Jembatan Kaca Seruni Point di kawasan Gunung Bromo segera dibuka untuk wisatawan. Menjelang musim libur sekolah, destinasi yang digadang-gadang menjadi jembatan kaca pertama di Indonesia itu telah menjalani pemeriksaan akhir guna memastikan aspek keamanan dan kelayakan operasional.
Hasilnya, jembatan ini lulus uji coba beban hingga 6 ton. Selain itu, jembatan ini dirancang bertahan hingga 50 tahun.
Berdiri di ketinggian 83 meter dengan panjang mencapai 130 meter, jembatan kaca ini menawarkan pengalaman berjalan di atas lantai transparan dengan panorama Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Semeru, hingga hamparan lautan pasir yang dapat dinikmati dalam satu sudut pandang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjelang agenda pre-launching, sejumlah pejabat dari Kementerian Kehutanan, Kementerian PUPR, TNBTS, Pemerintah Kabupaten Probolinggo, hingga Forkopimcam Sukapura melakukan inspeksi langsung ke lokasi pada Kamis (25/6/2026).
Mereka berjalan di atas lantai kaca sepanjang 130 meter guna memastikan kesiapan infrastruktur yang diklaim sebagai jembatan kaca pertama di Indonesia.
PPK Balai Geoteknik, Terowongan, dan Struktur (BGTS) Kementerian PUPR Agung Wahyudi menegaskan, jembatan tersebut aman digunakan pengunjung setelah melalui berbagai pengujian teknis.
"Hasil pengujian menunjukkan lapisan kaca bagian bawah baru mengalami retak pertama setelah menerima beban sebesar 6.290 kilogram atau sekitar 6,2 ton. Uji kemudian diteruskan hingga lapisan kaca bagian atas pecah pada beban 3.980 kilogram" ujar Agung, Jumat (26/6/2026).
Menurut Agung, jembatan menggunakan material laminated glass yang terdiri atas tempered glass dan lapisan SentryGlass Plus (SGP). Setiap panel kaca memiliki ketebalan total 25,52 milimeter.
Ia menambahkan, simulasi operasional juga telah dilakukan dengan menempatkan delapan orang dewasa secara bersamaan di atas jembatan.
"Jembatan seperti manusia yang perlu dirawat agar bisa bertahan lama. Karena merupakan konstruksi buatan, jembatan juga membutuhkan perawatan berkala serta penggantian sejumlah komponen tertentu" tambahnya.
Agung menjelaskan struktur utama jembatan dirancang memiliki umur layanan hingga 50 tahun. Namun, sejumlah komponen nonstruktural tetap membutuhkan penggantian secara berkala.
"Kerusakan kecil yang tidak segera ditangani berpotensi berkembang menjadi titik kritis yang dapat memengaruhi keamanan jembatan secara keseluruhan" tegasnya.
General Manager The Lawu Group Achmad Ridho mengatakan pihaknya telah menyiapkan sistem pemeliharaan khusus dengan melibatkan tim internal yang telah terlibat sejak tahap pembangunan.
"Berdasarkan pengalaman mengelola Jembatan Kaca Kemuning, manajemen membentuk tim yang sejak awal sudah terlibat dalam proses pembangunan hingga tahap pengujian" kata Ridho.
Ridho menambahkan, pengalaman wisata yang ditawarkan tidak hanya sensasi berjalan di atas kaca transparan.
"Tak hanya menawarkan sensasi berjalan di atas lantai kaca transparan, jembatan yang mulai dibangun pada September 2021 ini juga menghadirkan pemandangan khas Bromo dari sudut pandang berbeda" ujar Ridho.
Kepala Disporapar Kabupaten Probolinggo Heri Mulyadi menyebut jembatan kaca tersebut memiliki daya tarik visual yang sulit ditemukan di destinasi lain.
"Dari atas jembatan, wisatawan dapat menikmati panorama kawasan Bromo dari sudut baru. Pemandangan Gunung Bromo, Gunung Semeru, dan Gunung Batok dapat terlihat dalam satu bingkai sekaligus dari atas lantai kaca transparan" kata Heri.
Selain panorama gunung, wisatawan juga dapat menikmati hamparan lautan pasir, lembah, dan perbukitan hijau dari sisi selatan kawasan.
Heri optimistis kehadiran Jembatan Kaca Seruni Point akan menjadi ikon wisata baru di kawasan Bromo dan mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
(irb/hil)
