Untuk kesekian kalinya warga ujung perbatasan Kalimantan Utara meminta perhatian pemerintah. Sudah sejak lama desa di Kabupaten Malinau hanya dapat dijangkau menggunakan perahu longboat, melewati Sungai Kayan dan Sungai Bahau yang arusnya deras.
Di Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau misalnya, menyimpan cerita pilu tentang keterbatasan akses dan fasilitas. Pada Selasa (23/12/2025) lalu, sebuah kecelakaan menghancurkan satu unit longboat di Jeram Baru, Sungai Bahau.
Sebuah kapal pengangkut logistik hancur berkeping-keping setelah gagal menanjak jeram. Meski 9 ABK selamat, kerugian materiil mencapai ratusan juta rupiah akibat 6 mesin dan 1 motor raib ditelan sungai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga pun kembali menagih janji pembangunan jalur darat agar tak lagi harus bertaruh nyawa di derasnya arus sungai. Kreator konten lokal, Roni Manan yang lebih dikenal dengan nama Anak Alam Ujung Negeri, kembali menyuarakan isi hati warga kampungnya.
"Harapan kami kepada pemerintah, tolong jalur darat dari Malinau ke Bahau Hulu dan Pujungan dilanjutkan. Kami ingin berhenti lewat jalur sungai ini," cerita Roni Manan pada detikKalimantan, Senin (5/1/2026).
Warga Malinau Minta Tolong, Ingin Pemerintah Buatkan Jalur Darat. (Dokumentasi pribadi Roni Manan) |
Bagi warga Bahau Hulu dan sekitarnya, kecelakaan sungai bukanlah hal baru. Roni pun membeberkan catatan kecelakaan di jalur Sungai Bahau tahun 2025. Pada 23 Desember 2025, 1 perahu karam total di Jeram Baru, 2 perahu lainnya nyaris tenggelam.
"Di tahun 2025, terjadi 2 kecelakaan besar di Jeram Lembu dan Jeram Baru dengan kondisi barang ludes. Kondisi ekstrem ini sudah terjadi puluhan tahun dan tak terhitung jumlah nyawa dan harta benda yang hilang di jeram-jeram ganas Sungai Bahau," katanya.
Roni menyebut masyarakat sudah bosan dengan kondisi yang seolah dianggap sepele oleh pemerintah. Menurutnya, kondisi alam sungai tidak mungkin diubah, sehingga satu-satunya solusi adalah akses darat.
"Pemerintah sudah tahu ini sejak dulu. Tapi kondisi alam memang begitu, tidak bisa diapa-apakan. Solusinya hanya satu yakni jalan darat," harap dia.
Saat ini, warga yang hendak membawa kebutuhan pokok harus melansir barang di tengah jeram yang berbahaya. Jika mesin mati sedikit saja, taruhannya adalah nyawa dan hilangnya seluruh harta benda.
"Kami berharap di awal 2026 ini, pemerintah pusat maupun daerah memberikan kepastian soal kelanjutan proyek jalan Malinau-Bahau Hulu-Pujungan. Mereka ingin akses yang lebih manusiawi, aman, dan murah. Kami sangat sedih melihat kejadian seperti ini terus menghantui setiap kali kami melakukan perjalanan," doa Roni.
(aau/aau)
