Keluhan wisatawan mengenai oleh-oleh keripik buah khas Kota Batu yang memiliki isi "tak seramai bungkusnya" masih menjadi persoalan di Kota Batu. Fenomena kemasan besar dengan isi yang minim ini disorot tajam karena dinilai bukan lagi sekadar urusan trik dagang biasa, melainkan ancaman nyata bagi citra Kota Batu sebagai kota wisata.
Istilah "kemasan angin" sendiri merujuk pada produk camilan yang dijual dalam bungkus plastik atau aluminium foil berukuran besar dan menggembung, namun volume isinya sangat sedikit. Ruang kosong yang mendominasi bungkus tersebut kerap memicu salah paham bagi pembeli yang mengira porsi di dalamnya melimpah.
Secara teknis, ruang kosong tersebut sebenarnya diisi oleh gas nitrogen yang berfungsi sebagai bantalan pelindung agar keripik buah tidak mudah hancur atau remuk selama proses distribusi dan penataan di rak toko. Selain sebagai pelindung fisik, gas ini juga berguna untuk mengusir oksigen guna mencegah oksidasi, sehingga keripik buah tetap renyah, tidak mudah tengik, dan tahan lama tanpa pengawet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, yang menjadi polemik hingga dikritik tajam adalah ketika takaran gas dan ruang kosong tersebut sengaja dibuat jauh melebihi standar kebutuhan perlindungan produk. Ketika bungkus sengaja didesain ekstra besar hanya demi mengejar visualisasi produk yang tampak "banyak", praktik ini bergeser dari kebutuhan teknis menjadi trik pemasaran yang mengelabui konsumen.
Pengamat pariwisata dari Universitas Brawijaya (UB), Faidlal Rahman, menilai dampak dari praktik ini jauh lebih besar daripada sekadar persoalan komoditas oleh-oleh. Menurut pria yang akrab disapa Faid ini, oleh-oleh merupakan satu kesatuan utuh dari pengalaman wisata.
"Jika wisatawan merasa 'tertipu' saat membeli oleh-oleh, maka yang rusak bukan hanya citra satu toko, melainkan brand Kota Batu sebagai destinasi yang dipercaya wisatawan," ujar Faid kepada detikJatim, Rabu (8/7/2026).
Faid menyayangkan hal ini karena Pemerintah Kota Batu telah menggelontorkan anggaran hingga miliaran rupiah demi mempromosikan pariwisata daerah. Namun, investasi besar tersebut dipertaruhkan akibat praktik dagang yang mengikis kepercayaan publik.
"Reputasi destinasi dibangun bertahun-tahun, tetapi bisa rusak hanya dalam hitungan jam melalui media sosial," tegasnya.
Keluhan mengenai porsi keripik buah ini sejatinya merupakan cerita lama yang terus berulang setiap tahunnya. Faid mengkategorikan penggunaan kemasan yang sengaja dibuat jauh lebih besar untuk menciptakan persepsi isi yang melimpah ini sebagai bentuk misleading marketing atau pemasaran yang menyesatkan.
Langgengnya praktik ini membuktikan bahwa ekosistem pariwisata di Batu gagal belajar dari kritik masa lalu. Faid menegaskan bahwa jika suatu masalah terus berulang tanpa penyelesaian, maka akar masalahnya terletak pada sistem tata kelola destinasi, bukan lagi sekadar kenakalan oknum pedagang.
Meskipun efeknya tidak serta-merta membuat Kota Batu sepi hari ini, ancaman wisatawan meninggalkan kota dingin ini sangat nyata. Di era digital, wisatawan kini lebih memercayai ulasan organik di platform seperti TikTok, Google Review, atau konten kreator dibanding iklan resmi pemerintah.
"Sekali muncul narasi bahwa 'oleh-oleh Batu mengecewakan', maka persepsi negatif itu akan terus direproduksi oleh wisatawan berikutnya. Yang berbahaya bukan hanya kehilangan pembeli keripik, tetapi hilangnya kepercayaan terhadap seluruh ekosistem wisata Kota Batu. Dalam teori pemasaran destinasi, kehilangan kepercayaan jauh lebih mahal daripada kehilangan satu kali transaksi," tuturnya.
Faid tidak menampik adanya alasan teknis di balik pengemasan keripik buah, seperti kebutuhan ruang udara agar produk tidak hancur selama proses distribusi. Namun, ia memberikan batasan tegas kapan hal tersebut berubah menjadi tindakan manipulatif.
"Ketika ruang kosong sudah jauh melebihi kebutuhan perlindungan produk hingga membentuk persepsi yang keliru terhadap jumlah isi, maka itu sudah masuk ke wilayah deceptive packaging. Ukurannya sederhana, kalau mayoritas konsumen merasa tertipu setelah membuka kemasan, berarti desain kemasan tersebut gagal memenuhi prinsip transparansi," ungkap Faid.
Secara moral bisnis, strategi "kemasan angin" ini dinilai mencederai prinsip keadilan dan keterbukaan. Keuntungan instan yang didapat oleh segelintir pelaku usaha nakal harus dibayar mahal oleh seluruh pelaku pariwisata lain, seperti perhotelan, restoran, hingga UMKM jujur yang ikut terkena dampak buruknya.
Lebih lanjut, Faid mengkritik keras pola pengawasan yang selama ini berjalan. Ia meminta agar kesalahan tidak ditimpakan sepenuhnya kepada pedagang, sebab pemerintah daerah memegang regulasi dan kewajiban moral untuk melindungi konsumen.
"Kalau keluhan yang sama terus muncul setiap tahun, maka ini menunjukkan pengawasan belum efektif. Yang dibutuhkan bukan hanya sidak ketika viral, tetapi sistem pembinaan, audit berkala, standardisasi kemasan, serta pengawasan yang konsisten," terang Faid.
Ia menilai, pergerakan pemerintah yang baru responsif setelah gaduh di media sosial menandakan bahwa yang bekerja selama ini bukanlah sistem pengawasan internal, melainkan murni karena tekanan publik.
Guna memutus rantai masalah ini, Faid mendesak pemerintah untuk berhenti bersikap reaktif dan segera mengambil tindakan konkret yang terstruktur, seperti audit produk, standarisasi kemasan, insentif UMKM jujur, penyediaan sistem pengaduan cepat hingga sanksi tegas bagi pelaku usaha yang menyesatkan konsumen.
Faid mengingatkan bahwa di era modern, ketidakjujuran bukan lagi sekadar kesalahan taktik bisnis kecil, melainkan ancaman fatal terhadap daya saing sebuah daerah wisata.
"Pariwisata tidak dibangun dari seberapa besar baliho promosi yang dipasang, tetapi dari seberapa besar kepercayaan wisatawan yang mampu dipertahankan. Sekali wisatawan merasa dibohongi, mereka mungkin masih datang kembali ke Kota Batu, tetapi belum tentu mereka mau membeli produk lokalnya lagi. Yang lebih berbahaya, mereka akan menceritakan pengalaman buruk itu kepada ribuan orang melalui media sosial," tandasnya.
(auh/abq)
