Biduan Joget di Panggung Isra Mikraj, Waka Komisi VIII DPR: Itu Tak Sepele

Biduan Joget di Panggung Isra Mikraj, Waka Komisi VIII DPR: Itu Tak Sepele

Isal Mawardi - detikKalimantan
Senin, 19 Jan 2026 09:37 WIB
Ketum DPP PINSAR, Singgih Januratmoko.
Waka Komisi VIII DPR Singgih Januratmoko/Foto: Dok. Istimewa
Balikpapan -

Waka Komisi VIII DPR Singgih Januratmoko menilai aksi biduan di panggung peringatan Isra Mikraj di Banyuwangi, Jawa Timur, bukan masalah sepele. Walau panitia acara mengatakan acara hiburan digelar setelah acara Isra Mikraj selesai.

"Polemik penampilan biduan yang berjoget di panggung peringatan Isra Mikraj di Banyuwangi tidak boleh dipandang sebagai persoalan sepele atau sekadar kesalahpahaman teknis panitia," kata Singgih kepada wartawan, Senin (19/1/2025).

Singgih menyebut aksi itu menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yakni cara masyarakat menjaga kesakralan ajaran agama sekaligus merawat sensitivitas sosial dalam kehidupan berbangsa. Menurutnya, Isra Mikraj adalah peristiwa suci yang menegaskan kedudukan salat, akhlak, dan ketaatan kepada Allah SWT. Peringatannya bukan sekadar agenda rutin, tetapi momentum edukasi spiritual bagi umat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maka dari itu, setiap aktivitas yang melekat pada peringatan Isra Mikraj, kata Singgih, harus mencerminkan nilai adab, kepantasan, dan penghormatan terhadap simbol-simbol agama. "Dalih bahwa hiburan tersebut dilakukan setelah acara inti selesai tidak serta-merta menghapus persoalan. Dalam perspektif keagamaan, ruang, simbol, dan konteks memiliki makna yang tidak terpisahkan," tuturnya.

Menurutnya, ketika hiburan yang tidak selaras dengan nilai kesopanan Islami dilakukan di atas panggung, dekorasi, dan ruang yang sama dengan acara keagamaan, maka batas sakral dan profan menjadi kabur. Hal ini lah, kata Singgih, yang menimbulkan kegelisahan umat.

"Peristiwa ini menunjukkan lemahnya sensitivitas sosial dalam membaca realitas masyarakat Indonesia yang religius dan majemuk," imbuhnya.

Terlebih di era media sosial, terangnya, setiap tindakan di ruang publik memiliki konsekuensi sosial yang luas. Ia mengatakan 'hiburan internal' tidak lagi bersifat privat ketika direkam dan disebarluaskan.

"Saya memandang peristiwa ini sebagai peringatan serius. Panitia, tokoh agama, dan masyarakat perlu meningkatkan literasi keagamaan sekaligus kepekaan sosial. Acara keagamaan tidak boleh direduksi menjadi formalitas seremonial yang kehilangan ruh dan adabnya," lanjut Singgih.

Singgih mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan peristiwa ini sebagai refleksi kolektif. Menyelenggarakan acara keagamaan berarti memikul tanggung jawab moral, bukan hanya administratif.

"Kehati-hatian dalam memilih pengisi acara, bentuk hiburan, dan tata kelola kegiatan adalah bagian dari menjaga martabat agama sekaligus merawat harmoni sosial," jelasnya.

Panitia Buka Suara

Ketua panitia Isra Mikraj Desa Parangharjo, Hadiyanto, mengakui adanya hiburan itu. Ia menegaskan bahwa aksi itu dilakukan setelah acara inti selesai.

"Hiburan yang menghadirkan biduan pada acara Isra Mikraj tersebut memang benar adanya. Akan tetapi, hiburan tersebut digelar setelah acara usai dan seluruh undangan serta kiai sudah tidak ada di tempat," ujar Hadiyanto, dilansir detikJatim, Sabtu (17/1/2026).

Hadiyanto juga menambahkan hiburan tersebut merupakan inisiatif spontan untuk internal panitia. Atas kegaduhan yang terjadi, pihak panitia telah menyampaikan permohonan maaf melalui video klarifikasi di Polsek Songgon pada Jumat (16/1) malam.

Artikel ini sebelumnya tayang di detikNews dengan judul Waka Komisi VIII DPR: Biduan di Panggung Isra Mikraj Bukan Masalah Sepele.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Detik-detik Marco Bezzecchi Crash di MotoGP Belanda 2026"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads