Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji menyoroti insiden kapal ponton bermuatan batu bara yang menabrak Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) di Samarinda pada Minggu (25/1) pagi. Ia menegaskan pihak penabrak harus bertanggung jawab penuh atas insiden yang menurut Seno terjadi di luar jam operasional kapal tongkang seharusnya.
Ditemui di acara GP Ansor di Samarinda pada Minggu (25/1/2026) sore, Seno Aji mengatakan pihaknya akan meminta Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda dan Pelindo untuk menghitung total kerusakan dan memastikan adanya ganti rugi.
"Kita harus minta ganti rugi kepada penabrak. Apapun risikonya, itu harus dilakukan," tegasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seno menambahkan, sebelumnya pihaknya telah menggelar rapat koordinasi dengan KSOP terkait lalu lintas kapal tongkang di Sungai Mahakam. Namun, hasil rapat tersebut belum ditindaklanjuti secara maksimal.
Seno belum memastikan detail dampak kerusakan pada jembatan akibat insiden ini. Sejauh ini, dari laporan yang diterimanya, sejumlah pilar jembatan mengalami goresan. Apabila ternyata ada kerusakan yang lebih serius, tidak menutup kemungkinan jembatan akan ditutup sementara demi keselamatan pengguna jalan.
"Kita akan segera lakukan rapat terbatas lagi. Kalau hasil investigasi PUPR nanti tidak baik, maka jembatan harus kita tutup sementara," tegasnya.
Menurut Seno, insiden ini bukan pertama kali terjadi pada Jembatan Mahulu. Menurutnya, kejadian semacam ini tidak bisa lagi ditoleransi karena menyangkut keselamatan dan kelancaran ekonomi daerah.
"Ini tidak bisa kita maafkan begitu saja. Ini masalah sangat serius bagi Kalimantan Timur. Jembatan Mahulu ini tulang punggung perekonomian dan logistik kita," tegasnya.
Pemprov Kaltim juga telah beberapa kali menyurati pemerintah pusat terkait insiden berulang ini. Seno menyebut Gubernur Kaltim sudah melayangkan surat ke Kementerian Perhubungan hingga tiga kali.
"Kita minta Kemenhub betul-betul memperhatikan karena jembatan ini aset pemerintah provinsi, dibangun dari uang rakyat," katanya.
Selain itu, Pemprov Kaltim mendorong agar kewenangan pengelolaan Sungai Mahakam dialihkan ke pemerintah provinsi. Diketahui hingga kini Sungai Mahakam masih berada di bawah kewenangan pemerintah pusat.
"Mahakam ini punya potensi besar untuk PAD, tapi selama puluhan tahun kita tidak menikmati apa-apa," pungkas Seno.
Sebelumnya diberitakan, sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara menabrak Jembatan Mahulu. Insiden terjadi pada pukul 05.10 Wita. Menurut Nakhoda Kapal Patroli KSOP Samarinda KN 373, Galang Nuswantoro, awalnya TB Atlantic Star 23 yang menggandeng tongkang melakukan pergerakan memutar.
"Namun dalam pergerakan tersebut, tongkang menabrak buit tambatan yang di lokasi terdapat TB Karya Star dan TB Marina dengan jarak sekitar 2.700 sampai 2.800 meter dari Jembatan Mahakam Hulu. Akibatnya tali tambat putus," ujar Galang, Minggu (25/1/2026).
Putusnya tali tambat itu menyebabkan TB Karya Star dan TB Marina hanyut terbawa arus ke arah hilir Sungai Mahakam. Bahkan, tali second towing dari TB Marina 1631 juga dilaporkan putus, sehingga tongkang BG Marine Power 3066 hanyut dan sempat menempel pada safety fender Jembatan Mahakam Hulu.
Usai menerima laporan, pihak KSOP Samarinda langsung bergerak menuju TB Marina untuk melakukan pengambilan data dan meminta keterangan dari kapten kapal yang terlibat. Evakuasi dinyatakan selesai sekitar pukul 08.00 Wita, dan BG Marine Power 3066 kemudian ditarik ke lokasi yang aman.
Simak Video "Video Kronologi 3 Pekerja Tewas di Tongkang, Diduga Keracunan Gas"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
