Ngabuburit Toleransi di Taman Bhinneka Surabaya, Ada Kultum-Takjil

Ngabuburit Toleransi di Taman Bhinneka Surabaya, Ada Kultum-Takjil

Chilyah Auliya - detikJatim
Selasa, 10 Mar 2026 14:15 WIB
Ngabuburit di Taman Bhinneka Surabaya
Ngabuburit di Taman Bhinneka Surabaya/Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim
Surabaya -

Taman Bhinneka Nusantara di kawasan Keputih, Surabaya, menjadi salah satu destinasi pilihan warga untuk menikmati suasana Ramadan 2026. Mengusung konsep eduwisata wawasan kebangsaan, taman ini menawarkan pengalaman ngabuburit yang berbeda di tengah miniatur rumah adat hingga pustaka lintas agama.

Selama bulan suci Ramadan, pengelola menyesuaikan jam operasional agar pengunjung lebih leluasa menikmati suasana sore hingga malam hari.

Ngabuburit di Taman Bhinneka SurabayaNgabuburit di Taman Bhinneka Surabaya Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim

"Saat Ramadan ini kita buka lebih siang dan tutup lebih malam. Kita siapkan lagu Taman Bhinneka yang bernuansa Ramadan agar saudara kita yang Muslim bisa merasakan ini adalah taman mereka," ujar Pengelola Manajemen Taman Bhinneka Nusantara, Rusli Suleiman, Selasa (10/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan informasi pengelola, taman dibuka mulai pukul 11.30 WIB hingga 20.00 WIB pada hari kerja. Sementara saat akhir pekan, taman sudah dapat dikunjungi sejak pukul 09.00 hingga 20.00 WIB.

ADVERTISEMENT

Salah satu daya tarik selama Ramadan adalah kegiatan kultum yang digelar setiap Sabtu, yakni pada 7 dan 14 Maret 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan tokoh lintas agama untuk memperkuat nilai persatuan. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati takjil gratis yang dibagikan mulai pukul 17.00 hingga 18.30 WIB.

Di area taman, pengunjung dapat melihat berbagai miniatur rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia yang dilengkapi papan informasi. Selain itu, terdapat amphitheatre, miniatur rumah ibadah atau pustaka lintas agama, kafe dengan suasana teduh, serta berbagai fasilitas edukatif lainnya.

General Manager Taman Bhinneka Nusantara, Michael J. Pesik mengatakan suasana toleransi di tempat ini menjadi salah satu nilai utama yang ingin dihadirkan kepada pengunjung.

Ngabuburit di Taman Bhinneka SurabayaNgabuburit di Taman Bhinneka Surabaya Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim

"Kita melihat umat Buddha berdoa di pustaka, yang Muslim ceramah, dan Katolik misa di saat bersamaan. Itu merinding sekali karena nilai itu yang kita tonjolkan, bisa berdampingan tanpa ada komplain. Saya bangga Surabaya penuh toleransi," ungkap Michael.

Menurutnya, Taman Bhinneka Nusantara tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami keberagaman budaya dan agama di Indonesia.

Taman ini terus melakukan pengembangan dengan berbagai inovasi bangunan serta program pemberdayaan masyarakat. Rusli menjelaskan bahwa gagasan membangun taman ini berawal dari keinginan memanfaatkan lahan kosong sekaligus menghadirkan ruang edukasi tentang wawasan kebangsaan.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Yayasan Pondok Kasih dan mendapat dukungan warga sekitar, khususnya masyarakat Keputih dan bantaran yang selama ini telah merasakan berbagai program sosial dari yayasan tersebut.

Salah satu proyek yang sedang disiapkan adalah pembangunan "Surabaya Corner" atau Taman Surabaya seluas sekitar 250 meter persegi yang diinisiasi oleh salah satu kampus swasta di Surabaya.

"Di situ kita buatkan ikon-ikon Surabaya secara miniatur, mulai dari Patung Sura dan Baya, Tugu Pahlawan, Monumen Kapal Selam, hingga Jembatan Suramadu mini yang bisa diseberangi. Kita sedang siapkan mini museumnya agar pengunjung bisa belajar sejarah Surabaya secara spesifik," jelas Rusli.

Selain itu, pada kuartal kedua 2026 atau sekitar April, pengelola juga berencana meluncurkan Taman Ketahanan Pangan sebagai simbol pengamalan Sila Kelima Pancasila.

Ngabuburit di Taman Bhinneka SurabayaNgabuburit di Taman Bhinneka Surabaya Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim

"Anak-anak bisa belajar pertanian perkotaan, ada sawah, budidaya ikan, hingga menanam sayuran hidroponik di lahan sempit. Kami juga berencana melatih warga sekitar bantaran tempat pembuangan sampah untuk membentuk UMKM agar ekonomi mereka terbantu," tambahnya.

Konsep eduwisata yang diusung Taman Bhinneka Nusantara juga menarik perhatian kalangan akademisi. Banyak mahasiswa, mulai dari peserta KKN hingga mahasiswa baru, menjadikan tempat ini sebagai objek penelitian.

Meski sempat menghadapi kendala kerusakan fasilitas akibat lonjakan pengunjung pada awal pembukaan, pihak pengelola kini menerapkan sistem manajemen yang lebih tertata agar kenyamanan pengunjung tetap terjaga.

"Untuk fasilitas khusus seperti tour guide, kita batasi maksimal sekitar empat sekolah sehari agar pengunjung tetap nyaman dan fasilitas tetap terjaga," pungkas Michael.




(dpe/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads