat ditemukan di Kabupaten Tuban. Di kota yang dikenal sebagai Bumi Wali ini sebuah masjid berdiri tersembunyi jauh di bawah permukaan tanah menawarkan keheningan yang tidak lazim. Masjid itu bernama Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al-Maghribi, sebuah karya arsitektur unik yang tidak menantang alam, melainkan menyatu dengannya.

Berlokasi di Kelurahan Gedongombo, Kabupaten Tuban, masjid ini mengajak pengunjung menelusuri lorong-lorong gua alami sebelum tiba di ruang utama ibadah. Bukan pilar beton yang menyambut jamaah, melainkan formasi stalaktit dan stalagmit purba yang dipadukan dengan ornamen kaligrafi. Perjalanan menuju masjid ini bukan sekadar wisata religi, tetapi juga pengalaman spiritual yang membawa pengunjung meninggalkan hiruk-pikuk dunia luar menuju keheningan "perut bumi" yang menenangkan jiwa.

Daya Tarik Masjid Aschabul Kahfi

Dilansir dari laman detikJatim, daya tarik utama Masjid Aschabul Kahfi terletak pada lokasinya yang tersembunyi di dalam gua. Dari permukaan, bangunan masjid nyaris tak terlihat, kecuali gerbang masuknya. Keunikan ini menjadikannya fenomena arsitektur religi yang langka, sekaligus memperkuat identitas Tuban sebagai Kota Seribu Gua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memasuki area dalam, pengunjung disuguhi perpaduan arsitektur bergaya "1001 Malam" khas Timur Tengah dengan sentuhan budaya Jawa. Struktur alami gua tetap dipertahankan melalui stalaktit yang menggantung di langit-langit dan stalagmit yang berdiri kokoh di lantai, berpadu dengan pilar-pilar masjid yang megah. Pencahayaan temaram dengan sorot lampu artistik menciptakan suasana magis sekaligus khusyuk.

Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al Maghribi TubanMasjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al Maghribi Tuban Foto: Istimewa (dok.Instagram)

Detail ornamen masjid digarap dengan cermat. Gapura depan dihiasi ukiran huruf Arab dan aksara Jawa kuno, sementara kubah masjid dihiasi lukisan ayat-ayat Al-Qur'an. Posisi kubah dibuat tidak terlalu tinggi, menyesuaikan struktur tanah di dalam gua. Untuk mencapai ruang utama, pengunjung harus menuruni anak tangga yang melewati lorong-lorong kecil menyerupai bilik gua, dihiasi batu alam dan permainan lampu warna-warni.

ADVERTISEMENT

Letaknya yang berada di bawah tanah membuat suasana masjid terasa sangat hening dan sejuk, jauh dari kebisingan kendaraan maupun aktivitas kota. Kondisi ini menjadikan Masjid Aschabul Kahfi ideal untuk beribadah dengan khusyuk, termasuk untuk i'tikaf dan perenungan. Di area permukaan tanah, tersedia ruang terbuka yang kerap dimanfaatkan jamaah dan wisatawan untuk beristirahat setelah beribadah.

Sejarah Penemuan Gua Gedongombo

Dikutip dari jurnal berjudul "Sejarah Perkembangan Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al-Maghribi Tuban (2002-2021)" karya Erni Mulyati Wahyuningtyas, kawasan ini pada mulanya merupakan gunung bernama Gunung Gedongombo. Wilayah tersebut dikenal sangat angker dan dijuluki "Jalmo moro Jalmo mati"-siapa pun yang datang dipercaya akan hilang atau meninggal dunia.

Keangkeran tersebut diyakini menghambat para mubaligh yang hendak menyebarkan Islam di wilayah Tuban. Para wali kemudian bermusyawarah di Gua Gumbul, dihadiri tokoh-tokoh besar seperti Syekh Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dan Mbah Asy'ari (Sunan Bejagung), dengan pimpinan Mbah Mustaqim dari Tulungagung. Hasil musyawarah memutuskan untuk mengundang Syekh Maulana Maghribi dari Maroko.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, setibanya di lokasi, Syekh Maulana Maghribi menginjak atau menendang gunung tersebut hingga tanahnya amblas dan berubah menjadi gua. Peristiwa supranatural ini dipercaya membuat para makhluk halus meninggalkan kawasan tersebut, sehingga wilayah Gedongombo menjadi aman dihuni.

Syekh Maulana Maghribi kemudian menitipkan gua tersebut kepada muridnya, Putri Ayu Sendangharjo, yang menghabiskan sisa hidupnya bertapa di dalam gua. Masyarakat juga meyakini dasar gua ini sebagai petilasan Syekh Maulana Malik Ibrahim, salah satu wali tertua di Jawa.

Awal Berdirinya Masjid

Pendirian Masjid Aschabul Kahfi bermula dari perjalanan spiritual Kiai Subhan Mubarok. Selama sekitar tiga tahun, ia melakukan istikharah untuk menemukan gua yang kerap muncul dalam mimpinya. Pada tahun 2002, pencarian itu berakhir ketika ia menemukan gua di Kelurahan Gedongombo dan membelinya dari warga setempat.

Umat muslim memasuki area masjid Aschabul Kahfi di Tuban, Jawa Timur, Senin (18/3/2024). Masjid seluas tiga hektare yang dibangun pada 2002 itu berada di dalam gua bawah tanah sehingga menarik wisatawan untuk berkunjung dan beribadah terutama pada bulan Ramadhan. ANTARA FOTO/Muhammad Mada/Spt.Umat muslim memasuki area masjid Aschabul Kahfi di Tuban, Jawa Timu Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Mada

Saat itu, kondisi gua sangat memprihatinkan. Selama sekitar 15 tahun, lokasi tersebut digunakan sebagai tempat pembuangan sampah oleh Pemerintah Kabupaten Tuban. Kawasan dipenuhi semak belukar dan menjadi sarang ular. Sebelum pembangunan dimulai, Kiai Subhan bersama para santri dan ulama menggelar istighosah dan doa bersama.

Sebanyak 38 santri kemudian bergotong royong membersihkan gua secara manual selama 18 bulan. Setelah layak digunakan, kawasan ini dijadikan pusat pendidikan agama bernama Pondok Pesantren Perut Bumi Al-Maghribi, sementara masjid di dalamnya diberi nama Masjid Aschabul Kahfi.

Umat muslim memasuki area masjid Aschabul Kahfi di Tuban, Jawa Timur, Senin (18/3/2024). Masjid seluas tiga hektare yang dibangun pada 2002 itu berada di dalam gua bawah tanah sehingga menarik wisatawan untuk berkunjung dan beribadah terutama pada bulan Ramadhan. ANTARA FOTO/Muhammad Mada/Spt.Suasana area masjid Aschabul Kahfi di Tuban, Jawa Timur Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Mada

Pesantren ini aktif di bawah asuhan Kiai Subhan Mubarok hingga wafatnya pada 2015. Meski banyak santri meninggalkan pondok, sebagian memilih bertahan dan terus merawat masjid sebagai bentuk pengabdian kepada sang guru. Hingga kini, Masjid Aschabul Kahfi tetap berfungsi sebagai tempat ibadah sekaligus destinasi wisata religi unggulan di Tuban, yang terus mengalami pemugaran.

Bagi siapa pun yang mencari pengalaman spiritual yang berbeda, Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al-Maghribi menawarkan ketenangan yang jarang ditemui. Di antara dinginnya dinding gua dan temaram cahaya lampu yang menyorot lafaz Ilahi, sujud terasa lebih dalam dan doa pun mengalir lebih khusyuk-sebuah pengalaman beribadah di perut bumi yang meninggalkan kesan mendalam.

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di BeritaKlik.




(ihc/ihc)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads