Pelajaran dari Meninggalnya Siswi MTs di Pontianak dengan Cara Gantung Diri

Round Up

Pelajaran dari Meninggalnya Siswi MTs di Pontianak dengan Cara Gantung Diri

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Kamis, 29 Jan 2026 07:03 WIB
Pertemuan di Kantor Kemenag Pontianak, usai siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Pontianak tewas gantung diri. (Istimewa)
Foto: Pertemuan di Kantor Kemenag Pontianak, usai siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Pontianak tewas gantung diri. (Istimewa)
Pontianak -

Informasi berikut ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapapun melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Dunia pendidikan di Pontianak berduka. Seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Pontianak berusia 13 tahun meninggal dengan cara gantung diri. Sempat muncul dugaan bullying, yang kemudian ditepis oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pontianak.

Sebelum meninggal, korban sempat menuliskan surat terakhir yang ditujukan kepada ibunya. Dari situ, terungkap duduk perkara yang membuat siswi tersebut nekat mengakhiri hidup. Yakni karena rasa malu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut fakta-fakta yang diketahui sejauh ini dari peristiwa pilu tersebut, dirangkum detikKalimantan.

Awal Mula Penemuan Korban

Korban pertama kali ditemukan meninggal tergantung pada Kamis (22/1/2026) sekitar pukul 03.00 WIB. Kakak laki-lakinya, R (19), pertama kali menemukan korban di rumah mereka, di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

"Benar adanya. Untuk kejadiannya pada hari Kamis tanggal 22 Januari di rumah korban," jelas Kapolsek Sungai Kakap Ipda Dolas Zimmi Saputra Nainggolan, Selasa (27/1/2026).

Kanit Reskrim Polsek Sungai Kakap Ipda Adrianus Ari juga menceritakan kronologi penemuan korban. R kakak korban baru tiba di rumah selepas kerja pada subuh itu. Begitu masuk rumah, R langsung disambut pemandangan adiknya tergantung di pintu kamar.

"R langsung membangunkan ibunya. Kemudian berinisiatif langsung membuka tali yang digunakan oleh korban untuk gantung diri serta menurunkan korban," cerita Ari.

Penemuan itu juga langsung dilaporkan ke polisi. Personel segera turun melakukan olah TKP dan memeriksa saksi-saksi, termasuk R dan ibu mereka M (41). Sedangkan ayah korban tengah bekerja di Ketapang.

"Pukul 07.00 pagi Kamis itu personel identifikasi Polres Kubu Raya bersama Polsek Sungai Kakap tiba di lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan melakukan pemotretan," ungkap Ari.

Surat Terakhir dan Gelagat Aneh Korban

Di TKP, petugas juga menemukan surat yang diduga kuat ditulis oleh korban sebelum meninggal.

"Dalam surat itu intinya korban malu untuk datang ke sekolah. Korban minta maaf ke keluarga atas keputusan yang diambil dan minta dimakamkan dengan layak serta jangan libatkan kepolisian," ujar Ari.

Penemuan surat itu didukung dengan keterangan dari ibu korban. M mengatakan putrinya itu sempat tidur bersamanya beberapa jam sebelum kejadian. Tepatnya pada Rabu (21/1/2026) pukul 20.00 WIB. Menurut pengakuan M, saat itu wajah anaknya terlihat lesu.

"Ibu korban melihat raut wajah korban seperti tidak semangat dan kemudian ibu korban menanyakan kepada korban ada apa sehingga nampak murung," jelas Ari.

Korban kemudian bercerita tentang masalahnya di sekolah sampai dipanggil oleh guru. Hal itu membuatnya enggan pergi sekolah dan menghadapi teman-teman serta gurunya. Mendengar cerita itu, ibu korban memberikan saran dan anaknya pun pergi tidur karena besok harus sekolah.

"Ibu korban menyarankan agar korban besoknya selesaikan masalah di sekolah. Setelah selesai membahas penyebab korban murung, keduanya tidur," lanjutnya.

Dugaan Bullying dan Klarifikasi Kemenag Pontianak

Keberadaan surat terakhir korban itu sempat memunculkan dugaan bahwa siswi tersebut di-bully. Namun, pihak Kemenag Pontianak mengatakan kasus ini telah ditangani oleh pihak MTs dan tidak terdapat unsur bullying.

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) Kantor Kemenag Kota Pontianak, Aris Sujarwono, mengatakan pihak keluarga korban telah dipertemukan dengan pihak madrasah pada Selasa (27/1/2026). Dari situ, diketahui bahwa siswi tersebut memang sempat dipanggil guru MTs sehari sebelum ia gantung diri.

Menurut Aris, masalah bermula saat ada kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di MTs tersebut pada Sabtu (17/1/2026). Ruang kelas ditinggalkan kosong oleh para murid. Setelah kegiatan selesai, salah satu murid menyadari uangnya sebesar Rp 200 ribu hilang.

Pihak MTs pun mengecek CCTV pada Selasa (20/1/2026) untuk mengetahui kejadian tersebut. Dalam rekaman, terlihat korban masuk ke dalam kelas kosong.

"Almarhumah pada saat waktu kosong tersebut, saya tidak mengatakan ini sebagai kesalahan. Mungkin niatnya meminjam uang tanpa sempat memberitahu. Potongan video yang sempat beredar itu untuk mencari siapa orangnya, tanpa menyebutkan ini almarhumah," jelas Aris.

Setelah mengetahui hal tersebut, pihak MTs melakukan pendekatan persuasif kepada siswi yang bersangkutan. Awalnya wali kelas memanggil seluruh peserta PMR yang hadir pada hari kejadian. Dalam kesempatan itulah, siswi tersebut akhirnya mengakui perbuatannya.

"Wali kelasnya, Pak Daeng Bustami, bertanya ke almarhumah. Kenapa melakukan ini? Katanya ada keperluan sesuatu," cerita Aris.

Ingin Beli Hadiah untuk Ibu

Keperluan yang dimaksud ternyata adalah untuk membelikan sesuatu bagi ibunya. Aris pun menegaskan bahwa kemungkinan korban hanya ingin meminjam uang, tetapi tidak bilang kepada temannya. Ia pun mengaku sedih mendengar alasan tersebut.

"Kalau boleh saya sampaikan, almarhumah ingin membelikan kado untuk ibunya. Sedih saya mendengarnya," ujar Aris.

Setelah mendengar penjelasan itu, lanjut Aris, pihak madrasah sebenarnya menganggap permasalahan ini selesai. Bahkan korban disebut sudah berinteraksi seperti biasa lagi dengan teman-temannya setelah kejadian itu. Tidak ada unsur bullying seperti kabar beredar.

"Tidak ada kata-kata kasar atau tekanan, hanya bahasa sehari-hari anak-anak Gen Z di Pontianak. Seperti: ngape kau ambek, kan bise kau cicil pakai duit jajan. Terus, tidak ada bahasa: kau curi keh? Begitulah kira-kira," kata Aris.

Namun pada akhirnya, korban memilih mengakhiri hidup. Aris mengatakan surat terakhir itu dibuat korban dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan. Pihak keluarga juga telah mengakui tidak ada unsur perundungan dalam peristiwa ini. Namun demikian, Aris berharap kejadian ini bisa menjadi pembelajaran dan evaluasi dunia pendidikan ke depannya.

"Kesimpulan kami, kejadian ini adalah murni didorong oleh rasa malu secara pribadi, bukan akibat perundungan. Ke depan, kami ingin menjadikan peristiwa ini sebagai edukasi, agar kejadian serupa tidak terulang kembali," pungkasnya.

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Video: Pelajar SMA di Probolinggo Ditemukan Tewas Diduga Gantung Diri"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads