Deretan bendera Merah Putih mulai menghiasi sejumlah sudut jalan menjelang peringatan HUT ke-81 RI. Namun, harapan meraup untung tak sepenuhnya dirasakan para pedagang musiman.
Salah satunya Mbah Ponikem (87), penjual bendera asal Gondomanan, Kota Jogja. Ia mengaku dagangannya tahun ini jauh lebih sepi dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Lapak bendera milik Mbah Ponikem berjajar rapi di salah satu sudut Jalan Suryotomo yang berada dekat Hotel Melia Purosani. Ia tampak duduk di kursi plastik, setia menanti pembeli yang datang menghampiri lapaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mbah Ponikem sudah empat tahun menjual bendera jelang HUT RI di kawasan tersebut. Di usianya yang tak lagi muda, ia memilih berjualan demi mengisi waktu sekaligus mencari nafkah.
"Ya buat kesibukan. Sekalian cari makan, Nak. Daripada di rumah cuma bengong," kata Mbah Ponikem saat ditemui di lapaknya, Jalan Suryotomo, Kota Jogja, Jumat (7/8/2026).
Ia mengaku mulai berjualan sekitar 10 hari lalu dan akan terus berjualan hingga 17 Agustus mendatang. Setiap hari, Mbah Ponikem membuka lapaknya sejak pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB.
"Sepi. Sepi sekali. Tahun lalu masih lumayan ramai, sekarang kok sepi," ungkapnya.
Kondisi itu pun berdampak langsung pada penghasilannya. Jika pembeli ramai, Mbah Ponikem bisa mengantongi omzet hingga Rp 300 ribu dalam sehari. Namun belakangan, pendapatannya anjlok.
"Kalau ramai bisa Rp 300 ribu. Kemarin cuma dapat Rp 100 ribu. Hari ini sampai sekarang belum dapat sama sekali," ujar dia.
Mbah Ponikem (87) penjual bendera Agustusan saat ditemui di lapaknya, Jalan Suryotomo, Kota Jogja, Jumat (7/8/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja |
Bendera yang dijual Mbah Ponikem bervariasi, mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu untuk ukuran besar yang biasa digunakan kantor. Mbah Ponikem mengaku hanya menjualkan bendera dengan sistem titip jual. Barang yang tidak laku akan dikembalikan kepada pemasok yang juga tetangganya.
"Saya cuma ambil titipan. Nanti kalau tidak habis ya dikembalikan. Kalau laku baru setor, saya ambil untungnya saja," jelasnya.
Selain berjualan bendera setiap momen kemerdekaan, sehari-hari Mbah Ponikem juga berjualan minuman kemasan dan rokok di lokasi yang sama. Mbah Ponikem sudah menggelar lapaknya sejak 20 tahun lalu, dan baru empat tahun terakhir menerima titipan bendera.
"Kalau sehari-hari saya jual minuman sama rokok. Kalau tidak jualan bendera ya tetap di sini, jual Aqua," tuturnya.
Meski penjualannya lesu, Mbah Ponikem tetap berharap dagangannya membaik hingga puncak peringatan HUT RI.
"Amin. Doakan ya, Nak. Doakan semoga rezekinya lancar," katanya.
"Semoga diberi umur panjang, diberi rezeki. Jangan lupa berdoa, jangan lupa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, jalankan juga kewajiban," pungkasnya sambil tersenyum.
(ams/apu)


Komentar Terbanyak
Mahasiswa UGM Terancam Sanksi Buntut Hina Pasien BPJS Yurizal
Ancaman Sanksi Pemasang Pelang Jalan Malioboro Ilegal
Curhat Pedagang di Jogja Malah Sepi Pembeli Usai Pasar Direnovasi