Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada Sabtu (29/11) menyisakan banyak cerita pilu. Salah satunya yang dialami Muhammad Fahmi.
Ditemui detikSumut di dekat rumahnya yang hancur pada Selasa (9/12), Fahmi menceritakan momen menegangkan ketika banjir menerjang daerah tempat tinggalnya. Ketinggian air saat itu mencapai 3 meter.
Rumah-rumah sudah terendam dan hanya menyisakan atap. Demi bertahan hidup, Fahmi dan anaknya harus berenang mencari makanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di awal harus turun tangan sendiri dalam keadaan bahaya, termasuk ini anak kita, lompat ini kedalaman 3 meter lebih untuk cari makanan, udah 4 hari nggak (makan), dia cari ke kota dari seng ke seng," ceritanya.
Sang anak berusaha mencari makan ke daerah kota. Gedung sekolah yang menjadi pengungsian terdekat berjarak 1 kilometer dari rumah mereka. Namun, untuk melalui jarak segitu saja, mereka butuh waktu 10 jam berenang.
"Ke kota dari sini sekitar 1 kilometer, perjalanannya mulai jam 8 (pagi), jam 6 sore nyampe sana," kata Fahmi.
Sayangnya, mereka tidak mendapatkan makanan ketika sampai di tempat pengungsian. Tak ingin perjalanan jauh itu sia-sia, anaknya kemudian mengambil roti-roti yang hanyut dari toko.
"Nggak ada (makanan tersedia). Makanan yang hanyut-hanyut itulah dari toko-toko itu yang diambil," tuturnya.
Selama berenang, anak Fahmi beberapa kali bertemu dengan korban lain yang juga bertahan di atap rumah yang tersisa. Salah satunya yakni seorang bapak-bapak. Ia minta tolong dievakuasi, namun setelah itu jatuh ke air dan hanyut.
"Sama-sama di atap rumah, jadi ditanya, 'Bapak yang minta tolong kemarin?', 'Cemana (bagaimana) kami mau nolong Bapak, kami ke sini aja berenang'. Ya udah bapak di situ dulu, kata anak-anak," kata Fahmi menceritakan percakapan anaknya.
"Tapi rupanya jatuh bapak itu ke dalam air, hanyut. Nggak tahu (kondisinya sekarang), nggak kenal, jumpa-jumpa di atap. Dia orang mana nggak tahu, nggak kenal," lanjutnya.
Baca selengkapnya di sini.
(des/des)